Dia Bukan Perempuan Biasa

Dia Bukan Perempuan Biasa
Bab 20


__ADS_3

Jhonson dan Elin tiba di salah satu mall terbesar di kota itu. Elin mengajak Jhonson memasuki setiap toko yang ada di mall itu kemudian keluar begitu saja tanpa membeli sesuatu dari toko itu.


"Sebenarnya apa yang kamu cari?" tanya Jhonson kepada Elin


"Sudah berapa toko yang kita masuki tapi tak ada satu pun barang yang kamu beli." lanjutnya lagi.


"Tidak ada." jawab Elin dengan entengnya.


"Apa?............." teriak Jhonson


"Percuma dong kita keluar masuk dari toko yang satu ke toko yang lain, kamu hanya membuang waktu berhargaku saja Elin." nada bicara Jhonson sudah mulai meninggi karena Jhonson mulai lelah dengan tingkah Elin.


Dia merasa apa yang dilakukan Elin saat ini tidak masuk akal dan tidak ada gunanya.


Elin pun hanya tersenyum dan melanjutkan kembali langkahnya.


"Elin.....ayolah,aku sudah lelah dan kakiku rasanya mau patah." rayu Jhonson.


"Katanya kamu mau menemaniku,kenapa sekarang protes?"kata Elin sambil melanjutkan langkahnya menyusuri setiap sudut mall itu.


"Jika kamu tidak sanggup, kamu bisa pulang duluan Tuan Jhonson."lanjutnya lagi


"Aku mengerti karena kamu sudah tua sehingga staminamu sudah berkurang." ejek Elin.


"kamu............" kata Jhonson dan mengejar Elin yang sudah lari duluan dan terjadilah aksi kejar - kejaran diantara mereka.

__ADS_1


Mereka tidak memperdulikan orang - orang yang ada disekitar mereka yang melihat mereka seperti anak kecil.


"Hap......." Jhonson menangkap tangan Elin.


"Akhirnya,kamu tak bisa lari lagi." kata Jhonson.


"hehehehehehe.... maafkan aku."kata Elin dan berusaha melepaskan genggaman Jhonson dari pergelangannya.


"Katanya kamu lelah,ayo temani aku makan ice cream."lanjut Elin lagi.


"Baiklah....." kata Jhonson menuruti keinginan sahabatnya dan sekaligus bosnya.


Mereka pun memasuki salah satu cafe yang ada di mall itu,setelah memesan ice cream rasa coklat ukuran jumbo untuk Elin dan Ice Mocca latte buat Jhonson mereka duduk di salah satu meja dan tak berapa lama pesanan mereka pun datang. Elin pun memakan ice creamnya dengan lahap dan dia hanya tersenyum melihat Elin yang memakan ice creamnya seperti anak kecil.


"Apa kamu sudah baikan?" tanya Jhonson ketika melihat ice cream Elin hampir habis.


"Sudah lumayan." jawab Elin yang masih fokis dengan ice creamnya.


"Apa aku bisa mengaktifkan ponselku?siapa tahu ada hal penting." pinta Jhonson


"Silahkan." jawab Elin.


Jhonson pun langsung mengambil ponselnya dan langsung mengaktifkannya. Banyak notifikasi yang masuk namun laporan yang di tunggu - tunggunya dari Tristan belum ada padahal sudah lebih dari satu jam.


(" Bagaimana,apa hasilnya sudah ada?") Jhonson mengirim pesan kepada Tristan.

__ADS_1


"Ting........."


("Maaf Tuan, para penculiknya belum mau buka mulut") balas tristan.


"Shit.........."umpat Jhonson


"Kamu kenapa?" tanya Elin...


"Dasar tak becus,masa sampai saat ini mereka belum tahu siapa dalang dari rencan penculikanmu." jawab Jhonson sedikit kesal.


"Percuma orang - orang terbaik dan digaji dengan tinggi, menghadapi orang - orang. seperti itu pun tidak bisa." lanjutnya lagi.


"Kamu tenanglah." kata Elin


"Apakah kamu mau bermain?" tanya Elin sambil tersenyum misterius.


Melihat senyum Elin yang seperti itu membuat Jhonson bergedik ngeri,dia tahu arti dari senyuman itu yang akan menjadi sebuah petaka bagi para penculik itu dan Jhonson pun menganggukkan kepalanya tanda dia setuju.


"Ok..... kalau begitu mari kita pergi." ajak Elin.


Mereka pun pergi meninggalkan mall itu menuju markas RAD.


Tempat dimana para penculik itu ditahan dan tak lupa Jhonson mengirimkan pesan kepada Raja bahwa mereka sudah meninggalkan mall dan saat ini sedang menuju markas RAD karena Raja meminta Jhonson melaporkan setiap kegiatan Elin dan Keberadaan mereka dan tak lupa dia memberitahukan bahwa para penculik yang ingin menculik Elin ada di markas RAD.


Ketika mengetahui hal itu Raja pun bergegas pergi ke markas RAD juga.

__ADS_1


__ADS_2