Dia Sahabatku

Dia Sahabatku
Episode 26


__ADS_3

Sesampainya dikamar….


“Aku gak suka kakak itu” ucak Vini sembari duduk diatas


tempat tidurnya.


“Kakak yang mana?”


“Kakak yang duduk samping kak Alfin tadi.”


“Lah, kenapa? Belum kenalan kok udah gak suka dek?” tanya


Melly.


“Karena kakak itu kan, kakak dan kak Alfin putus.”


“Bukan begitu dek ku. Kakak dan kak Alfin bukan putus karna


kakak itu.” melly menghampiri Vini dan duduk disamping Vini. “Kakak putus sama


kak Alfin karena memang kakak gak bisa sama kak Alfin.”


“Iya gak bisa karna kakak itu juga suka kak Alfin kan?”


“Kenal lah terlebih dahulu sama kak Sherly, kamu pasti akan


cepat akrab dengan dia. Dia baik loh anak nya.”


“Gak mau.”


“Harus mau dong. Adik kakak kan adik yang paling baik. Udah


gih sana bersih bersih kakak tungguin disini ntar kakak kenali sama kak Sherly”


mendorong tubuh Vini masuk ke dalam kamar mandi yang terletak disudut kamar.


………………………………………………………………………..


Suasana diruang keluarga…..


“Enak buah nya?” tanya Sherly sembari menatap pria manis


disebelah nya.


“He’eh manis”jawab Alfin sekenanya.


“Melly terlihat akrab sekali ya dengan keluarga kamu,


padahal baru sekali jumpa. Pasti perjumpaa pertama kali itu sangat berkualitas


ya” memutar mutar garpu dipiring buah yang ada didepan nya.


“Sekali?” menatap Sherly memeinta jawaban.


“Iya, tadi aku tanya ke Melly kok orang rumah udah kenal


sama dia dan terlihat akrab” mengambil potongan buah apel dan menyodorkannya ke


Alfin.


“Terus dia jawab apa?” hap potongan buah itu kini sudah


berada di mulut Alfin.


“Kata Melly dia pernah kemari sekali pas kalian pergi


nongkrong yang aku gak bisa ikut.”


“Oh. Dia bilang itu aja?” tetap masih mengunyah buah nya.


“iya. Emang dia harus bilang apa lagi?” menatap mata sendu


si pria.


“Gak gak apa aku Cuma bertanya.”


“Apa kamu benar benar menyanyangi ku?”


“Uhuk uhuk… Ha?? Maksudnya?” Alfin terkejut mendengar


pertanyaan Sherly.


“Ya, apa kamu benar benar menyanyangiku? Apa kamu punya


perasaan yang sama sepertiku? Apa kamu mengharapkan hubungan ini? Kadang aku


merasa hanya aku yang punya rasa sayang untuk mu dan kamu tidak.” Kelu Sherly


bertanya menahan rasa perih di hatinya.


Melihat kedekatan antara Melly dan keluarga Alfin membuat


hati Sherly sedikit merasa sakit. Dia merasa minder karena hal itu. seketika


dia berfikir kalau Alfin tak pernah memiliki rasa yang lebih untuk nya. Dia


merasa Alfin hanya mempermainkannya.


Alfin memegang dagu Sherly, membuat wajah mereka kini


berhadapan. Menutup mata Sherly dengan kedua tangannya. Perlahan Alfin


mendekatkan wajah nya ke Sherly. Mendektkan bibir nya dengan bibir Sherly.


Rasa terkejut merasakan bibir nya yang sudah dicium oleh

__ADS_1


Alfin membuat Sherly membiarkan apa yang telah dilakukan Alfin. Seketika


keraguannya ke Alfin luntur. Sherly mulai membalas ciuman itu. Beberapa menit


mereka beradu bibir sampai Alfin menyadari ada Melly yang melihat adegan mereka


dari tangga.


………………………………………………………..


“Kak, kakak duluan aja kebawah nya ntar aku nyusul.


Sepertinya kau masih lama ni. Tiba tiba sakit perut ni” teriak Vini dari dalam


kamar mandi.


“Yakin? Ntar ngambek kalau kakak tinggal.”


“Yakin dong. Gak aku gak ngambek tapi mau minta tolong ke


kakak boleh gak?”


“Boleh kalau gak yang macem macem” berkata sembari melihat


buku buku di meja belajar Vini.


“Tolong ambilkan baju dilemari kak. Vini lupa bawak.


Please.”


“baju yang mana?” tanya Melly sembari berjalan menuju lemari


baju.


“Piyama warna biru kak.”


Tok tok tok..


“Ni piyama nya tuan putri” menyosorkan stelan piyama berwarna biru muda


ketangan si pembuka pintu kamar mandi.


“Terima kasih kakak ku. Yaudah ntar aku susul ke bawah ya”


mengintip dari pintu.


“Iya, kakak duluan ya.”


Setelah pintu kamar mandi kembali tertutup, Melly memutuskan


untuk turun kebawah menemui Sherly dan Alfin. Betapa terkejutnya Melly ketika


kakinya baru melangkah didua anak tangga atas menuju bawah.


Melly melihat adegan yang seharusnya tak dilihat nya.


menyangka hari ini akan melihat hal itu. gontai langkah kakinya menuruni tangga


satu persatu. Tiba anak tangga terakhir adegan itu belum selesai dilakukan dua


manusia didepannya. Airmata turun tanpa diminta si pemilik. Terasa panas dihati


Melly.


Tuhan ini sakit.


Hatiku sakit melihat ini.


…………………………………………………………………………………………..


Seketika Alfin melepaskan


ciumannya ketika melihat Melly sedang menatap mereka. Alfin tak menyangka kalau


aksinya akan disaksikan oleh Melly. Tapi dia juga senang ketika menyadari ada


airmata dipipi Melly. Airmata itu pertanda masih ada rasa cinta dihati Melly


untuk nya.


Cepat Melly menghapus airmatanya


sebelum Sherly melihatya. Dengan rasa canggung ia menghapiri kedua orang itu


dan duduk di hadapan mereka. Bersikap seolah tak melihat apapu.


“Enak buah nya?” Melly mencoba


mencairkan suasana dan mengambil satu potong buah yang ada di piring satunya.


“Enak manis. Makan lah” ucap


Sherly masih dalam perasaan senang namun grogi. Sherly tak menyangka kalau


keraguannya akan dijawab dengan tindakan seperti itu. rasa ragu itu hilang ntah


kemana dari hati nya.


“Aku juga mau dong buah nya” Vini


datang dan langsung duduk disamping melly.


“Ini, ambillah” Melly menyosorkan


potongan buah naga ke depan mulut Vini.

__ADS_1


“Hemmm… Enak…”


“Kenalin Sher, ini adik nya


Alfin, Vini.”


“Eh iya.. Halo Vini aku Sherly”


menjulurkan tangan kearah Vini.


“Hai, aku Vini” menjabat uluran


tangan Sherly. “Aku adiknya kak Melly bukan kak Alfin” menjatuhkan kepalanya di


pundak Melly.


“Apa apan lo” Alfin yang sedari


tadi diam membuka mulut nya dan melemparkan bantal sofa kearah adik nya.


“Emang iya kok. Ya kan kak?”


menatap Melly meminta persetujuan.


“Hmmm… gimana ya? Mau gak ya


punyak adik Vini?”


“Ihhhh.. Marah ni…”


“Iya iya Vini adik kakak” memeluk


Vini.


Semua tertawa melihat tingkah


Vini yang manja dan lucu. Pambicaraan pun dimulai dengan pertanyaan Vini ke


Sherly. Seberapa besar Sherly mencintai Alfin, seberapa baik Sherly untuk kakak


nya itu. semua ditanyakan Vini hingga ia yakin kalau Sherly adalah wanita yang


baik.


“Baiklah, aku terima kakak


menjadi pacar kak Alfin. Ternyata kak Melly benar. Kakak adalah orang yang baik


meskipun aku lebih menyukai kak….” Perkataan Vini terhenti karna mulut nya


ditutup oleh Melly.


Melly tau kalau namanya akan


disebut oleh Vini, ia langsung sigap menutup mulut Vini dengan kedua tangan nya


dan langsung memasukkan buah kedalam mulut Vini sebelum kata katanya berlanjut.


“Menyukai kakak siapa Vin? Pacar


kak Alfin sebelum kakak ya?” tanya Sherly ke arah Vini.


“iya” Vini menatap Melly dan


Melly memberikan kode gelengan kepala yang artinya jangan memberitahu tentang


dia dan Alfin.


“Siapa pacar kak Alfin yang


dulu?” tanya Sherly semakin penasaran.


“Ntah lah aku juga lupa namanya…


hehehehe…. Aku mau makan buah aja.”


“Sudah lah sayang gak usah


dibahas. Udah masa lalu” tangan Alfin menggenggam tangan Sherly namun matanya


masih saja melirik kea rah Melly.


Jam semakin berdetak hingga tak


sadar hari semakin larut.


“Udah malam ni. Pulang yuk” ajak


Melly.


“Yaudah ayuk. Sayang aku gak apa


apa ni gak pamitan ke mama kamu?” tanya Sherly ke Alfin.


“Gak apa apa sayang. Mama juga


udah tidur pasti.”


“Yaudah deh aku pulang dulu ya.


Kamu istirahat biar cepat sembuh. Vini kakak pulang ya.”


“Ya kak.. kakak berdua hati hati


ya.”

__ADS_1


“Bye….”


__ADS_2