
Penyelesaian atau Penyesalan????
Jarak antara rumah Melly dan kota yang ingin mereka tuju
cukup jauh. Memakan waktu sekitar 3jam kalau jalanan normal tanpa hambatan.
Kejadian sebentar tadi memakan waktu mereka. Pukul 1 siang mereka sudah sampai
di lokasi. Terlihat Melly yang masih terlelap di dalam mobil tidak sadar kalau
mereka sudah sampai.
Alfin keluar seorang diri menemui Wani yang tadi
menelfonnya.
“Selamat siang pak. Perkenalkan nama saya Wani” mengulurkan
tangan ke arah Alfin.
“Selamat siang bu. Mari kita langsung liat saja lokasinya”
menerima uluran tangan tadi.
“Langsung pak? Ibu Melly tidak jadi ikut? Karna setau saya
bapak bilang akan survey bersama beliau” tanya Wani.
“Iya bu seharusnya begitu tapi beliau sedang tidak sehat
jadi nanti biar saya saja yang menjelaskan kepada beliau”.
“Baik pak”.
Alfin dan Wani menyusuri lokasi dengan beriringan. Wani
menjelaskan setiap titik secara mendetail. Sampai di ujung perjalanan survey.
“Terima kasih atas bantuannya bu. Hasil keputusannya akan
saya beritahukan melalui sekretaris saya” sambil berjalan menuju mobil nya
terparkir “kalau begitu saya permisi kembali dulu ya bu” mengulurkan tangan
menuju Wani.
“Baik pak terimakasih” menerima uluran tangan Alfin “hati
hati di jalan pak”.
Selepas pamit dari Wani, Alfin langsung menuju mobil dan
masuk kedalam mobil. Di dalam mobil Melly masih terlelap dengan nyaman. Alfin
memutuskan untuk membeli makanan di sebuah restoran yang tak jauh dari tempat
mereka.
Setelah kembali dan membawa 2kantong plastic berisi makanan
Alfin masuk ke dalam mobil. Melly yang sudah sedari tadi tidur sekarang mulai
membuka mata perlahan.
“Hoam….” menutup mulut nya yang menguap “kita udah sampek
ya? Kok kamu gak banguni aku? Yaudah yuk turun” membuka sabuk pengaman dan
__ADS_1
bersiap untuk turun.
“Gak perlu turun kamu semuanya udah beres kok. Aku udah liat
tempat nya” ucap Alfin.
“Kok gitu? Yang mau survey kan aku, kok jadi kamu yang lihat
tempatnya?” merasa kesal atas sikat Alfin.
“Maaf sayang aku tadi gak mau banguni kamu. Aku liat kamu
nyenyak banget tidur nya. Ni makan dulu ya” monyodorkan makanan yang dibelinya tadi.
“Hemm. Tetap aja aku gak suka seperti itu” mengambil makanan
yang diberikan.
“Iya maaf ya. Itu semua file tentang tempat ini. Tinggal
kamu baca aja dan pelajari” menunjuk dengan ekor matanya kearah kursi belakang
tempat dimana beberapa map yang diletakkan nya tadi.
“Oh yaudah deh. Mendung kayak nya ya.. masih siang tapi udah
gelap gini” menunjuk ke arah langit yang sudah ditinggalkan matahari.
“Bukan mendung tapi emang udah sore. Tu liat jam kamu”.
Apaaaaaa??????????
Sudah jam 6sore???? Senyenyak itu kah aku tadi tidur nya?????????? Melly
“Oalah,,,,,” menepuk jidat nya sendiri “udah sore ternyata
“Iya.. makan dulu kamu.. Ni namanya makan malam bukan
sarapan atau makan siang lagi.. hehehe” tersenyum melihat ekspresi Melly.
Akhirnya mereka makan sebelum melanjutkan perjalanan untuk
pulang kerumah. Setelah makanan mereka habis Alfin menghidupkan mobil dan
memakaikan sabuk pengaman untuk Melly dan untuk dirinya sendiri. Di dalam
perjalanan yang baru saja mereka tempuh itu Alfin memberanikan diri untuk
menanyakan hal yang terpotong pagi tadi.
“Sekarang sudah bisa kamu ceritain ke aku gak?” menggenggam
tangan Melly.
“Maaf kan aku Fin” jawab Melly lirih.
“Minta maaf kenapa sayang? Kamu kan gak ada buat salah sama
aku” menoleh kea rah Melly.
“Sherly menyukaimu. Aku tidak bisa mengkhianati
persahabatanku” menoleh kea rah Alfin dan menatap lekat kekasihnya.
“Terus? Kamu kan tinggal bilang ke dia kalau kita udah
pacaran” menjawab dengan santai.
__ADS_1
“Tidak bisa” mengoyang kan tangan nya kekiri dank e kanan
“Sherly belum pernah mencintai orang lain. Dia belum pernah pacaran selama ini.
Kalau pun ada yang mendekatinya itu semua hanya main main. Dia pernah sangat
terluka karna lelaki yang disukainya dulu ternyata hanya mempermainkannya. Dari
saat itu dia memutuskan untuk sendirian selamanya. Dan sekarang dia menyukai mu
bahkan dia bilang kalau dia mencintaimu. Aku tak bisa menyakiti perasaan nya
lagi dengan bilang kita sudah pacaran” panjang lebar Melly menjelaskan ke
Alfin.
Alfin yang mendengar penjelasana Melly menghela nafas
panjang dan memberhentikan mobil nya di sebuar taman. Alfin menyuruh Melly
untuk keluar dan berbicara di taman itu.
Setelah mereka berdua duduk di bangku taman Alfin mulai
bertanya ke Melly.
“Kamu sayang aku?” menggenggam tangan Melly dengan erat.
“Aku sayang kamu dan aku juga sayang sama Sherly”
“Kamu menyesal telah menerima ku?”
“Tidak pernah ada penyesalan untuk menerima kamu. Tapi aku
juga mau sebuah penyelesaian untuk semua ini” menarik nafas panjang sebelum
melanjutkan kata katanya “Maaf Fin aku lebih memilih persahabatan ku” tetesan
air mata kembali menetes tanpa diperintah si pemilik mata.
“Kamu yakin?” mengusap airmata di wajah Melly “sekali lagi
aku tanya kamu. Kamu sayang sama aku?”.
“Aku sayang sama kamu tapi aku juga yakin untuk melihatmu
bersama Sherly” kata Melly dengan lirih.
“Kalau kamu yakin gak mungkin airmata ini keluar sayang”
menghapus kembali tetesan air mata itu.
“Aku yakin Fin” memeluk Alfin dan menangis lagi “aku tidak
mau menyakiti Sherly. Ku mohon Fin, bersamalah dengan dia mulai sekarang. Aku
tidak akan pernah menjauhi mu tapi aku juga tidak bisa bersama mu”.
Sesaat Alfin membiarkan Melly mencurahkan isi hatinya. Ia
pun ikut sedih dengan kejadian ini. Ia sudah cukup yakin dengan Melly dan ingin
melanjutkan hubungan mereka kea rah yang serius walaupun mereka baru bersama.
“Ku mohon Fin. Buatlah dia bahagia kalau kamu ingin aku
bahagia” melepaskan pelukan dan menatap lekat pria yang ada didepannya.
__ADS_1
“Aku tidak bisa Mel” melepaskan genggaman tangan Melly.