
Maafkan Aku….
Gontai langkah kaki Melly ketika masuk kedalam rumah dan
langsung menuju kamarnya. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak nya.
Panggilan mama dan papanya ketika ia masuk rumah pun tak dihiraukan nya.
Melihat anak nya yang tampak layu dan banyak fikiran pun sengaja tak bertanya
banyak. Mereka tau bahwasanya kalau masalah yang sedang dihadapi anak nya
sangat rumit pasti ujung ujung nya akan diceritakan.
Malam berlalu tanpa pejaman sepasang mata Melly. Ya, satu
malaman ia tak tidur karna fikirannya tak lepas dari Sherly. Kata kata Sherly
tentang perasaan nya ke Alfin pun selalu terbayang baying hingga pagi muncul.
Matahari yang sudah tinggi berada di langit memancarkan cahaya terang untuk
bumi.
Tok Tok Tok….
“Non ada den Alfin dibawah” seru bi kina dibalik pintu.
“Iya bik,, sebentar lagi aku turun” seketika teringat janji
nya dengan Alfin yang akan mensurvei lokasi.
Selang 20menit kemudian, turun lah Melly dengan wajah tak
bersemangat, mata merah dan tampak lesu.
“Kamu kenapa nak?” mama Rita langsung mendekati Melly yang
sudah tiba di tangga terakhir “kamu gak tidur? Kamu ada masalah apa?” tanya
mama Rita lagi.
“Gak apa apa ma” jawab Melly dengan lesu “aku ijin pergi
sama Alfin ya ma mau survey proyek” berkata sambil mencium punggung tangan mamanya.
“Iya, kalian hati hati ya” mengusap kelapa Melly “jaga Melly
ya fin. Tante percaya sama kamu” ucap mama Rita sambil menatap Alfin.
“Iya tante. Kita pergi dulu ya” mendekat ke arah mama Rita
dan mencium punggung tangan mama Rita.
Selepas berpamitan dengan mama Rita, Melly dan Alfin
langsung menuju halaman dan masuk ke dalam mobil. Tak ada pertanyaan dari Alfin
selama menuju mobil, ia hanya melihat wajah kekasih nya itu dengan penuh tanya
dan rasa penasaran. Alfin berharap Melly baik baik saja dan hanya terkena
insomnia.
Sepuluh menit sudah perjalanan berlalu tanpa ada kata dari
siapapun di dalam mobil. Melly hanya menatap keluar jendela mobil sementara
Alfin focus mengemudi dengan segala tanya di fikirannya yang belum ia tanyakan.
__ADS_1
“Sayang…” akhirnya kata itu yang pertama keluar dari mulut
Alfin.
“Sayang…” panggilan kedua untuk yang ada disebelahnya.
“Hemmm” jawab Melly sambil tetap menatap keluar jendela
tanpa menoleh sedikitpun.
“Sayang,, kamu sakit?” menyentuh tangan Melly “kamu belum
sarapan kan tadi? Mama kamu bilang ke aku kalau kamu belum sarapan. Kita cari
makan dulu ya. Kamu mau makan apa?” tanya Alfin sambil sesekali melihat kea rah
Melly.
“aku gak lapar” jawaban singkat Melly yang meyakinkan Alfin
kalau memang ada masalah dengan kekasih nya.
“Yakin gak lapar? Atau mau ke mall makan bakso yang di food
court itu?” berharap Melly bisa tergugah seleranya ketika mendengar makanan
itu.
“Gak Fin,,” menjawab seadanya.
“Kamu kenapa? Ada masalah? Bisa ceritakan kepadaku? Atau
setidaknya beri aku penjelasan dengan sikap mu hari ini” Alfin melontarkan
pertanyaan yang sedari tadi di fikirannya.
“Aku gak apa apa” masih tidak menoleh dan hanya menatap luar
Alfin yang merasa sudah tidak bisa lagi melihat kekasih nya
seperti itu memutuskan untuk memberhentikan mobil nya di pinggir jalan.
“Udah sampek?” tanya Melly kaget ketika mobil terparkir di
pinggir jalan.
“Lihat aku…” membuka sabuk pengaman dan duduk menghadap
Melly “Sayang lihat aku sekarang” sedikit berteriak karna yang didepannya belum
mengubah posisi duduk.
“Ya” akhirnya tanpa arahan yang ketiga Melly merubah posisi
duduk nya menghadap Alfin.
“Kamu kenapa?”.
“Aku gak apa apa”.
“Jangan bohong. Plis ceritakan padaku atau kamu mau aku cari
tahu sendiri?”
“Gak perlu” jawab Melly
“Lalu kamu kenapa? Semalam kenapa pesan ku gak di balas? Aku
fikir kamu sedang bersenang senang dengan Sherly. Tapi melihat sikapmu hari ini
__ADS_1
aku yakin ada yang tidak beres dengan pertemuan kalian semalam” ucap Alfin
dengan hati hati karna ia tak mau tambah merusak suasana hati Melly “kalau kamu
gak mau jawab, biar aku tanya ke Sherly sekarang” langsung mengambil hp nya
ingin menghubungi Sherly.
“Gak perlu Fin” merampar hp yang sudah di tangan Alfin.
“Lantas kamu mau aku terus bertanya tanya kamu kenapa? Ada
apa dengan mu? Sikap mu buat aku bingung” menatap Melly lekat “lihat matamu
sudah seperti mata panda. Kenapa kamu gak tidur?? Meraih dagu Melly dan
memegang nya lembut.
“Ya, aku gak bisa tidur semalaman” jawab Melly.
“Kenapa?”
Bukannya menjawab pertanyaan Alfin, Melly malah memeluk Alfin
dan menangis.
“Menangis lah sayang” mengelus kepala Melly dengan lembut
sambil sesekali menepuk perlahan bahu Melly.
Sesegukan Melly menangis di bahu Alfin. Setelah tangisannya
yang cukup dalam itu sedikit berkurrang ia langsung melepaskan pelukannya dan
mulai menyeka air matanya dengan sapu tangan yang diberikan Alfin.
“Ma maaf” terbata ia bicara.
“Gak apa sayang. Kalau memang dengan menangis hatimu menjadi
lega maka menangis lah. Bahu ku akan selalu ada untukmu” kata Alfin menenagkan
Melly.
Dering hp Alfin memecahkan kesenduan saat itu.
“Haloo” terdengar suara seorang wanita disebrang sana “Halo
pak saya Wani. Saya mau bertanya apa bapak jadi survey lokasi hari ini?
Kebetulan saya selaku penanggung jawab tampat ini pak”.
“Jadi bu,. Ini saya sedang di jalan sekitar lewat tengah
hari saya sampai disana” jawab Alfin.
“Baiklah pak saya tunggu” telfon dimatikan tanpa menunggu
jawaban dari Alfin.
“Maaf karna aku kita jadi terlambat begini” ucap melly yang
menyadari sudah pukul 10 tetapi setengah perjalanan pun belum terlewati.
“Gak apa sayang” menepuk ringan tangan Melly yang digenggam
nya “Kamu mau ceritain sekarang atau mau makan?” tanya Alfin.
“Aku mau tidur. Ngantuk banget aku” jawab melly sembari mengucek matanya.
__ADS_1
“Baik tidurlah. Kalau kamu merasa lapar bilang sama aku ya
biar kita singgah beli makanan” jawab Alfin yang disambut anggukan dari Melly.