
"Bagaimana keadaannya?" tanya Allen kepada David asistennya.
"Dia kritis dan jika sampai besok masih seperti itu, dia akan koma dan tidak tahu kapan akan sadarnya." jawab David.
"Cepat carikan dokter terbaik." perintah Allen
"Dokter yang merawat dia saat ini adalah dokter yang terbaik dari yang terbaik bahkan lebih baik dari dokter keluarga kita." jelas David.
"Apa kamu yakin?" tanya Allen sedikit meragukan ucapan David.
"Saya yakin dokter Rafael tidak diragukan lagi." kata David sambil menyerahkan sebuah berkas tentang data-data pribadi dokter Rafael.
"Huuh......."Allen menarik nafasnya panjang setelah membaca berkas yang diserahkan oleh David.
"Kalau begitu kamu terus perhatikan perkembangannya dan laporkan kepada saya jika ada perubahan dan sekarang kamu bisa pergi." kata Allen kepada David.
"Baik, kalau begitu saya pergi." kata David kemudian meninggalkan Allen.
"Kamu harus baik-baik saja Elin dan kamu tidak ku ijinkan untuk meninggalkan aku.(Hei tuan muda kamu bukan siapa-siapa, pacar bukan bahkan teman juga bukan) π "Allen berbicara sendiri setelah David meninggalkannya dan mendengar laporan David tentang keadaan Elin.
(Tinggalkan Tuan Allen yang ngehalu sendiri)
Kembali ke rumah sakit....
"Bagaimana keadaan Elin, apakah dia sudah sadar?" ini kesekian kalinya Sam menanyakan keadaan Elin ketika melihat siapa saja yang keluar dari ruang rawat Elin.
"Masih sama bang Sam, sebaiknya abang istirahat dulu bang." kata Rafael
"Bagaimana aku mau istirahat? keadaan Elin masih seperti ini, aku harus jawab apa kepada Bunda Aleeya ketika dia menanyakan Elin." kata Sam lagi dengan nada khawatir
"Jenderal..." panggil Bryan memotong pembicaraan mereka.
"Bunda Aleeya menelpon." kata Bryan sambil memberikan ponselnya.
"Huhhh..." sebelum menjawab panggilan telepon bunda Aleeya,Sam mengatur nafasnya dulu.
__ADS_1
(Dalam Panggilan Telepon)...
"Hallo Bunda."
"Kamu darimana saja sih,daritadi tak bisa dihubungi." kata Bunda Aleeya
"Maaf Bunda, ponselku ketinggalan di kantor." kata Sam.
"Emang kamu lagi dimana?"
"dan Elin dimana? daritadi Lio nangis terus nyariin Elin." tanya Bunda Aleeya
"Kami lagi di rumah sakit."
"dan Elin........" Sam sedikit ragu untuk memberitahukan keadaan Elin tetapi mendengar ucapan Bundanya,Sam tidak mungkin menutupi keadaan Elin.
"Huh..........Elin kritis Bunda." kata Sam setelah menarik nafas mengumpulkan keberaniannya.
"Apa? kenapa bisa Sam?" tanya Aleeya dengan Panik.
dan akhirnya Sam pun menceritakan seluruh kebenarannya dan apa yang terjadi kepada Bunda Aleeya.
Bunda Aleeya pun menghubungi Jhonson untuk menyiapkan pesawat pribadi keluarga Dinata dan menjelaskan apa yang terjadi dengan Elin.
Kembali lagi ke Sam.....
" Sebaiknya Jenderal makan dulu, biar aku yang menunggu Elin disini." kata Bryan kepada Sam
" Benar apa yang dikatakan Bryan bang." Rafael menimpali ucapan Bryan.
"Aku tidak berselera." jawab Sam dengan lesuh.
"Ayolah Jenderal, jika Jenderal seperti ini terus Elin akan sedih jika Jenderal tidak makan dan yang terkena masalah adalah kami." kata Bryan membujuk Sam.
"Kamu benar, aku harus makan supaya aku punya tenaga untuk menjaga Elin." kata Sam
__ADS_1
"Ayo El temani aku makan dan kamu tetap disini." perintah Sam kepada Bryan dan pergi bersama Rafael ke kantin rumah sakit.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Keesokan harinya..........
Bunda Aleeya, Raja, Safa, Rasty, Jhonson dan Si Kembar sampai di Rumah sakit X.
"Bagaimana keadaan Elin?" tanya Bunda Aleeya kepada Sam dan saat itu juga Dokter Rafael sedang menjelaskan keadaan Elin kepada Sam dan seketika itu juga Sam dan Rafael melihat ke arah mereka.
" Maafkan aku Bunda." kata Sam dan langsung memeluk Bunda Aleeya.
"Apa yang Terjadi?" tanya Aleeya sambil mengelus pundak Sam.
"Karena Elin tidak dapat melewati masa kritisnya dan pada akhirnya saat ini Elin koma dan saat ini kita hanya bisa berdoa dan menunggu keajaiban agar Elin cepat sadar." Rafael langsung menjawab dan menjelaskan kepada mereka.
Seketika itu kesedihan meliputi mereka semua dan seakan tidak percaya ini semua terjadi.
"Maafkan aku Bunda, aku tidak bisa menjaga Elin." kata Sam lagi.
"Kamu tidak bisa menyalahkan dirimu sendiri, ini semua adalah takdir yang tidak bisa kita hindari." kata Aleeya dan mencoba untuk kuat.
Sementara itu Lio merengek untuk bertemu dengan Elin.
"Aku ingin Bi Lin." rengek Lio.
"Sabar ya sayang, saat ini Bi Lin sedang sakit dan belum bisa ditemui." kata Safa membujuk Lio namun Lio tetap saja merengek untuk menemui Elin.
"Biarkan saja dia masuk." kata Rafael dan menyuruh seorang Suster untuk membawa Lio masuk.
"Tuan Jhonson." panggil Rafael kemudian.
"Ya." jawab Jhonson
"Bisakah kita berbicara sebentar." ajak Rafael
__ADS_1
"Baiklah." kata Jhonson.
Kemudian Jhonson pun mengikuti Rafael ke ruangannya.