
Tok……Tok…. Tok…..
Setelah mengetuk dan tidak ada jawaban dari dalam ruangan,
dokter Rafael pun membuka pintu dengan perlahan dan memasuki ruang rawat Elin.
“Waktunya pemeriksaan pasien.” Teriak Rafael tanpa
menghiraukan dua manusia yang sedang berada di ruangan itu.
“Bugh…………….” sebuah bantal melayang dan mendarat tepat
diwajah Rafael dan pelakunya adalah
Elin.
Dia reflek melempar bantal, setelah sadar yang datang adalah Rafael.
“Augh…….. cewe koq kasar, kasihan wajah gantengku.” kata
Rafael sambil menghampiri Elin dan meletakkan kembali bantal di ranjang rawat
Elin.
“Kamu bikin jantung aku mau copot, aku pikir siapa.” Kata
Elin sedikit kesal.
“Santai aja bos, kan wajar seorang dokter mengunjungi
pasiennya dan…….” Rafael menjeda sebentar ucapannya dan menarik napas.
“Sampai kapan kamu akan menginap disini, kasian pasien lain tak kebagian
ruangan gara-gara kamu.” Canda Rafael sambil mengacak rambut Elin.
“Isshhhh………berantakan tahu.” Kata Elin sambil menepis tangan
Rafael agar berhenti mengacak rambutnya.
“Terserah akulah, inikan Rumah Sakitku.”
“Lagian, kamar ini dikhususkan buat aku saja.” Lanjutnya lagi sambil mendorong
Rafael agar menjauh darinya.
“Emmm….. bos mah bebas.” Kata Rafael dengan malas karena tak
ingin melanjutkan perdebatannya dengan Elin karena dia tahu Elin yang pasti
menang dan pergi menghampiri Jhonson yang sedang sibuk mengecek laporan
perusahaan diponselnya.
“Sepertinya kamu sedang sibuk?” kata Rafael kemudian
__ADS_1
duduk disebelah Rafael.
“Ya……seperti yang kamu lihat, terkadang aku bingung yang
punya perusahaan siapa yang sibuk siapa.” Jawab Jhonson menyindir Elin
sedangkan yang disindir hanya santai saja tanpa memperdulikan perkataan
asistennya sekaligus sahabatnya itu.
“Kamu yang sabar Jhon. Dia memang bos yang kejam dan tidak
punya hati membuat kita kerja rodi seperti keinginannya.” Kata Rafael yang
kembali menyindir Elin namun yang disindir hanya diam saja dan sibuk dengan
laptopnya mengecek laporan yang diberikan Jhonson melalui email.
“Kamu betul El, mungkin setelah dia menemukan seseorang
dalam hidupnya mungkin dia akan sedikit berubah dan tidak akan menindas kita
lagi. Adakah seseorang yang ingin kamu kenalkan dengannya?” Tanya Jhonson.
“Em……..” Rafael berpikir dan belum sempat menjawab suara
Elin sudah terdengar.
“Jika kalian sudah bosan bekerja denganku, silahkan pergi.” Kata
Elin
dengan nada yang datar .
“Hehehe…….. kami hanya bercanda bos.” Jawab Rafael dan
Jhonson secara bersamaan karena mereka tak ingin kehilangan pekerjaan mereka
saat ini biarpun tanggungjawabnya besar dan setiap waktu harus siap sedia jika
dibutuhkan bosnya itu tetapi hasilnya sepadan juga dengan apa yang mereka
terima dan Elin tak akan pernah main-main dengan ucapannya, dia tidak akan
memaksa seseorang untuk tinggal jika dalam keadaan terpaksa dan tidak ingin
lagi bekerja dengannya.
“Aku bosan.” Kata Elin
“Lalu?” Tanya Jhonson dan Rafael bersamaan.
“Temani aku bermain.” Jawab Elin
“Maksudnya?” lagi-lagi mereka berdua bertanya secara
__ADS_1
bersamaan.
“Ish…… aku ingin jalan-jalan keluar, aku bosan dikamar ini terus berbaring .” jawab Elin ketus.
“Kamu sendiri yang membuatnya Elin ku sayang, kamu yan
terjebak dalam permainanmu sendiri.” Kata Jhonson.
“Betul, lagian ini semua bisa terbongkar jika Bang Sam atau
siapapun datang dan tidak melihat kamu berbaring diranjangmu.” Jelas Rafael.
“Dan bagaimana jika seseorang melihatmu diluar?” Tanya Jhonson.
Ini adalah ide buruk menurut mereka berdua bisa-bisa rencana mereka bisa gagal.
Eh…. Ralat rencana Elin sendiri. Bos
cantik yang kejam dan tidak punya hati menurut Jhonson dan Rafael.
“Tenang saja aku akan mengubah penampilanku dan saat ini
bang Sam sedang bertugas di Negara sebelah mungkin nanti malam baru kembali,
sedangkan Bunda Aleeya sedang sibuk dengan Butiknya yang lagi ada masalah
sedikit dan dalam waktu dekat ini
mungkin tidak akan kembali.” Jelas Elin.
“Tapi……….” Kata Jhonson tapi langsung dipotong oleh Elin.
“Tidak ada tapi-tapi. Jika kalian tidak ingin menemaniku aku bisa sendiri.” Kata
Elin dan tidak ada lagi kata bantahan dari Jhonson dan Rafael kaena mereka
hanya bisa mengikuti keinginan bosnya itu.
“ Baiklah……” kata Jhonson dan Rafael bersamaan.
“Kami akan menemanimu Tuan Puteri.” Lanjut Jhonson.
“Tunggu sebentar, aku akan ganti baju dan mengubah
penampilanku.” Kata Elin dan pergi berlalu meninggalkan Jhonson dan Rafael memasuki kamar mandi.
Hai….Hai…..Hai…..
Author kembali lagi setelah beberapa bulan ngak update-update karena banyaknya
pekerjaan dan masalah yang dihadapi secara bersamaan sehingga Author fokus dulu
menyelesaikannya.
Dan doain Author ya supaya bisa
__ADS_1
melanjutkan novel ini .
Terimakasih.