Dia Bukan Perempuan Biasa

Dia Bukan Perempuan Biasa
Bab 35


__ADS_3

Tok……Tok…. Tok…..


Setelah mengetuk dan tidak ada jawaban dari dalam ruangan,


dokter Rafael pun membuka pintu dengan perlahan dan memasuki ruang rawat Elin.


“Waktunya pemeriksaan pasien.” Teriak Rafael tanpa


menghiraukan dua manusia yang sedang berada di ruangan itu.


“Bugh…………….” sebuah bantal melayang dan mendarat tepat


diwajah Rafael  dan pelakunya adalah


Elin.


Dia reflek melempar bantal, setelah sadar yang datang adalah Rafael.


“Augh…….. cewe koq kasar, kasihan wajah gantengku.” kata


Rafael sambil menghampiri Elin dan meletakkan kembali bantal di ranjang rawat


Elin.


“Kamu bikin jantung aku mau copot, aku pikir siapa.” Kata


Elin sedikit kesal.


“Santai aja bos, kan wajar seorang dokter mengunjungi


pasiennya dan…….” Rafael menjeda sebentar ucapannya dan menarik napas.


“Sampai kapan kamu akan menginap disini, kasian pasien lain tak kebagian


ruangan gara-gara kamu.” Canda Rafael sambil mengacak rambut Elin.


“Isshhhh………berantakan tahu.” Kata Elin sambil menepis tangan


Rafael agar berhenti mengacak rambutnya.


“Terserah akulah, inikan Rumah Sakitku.”


“Lagian, kamar ini dikhususkan buat aku saja.” Lanjutnya lagi sambil mendorong


Rafael agar menjauh darinya.


“Emmm….. bos mah bebas.” Kata Rafael dengan malas karena tak


ingin melanjutkan perdebatannya dengan Elin karena dia tahu Elin yang pasti


menang dan pergi menghampiri Jhonson yang sedang sibuk mengecek laporan


perusahaan diponselnya.


“Sepertinya kamu sedang sibuk?” kata Rafael kemudian

__ADS_1


duduk  disebelah Rafael.


“Ya……seperti yang kamu lihat, terkadang aku bingung yang


punya perusahaan siapa yang sibuk siapa.” Jawab Jhonson menyindir Elin


sedangkan yang disindir hanya santai saja tanpa memperdulikan perkataan


asistennya sekaligus sahabatnya itu.


“Kamu yang sabar Jhon. Dia memang bos yang kejam dan tidak


punya hati membuat kita kerja rodi seperti keinginannya.” Kata Rafael yang


kembali menyindir Elin namun yang disindir hanya diam saja dan sibuk dengan


laptopnya mengecek laporan yang diberikan Jhonson melalui email.


“Kamu betul El, mungkin setelah dia menemukan seseorang


dalam hidupnya mungkin dia akan sedikit berubah dan tidak akan menindas kita


lagi. Adakah seseorang yang ingin kamu kenalkan dengannya?” Tanya Jhonson.


“Em……..” Rafael berpikir dan belum sempat menjawab suara


Elin sudah terdengar.


“Jika kalian sudah bosan bekerja denganku, silahkan pergi.” Kata


Elin


dengan nada yang datar .


“Hehehe…….. kami hanya bercanda bos.” Jawab Rafael dan


Jhonson secara bersamaan karena mereka tak ingin kehilangan pekerjaan mereka


saat ini biarpun tanggungjawabnya besar dan setiap waktu harus siap sedia jika


dibutuhkan bosnya itu tetapi hasilnya sepadan juga dengan apa yang mereka


terima dan Elin tak akan pernah main-main dengan ucapannya, dia tidak akan


memaksa seseorang untuk tinggal jika dalam keadaan terpaksa dan tidak ingin


lagi bekerja dengannya.


“Aku bosan.” Kata Elin


“Lalu?” Tanya Jhonson dan Rafael bersamaan.


“Temani aku bermain.” Jawab Elin


“Maksudnya?” lagi-lagi mereka berdua bertanya secara

__ADS_1


bersamaan.


“Ish…… aku ingin jalan-jalan  keluar, aku bosan dikamar ini terus berbaring .” jawab Elin ketus.


“Kamu sendiri yang membuatnya Elin ku sayang, kamu yan


terjebak dalam permainanmu sendiri.” Kata Jhonson.


“Betul, lagian ini semua bisa terbongkar jika Bang Sam atau


siapapun datang dan tidak melihat kamu berbaring diranjangmu.” Jelas Rafael.


“Dan bagaimana jika seseorang melihatmu diluar?” Tanya Jhonson.


Ini adalah ide buruk menurut mereka berdua bisa-bisa rencana mereka bisa gagal.


Eh…. Ralat rencana  Elin sendiri. Bos


cantik yang kejam dan tidak punya hati menurut Jhonson dan Rafael.


“Tenang saja aku akan mengubah penampilanku dan saat ini


bang Sam sedang bertugas di Negara sebelah mungkin nanti malam baru kembali,


sedangkan Bunda Aleeya sedang sibuk dengan Butiknya yang lagi ada masalah


sedikit  dan dalam waktu dekat ini


mungkin tidak akan kembali.” Jelas Elin.


“Tapi……….” Kata Jhonson tapi  langsung dipotong oleh Elin.


“Tidak ada tapi-tapi. Jika kalian tidak ingin menemaniku aku bisa sendiri.” Kata


Elin dan tidak ada lagi kata bantahan dari Jhonson dan Rafael kaena mereka


hanya bisa mengikuti keinginan bosnya itu.


“ Baiklah……” kata Jhonson dan Rafael bersamaan.


“Kami akan menemanimu Tuan Puteri.” Lanjut Jhonson.


“Tunggu sebentar, aku akan ganti baju dan mengubah


penampilanku.” Kata Elin dan pergi berlalu meninggalkan Jhonson dan Rafael  memasuki kamar mandi.


Hai….Hai…..Hai…..


Author kembali lagi setelah beberapa bulan ngak update-update karena banyaknya


pekerjaan dan masalah yang dihadapi secara bersamaan sehingga Author fokus dulu


menyelesaikannya.


Dan  doain Author ya supaya bisa

__ADS_1


melanjutkan novel ini .


Terimakasih.


__ADS_2