
Di kantor Intelijen Rahasia Negara X.
Elin dan Bryan saat ini sedang melaporkan hasil misi mereka dan tidak ada yang tahu bahwa Elin terluka dia menahan luka tembak yang ada di lengan dan setelah menyelesaikan laporannya dan misi kali ini berhasil tiba-tiba Elin terjatuh tak sadarkan diri.
"Kapten." teriak mereka bersama.
seketika ruangan itu dipenuhi aura kepanikan
Sam langsung menghampiri Elin.
Sam melihat ada luka tembak ditangan dan sudah mengeluarkan banyak darah.
"Elin,sejak kapan kamu terluka?" kata Sam sambil mengangkat Elin.
" Siapkan mobil." kata Sam
Elin dibawa menuju Rumah Sakit X dan Bryan menyabotase semua lampu lalu lintas agar tidak ada yang menghalangi laju mobil mereka.
Di depan Rumah Sakit X dokter Rafael dan beberapa perawat sudah menunggu mereka.
Sesampainya di rumah sakit para medis langsung mengambil alih Elin dari pelukan Sam.
"Aku mohon El, kamu harus menyelamatkan Elin." pinta Sam kepada dokter Rafael
"Kamu tenanglah, aku akan berusaha semampuku." kata dokter Rafael menenangkan Sam yang terlihat kacau sambil membawa masuk Elin ke ruang operasi.
Sam akan menjadi lemah dan kacau jika berkaitan dengan Elin, kewibawaannya dan ketegasannya akan menghilang begitu saja jika sudah melihat Elin tak berdaya seperti saat ini.Dia akan mengeluarkan air matanya dan tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.
"Ini semua salahku, jika aku tidak menyuruhnya untuk terlibat dengan kasus ini. Ini semua tidak akan terjadi." sesal Sam sambil terduduk di dinding dan mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
" Tenanglah Jenderal, Kapten Rade adalah wanita yang kuat dia pasti mampu melewati ini semua." kata Bryan menenangkan Sam walaupun sebenarnya dia juga merasa bersalah tidak bisa melindungi kapten sekaligus bosnya itu.
Sementara di Mansion Dinata.......
"Hua........................" Lio yang sedang bermain di taman di temani oleh Lia tiba2 menangis.
"Lio, kamu kenapa?" tanya Lia yang kebingungan
"Mama.......Mama.......Mama....." teriak Lia memanggil Safa.
Safa dan Bunda Aleeya yang sedang mengobrol segera memghampiri Lio dan Lia yang mendengar panggilan Lia.
"Ada apa sayang?" tanya Safa dan mulai panik melihat Lio menangis.
"Tiba-tiba saja Lio menangis." Lia langsung menjawab takut disalahkan menjadi penyebab Lio menangis.
"Bi Lin........." panggil Lio dan tangisnya semakin keras sehingga membuat Safa dan Bunda Aleeya semakin bingung.
"Apa terjadi sesuatu dengan Elin, kamu tahukan Safa ikatan batin antara Elin dan Lio sangat kuat dan sejak tadi perasaanku juga tidak enak." kata bunda Aleeya
"Diamlah Lio sayang, aku akan menelpon bi Lin mu." kata Safa dan tangisan Lio mulai mereda.
Safa mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Elin namun nomor Elin tidak aktif.
"Tidak Aktif bunda." kata Safa
"Coba nomor Sam." kata bunda Aleeya dan Safa pun mencari nomor Sam dan mulai menghubunginya, nadanya tersambung tetapi tidak diangkat karena ponsel Sam tertinggal di kantor.
"Tidak diangkat bunda." kata Safa
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanya Bunda Aleeya yang semakin khawatir dan gelisah.
Sementara Lio sudah tertidur dipelukan Safa karena kelelahan menangis.
Elin dan Lio sudah memiliki ikatan batin yang kuat sejak Lio berumur 2 tahun.
Lio juga lebih dekat dengan Elin dibandingkan dengan Safa karena jika mereka berlibur ke negara X dan mengunjungin Elin Lio akan selalu menempel dengan Elin bahkan jika Raja, Safa dan Lia kembali ke negara S Lio akan tinggal beberapa hari bahkan beberapa minggu bersama Elin dan sejak saat itulah ikatan batin mereka terjalin.
Kembali lagi ke Rumah Sakit.
Operasi Elin telah berhasil tetapi Elin masih koma, dokter Rafael pun keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana El?"tanya Sam yang langsung menghampiri dokter Rafael.
"Operasinya berhasil tapi...." kata Rafael dan agak enggan melanjutkan.
"Tapi apa?" bentak Sam
"Elin kritis dan jika dia belum sadar sampai besok itu akan bahaya bagi nyawanya dan kemungkinan besar koma." jelas dokter Rafael dan Sam hanya terdiam dan tidak percaya.
"Dan satu lagi karena tembakan itu mengenai pembuluh venanya dan luka tembakan yang lama belum sembuh total,Elin kehilangan banyak darah dan saraf tangannya rusak, Elin akan kesulitan menggerakkan tangannya sebelah kanan." lanjut Dokter Rafael
"Tidak mungkin." kata Sam dan terjatuh lemas
"Bagaimana aku menjelaskan kepada Bunda dan Raja, aku gagal melindungin Elin." lanjut Sam lagi.
"Ayolah Tuan Sam,ini sudah menjadi takdir, sekarang kita berdoa saja agar Elin melewati masa kritisnya."kata dokter Rafael.
"Kamu juga harus kuat dan tegar demi Elin." lanjut Dokter Rafael lagi.
__ADS_1
"Kamu betul,aku harus kuat dan aku yakin kamu pasti membantu aku untuk menyembuhkan lengan kanan Elin." kata Sam sambil berdiri menguatkan dirinya untuk menerima kenyataan ini dan memikirkan bagaimana caranya menjelaskan kepada Elin tentang keadaan lengannya Elin karena sebagai seorang Agen Rahasia bagaimana Elin menggunakan senjata tanpa lengannya sebelah kanan dan bagaimana cara Elin membela dirinya jika dia dalam keadaan bahaya karena sulit bagi Elin untuk bergerak jika lengannya sebelah kanan tidak dapat bergerak.