
¤¤¤¤
Denia menggenggam lengan Andrian dan melangkahkan kaki bersama masuk ke dalam gedung makau. Senyum manis nan mempesona, ekspresi wajah yang begitu memperlihatkan kecantikan dan ketegasan.
Banyak sekali orang yang berkumpul di dalam gedung itu. Orang-orang penting dengan kekayaan yang berlimpah, mereka datang untuk bertaruh harta dan memamerkan pada dunia kalau mereka lah raja terhebat dan terkaya yang mampu membeli semuanya dengan uang yang mereka miliki.
Memikirkan orang kecil yang tak punya tidak ada di dalam kamus kehidupan mereka. Kartu mulai dikocok dan uang yang mereka miliki mereka hamburkan di atas meja besar itu hanya untuk bersenang-senang.
Tak,,,
Andrian menjentikkan jarinya dan menunjuk ke arah lelaki paruh baya difoto yang ditunjukan oleh Darren. Lelaki yang sedang bermain judi dengan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik dan seksi.
Denia melihat ke arah yang ditunjuk Andrian dan ia tersenyum nakal,"tentu saja ini adalah keahlianku, tuan benar-benar pintar,"ucap Denia.
Denia masih menggandeng tangan Andrian dan menariknya ke tempat para orang-orang yang duduk pada meja judi yang berada disamping target mereka.
"Bukan Denia kalau tidak bisa menarik perhatian nya,"bisiknya.
Andrian tak mengerti apa maksud dari perkataan Denia dan ia tak tau apa yang sedang Denia rencanakan sekarang.
"Apa kita gak salah meja?"tanya Andrian yang mulai penasaran dengan rencana Denia.
"Tentu saja tidak, kamu cukup menjadi asistenku saja dan jangan banyak tanya, oke!!"
Denia duduk di meja judi untuk 5 orang tapi hanya terdapat 4 orang dengan 1 kursi kosong. Dengan senyum mempesonanya ia menggeser kursi dan disambut dengan mata-mata tajam yang siap menerkamnya. Para lelaki hidung belang yang siap menggoda Denia, karena kecantikannya yang begitu membuat mereka tertarik.
"Wah, senang juga ada hiburan,"ucap salah seorang pria tua di antara mereka.
"Ingin bermain?"tanya orang yang duduk disampingnya Denia, sembari tangannya memegang punggung tangan Denia. Andrian tidak senang melihat itu.
Tak...
Denia memukul tangan laki-laki itu dengan pukulan menggoda. Lelaki itu tidak marah melainkan semakin tergoda dengan pukulan Denia.
"Tentu saja, aku ingin main."Denia terus menggoda mereka dengan trik pintarnya.
__ADS_1
"Oke, jangan menyesal yaa kalau malam ini kamu tidak bisa kabur dari kami,"
Huft, dasar!! lelaki hidung belang!! Lihat yang cantik, seksi begini mana bisa tahan. Kalau bukan karena misi, sudah ku cacak habis mulut dan wajah yang menjijikan itu, umpat Andrian di dalam hatinya.
Kartu mulai di kocok dan uang pun mulai dipertaruhkan. 1 juta, 2 juta, 3 juta, dan seterusnya.
¤¤¤
Darren melupakan sesuatu yang penting untuk rapat pagi ini. Karena pikiran kacaunya pagi ini membuat dirinya lupa membawa berkas penting di laci ruang kerjanya.
Darren menelpon ke rumah dan meminta bi Ijah untuk mengambil berkas di ruang kerjanya.
Zara yang sedang membaca buku di ruang tamu mendengar percakapan bi Ijah yang sedang menerima telpon Darren.
Zara menghampiri bi Ijah,"kenapa bi?"
"Itu non, tuan lupa bawa berkas buat rapat hari ini, bibi di suruh ngambilin. Ntar ada kurir yang ambil ke rumah,"jelas bi Ijah.
"Owh, biar aku aja bi yang ambil. Berkasnya di taruh mana?"
"Oke,"jawab Zara singkat.
Zara ke ruang kerja Darren sambil membawa gelas berisi air minum di tangan kanannya.
Zara mengambil kunci di bawah pot bunga yang ada di kamar Darren. Zara menaruh gelas di tangannya ke meja kerja sebelum ia membuka lacinya.
Zara membuka laci meja dan mencari amplop besar berisi berkas yang diminta Darren.
Amplop warna coklat dengan stempel nama perusahaan Darren. Berkas di laci meja itu begitu banyak sehingga membuat Zara harus mengeluarkan berkas paling atas.
Karena kurang hati-hati membuat Zara tidak sengaja menyenggol gelas yang ia taruh di pinggir meja kerja itu.
Tes..tes..
Air minum yang terisi penuh di gelas itu tumpah ke berkas yang ada di dalam laci itu. Zara terkejut dan takut.
__ADS_1
"Oh tidak!! Berkasnya?"
Zara dengan segera mengeluarkan 2 amplop besar yang tersisa di laci di laci itu yang airnya mulai merambas ke kertas amplop yang berisi surat-surat penting.
Zara panik, dan ia membuka amplop berisi berkas itu untuk memeriksa kertas di dalam nya. Memastikan kalau kertas didalamnya tidak basah karena air.
Zara memukul-mukul kepalanya karena sangat teledor,"huh, bodoh! Bodoh!"
Sret...
Zara membuka amplop yang diminta Darren, ia mengeluarkan berkasnya dan memeriksa kertas itu. Untungnya kertas itu tidak basah dan masih bisa di selamatkan.
Dan Zara membuka Amplop satu lagi yang juga ada di laci saat air di gelas itu tumpah.
Pluk..
Ada kertas foto yang keluar dari amplop itu saat Zara mengeluarkan kertas di dalam amplop tersebut. Foto itu jatuh kelantai.
Orang-orang di foto itu menarik perhatiannya. Ada foto ibu dan ayahnya sedang menggendong dirinya waktu bayi dan juga foto ayahnya bersama laki-laki dan perempuan yang terlihat lebih tua dari ayahnya.
Zara mengambil foto itu dan memperhatikan nya,"kenapa Darren bisa punya foto keluarga aku?"
Zara membaca kertas yang ia keluarkan dari amplop yang berisi foto keluarganya. Kertas laporan mengenai tes DNA Zara dan ayahnya.
"Probabilitas Gunawan Adijaksa Putra sebagai ayah kandung dari Firanda Azzara adalah 99%."
"Tes DNA aku sama ayah? Kenapa Darren melakukan tes DNA padaku?"
Zara menatap foto ayahnya bersama 2 orang disamping. Wajah lelaki disamping ayahnya mirip dengan wajah ayahnya.
"Selama ini aku tidak pernah bertemu dengan nenek dan kakekku, bahkan ibu dan ayah tidak pernah menceritakan soal mereka,"ungkap Zara.
Zara sangat senang bisa melihat foto ayahnya. Ia mengambil gambar 2 foto itu dengan hpnya untuk menghibur dirinya saat Zara merindukan ayahnya.
Zara memasukan kembali foto dan berkas itu kedalam amplop setelah memastikan kalau airnya tidak sampai membasahi kertas di dalam amplop tersebut.
__ADS_1
Kurir suruhan Darren sampai di rumahnya. Zara langsung memberikan berkas yang yang diminta Darren ke kurir itu.