Dia Bukan Perempuan Biasa

Dia Bukan Perempuan Biasa
Bab 28


__ADS_3

Panti Asuhan Mutiara.......


Sesampainya di Panti Asuhan Mutiara, Bryan membukakan pintu mobil untuk Elin.


Elin pun memasuki Panti Asuhan Mutiara diikuti oleh Bryan.


Banyak orang yang datang ke acara syukuran itu termasuk para donatur panti asuhan tersebut dan salah satunya adalah Elin, penyumbang terbesar untuk Panti Asuhan Mutiara namun dia tak ingin menampakan diri di khalayak ramai.


Elin dan Bryan duduk di kursi paling belakang karena tidak ingin menjadi perhatian bagi orang-orang.


Setelah acara selesai Elin menghampiri kepala pengurus Panti Asuhan Mutiara untuk berpamitan pulang dan dari kejauhan ada sepasang mata yang selalu memperhatikan gerak-gerik Elin, Bryan pun menyadari itu semua.


Dan ketika mereka meninggalkan Panti Asuhan itu ada mobil yang mengikuti mereka.


"Kapten,sepertinya ada yang mengikuti kita." kata Bryan kepada Elin yang sedang fokus dengan beberapa berkas didepannya.


Elin pun menoleh kebelakang.


"Coba kamu bawa ke jalanan yang sepi." perintah Elin dan sambil melanjutkan kegiatannya.


" Baik Kapten." kata Bryan dan mulai menuju ke arah jalanan sepi.


"Mobil itu masih tetap mengikuti Kapten." kata Bryan yang terus memperhatikan mobil yang mengikuti mereka dari kaca spion depan.


"Berhenti." perintah Elin dan Bryan pun menginjak rem kemudian mobil itu berhenti dan tidak jauh dari mereka mobil yang mengikuti mereka ikut berhenti juga.


Elin pun membuka pintu mobil dan keluar, pergi menghampiri mobil yang mengikuti mereka.


Dia mengetuk pintu kaca mobil itu dengan pelan.


"Keluar." kata Elin dengan nada yang dingin.


Pemilik mobil itu pun menurunkan kaca mobilnya dan Elin sangat kaget ketika mengetahui siapa yang mengikutinya.


" Tuan Allen." kata Elin

__ADS_1


Allen pun hanya tersenyum.


"Kenapa Anda mengikuti saya?" tanya Elin heran.


"Tidak kenapa, saya hanya penasaran saja apa betul Anda asisten Tuan Jhonson dan ternyata memang Anda asisten Elin." jawab Allen


" Apa ada hal lain yang ingin Tuan sampaikan?" tanya Elin dan tersenyum sangat manis sehingga membuat Allen begitu terpesona.


" Tidak ada,sampaikan saja salamku kepada Tuan Jhonson dan permisi saya harus pergi karena ada urusan yang sangat penting." kata Allen.


"Baiklah, sampai berjumpa di lain waktu Tuan." kata Elin dan pergi meninggalkan Allen.


Di dalam mobil......


"Sepertinya sudah waktunya bertemu dengan pria itu,kita ke restaurant Bry." kata Elin kepada Bryan.


" Baik, Kapten." kata Bryan dan melajukan mobil itu ke Restaurant .


Sesampainya di depan pintu restaurant Elin sibuk dengan ponselnya dan tidak sengaja menabrak seseorang.


"Tuan Allen." panggil Elin ketika mengetahui yang ditabraknya adalah Allen.


"Kita ketemu lagi Nona Elin." kata Allen dan tersenyum.


"Maafkan saya Tuan Allen, saya tidak sengaja." kata Elin dengan wajah yang memelas.


"Ishhhh....lucunya." kata Allen dalam hati.


" Tidak apa-apa nona, saya juga sedang terburu-buru sehingga tidak melihat Anda juga." kata Allen.


"Sedang apa nona disini?" tanya Allen sambil memasuki restaurant itu bersama Elin.


"Saya ada janji dengan seseorang Tuan."


"Kalau Tuan?" Elin kembali bertanya.

__ADS_1


"Saya juga ada janji dengan seseorang." jawab Allen


Mereka pun kembali melanjutkan langkah mereka ke arah yang sama, ke meja yang sudah dipesan oleh Bunda Aleeya terlebih dahulu.


"Kenapa tuan mengikuti saya?" tanya Elin sedikit heran.


" Saya ada janji dengan seseorang di meja ini." jawab Allen yang juga merasa kebingungan.


"Berarti tuan......." omongan Elin terpotong.


"Kamu Radea Anjelin?" tanya Allen


"Saya Gallen Julian Pratama." kata Allen sebelum Elin menjawab pertanyaan Allen.


"Bodohnya diriku, kenapa aku tak menanyakan namanya kepada bunda dulu." kata Elin dalam hati


"Ya, nama saya Radea Anjelin." jawab Elin


Allen tersenyum dan langsung mempersilahkan Elin duduk.


"Silahkan nona Elin." sambil menarik salah satu kursi dan Elin pun duduk.


Mereka memesan beberapa makanan dan sambil berbincang dan sepertinya ada perasaan nyaman yang dirasakan oleh Allen sementara Elin biasa saja.


"Maaf Allen, sepertinya saya harus segera pergi." kata Elin yang kini memanggil dengan nama saja karena permintaan Allen.


"Kamu sedang sibuk?" tanya Allen


" Ia, kamu tahu pekerjaanku seperti apa yang hanya sorang asisten." jawab Elin


"Baiklah, apa dilain waktu kita bisa bertemu lagi?" kata Allen yang tidak rela dengan kepergian Elin.


"Tentu." kata Elin.


"Kalau begitu sampai bertemu dilain waktu Elin." kata Allen

__ADS_1


"Sampai bertemu." balas Elin dan sambil pergi meninggalkan Allen.


__ADS_2