Dia Sahabatku

Dia Sahabatku
Episode 33


__ADS_3

“Pagi ma, pa” ucap Sherly yang baru saja turun dari kamar


nya.


“Pagi nak. Mama udah siapain sarapan kesukaan kamu tu” belai


mama lembut kepala putri semata wayang nya itu.


“Terima kasih ma…” duduk disamping mamanya.


“Hari ini sibuk gak? Siang nanti mama mau ajak kamu ketemu


sama mama nya Alfin. mau mesen gaun dan gedung acara pertunangan kalian” ucap


mama.


“Hm. Boleh ma.. Ntar siang aku susulin ya. mama Wa aja ke


aku alamat nya” melahap sepotong roti berselai strobery kesukaan nya.


Setelah sarapan, Sherly berangkat kerumah sakit. Selama


diperjalanan disa berusaha menghubungi Melly, namun ponsel Melly tidak bisa


dihubungi.


“Kemana sih kamu Mel?” kesal Sherly melemparkan ponsel nya


ke kursi samping kemudi.


Perjalanan menuju rumah sakit pagi ini sangat lancar. Tak


butuh waktu lama, kini Sherly sudah tiba dirumah sakit.


“San, berapa banyak pasien hari ini?” tanya Sherly ke Santi


asistennya yang sedang membersihkan ruangan Sherly.


“Ada empat pasien untuk pagi ini” meletakkan dafta pasien


diaatas meja Sherly.


“Baiklah. Tolong untuk nanti siang kosongkan jadwal saya ya.


saya ada urusan” memeriksa satu persatu daftar pasiennya.


“Baik dok” ucap Santi lalu pergi dari ruangan Sherly


memanggil pasien yang sudah datang.


Satu persatu pasien yang sudah membuat janji datang


melakukan pemeriksaan.


“Sudah selesai semua dok..” ucap Santi.


“Ok San. Terima kasih untuk hari ini ya. saya pergi dulu ya”


mengambil tasnya dan memeriksa pesan dari mamanya.


“Baik dok. Hati hati di jalan.”


Sherly keluar dari rumah sakit menuju parkiran dan melajukan


mobilnya kesebuah hotel ternama di ibukota.


**************************


Tok tok tok..

__ADS_1


“Masuk” ucap Melly.


“Mel, ini sudah aku pesankan semuanya” memberikan sebuah map


berwarna kuning yang berisi beberapa lembar kertas.


“Terima kasih ya Lis. Kamu memang asisten terbaik” membaca


satu persatu kertas yang ada.


“Kamu mau pergi ya?” tanya Listi yang kini sudah duduk


didepan Melly.


“Kemana?” Melly malah balik bertanya.


“YA ke situ lah..” menunjuk kertas yang sedang dipegang


Melly.


“iya..” singkat menjawab.


“Kenapa?” tanya Listi lagi.


Bersamaan dengan itu pintu ruangan Melly diketuk dan dibuka


oleh seseorang.


“Arin? Kamu udah datang?” sambut Melly adiknya itu.


“Iya kak. Kita mulai sekarang?” tanya Arin.


“Iya” menganggukkan kepala ke Arin. “Lis ambil semua berkas


proyek yang dalam masa pengerjaan kita” perintah Melly ke LIsti.


Tanpa menjawab, Listi langsung keluar menuju meja kerjanya,


Cukup banyak map yang Listi bawa hingga ia kesulitan


memegang nya. listi membuka pintu ruangan kerja Melly dengan kaki kanannya


tanpa mengetuk terlebih dahulu.


“Wow.. Banyak amat kak” ucap Arin yang langsung berdiri


membantu Listi.


“Iya ini belum seberapa Rin, bener gak Lis” ucap Melly.


Listi hanya mengangguk ketika ditanya seperti itu.


sejujurnya, Listi masih tidak paham dengan ini semua. Listi merasa heran dengan


perintah perintah dari Melly. Terlebih lagi hari ini, tidak pernah sekalipun


Melly mengijinkan siapapun melihat berkas proyek yang sedang dikerjakannya.


Namun kali ini malah Melly sendiri yang menyuruhnya membawa semua berkas proyek


itu untuk ditunjukkan ke Arin.


“Lis tolong kamu bantu Arin untuk memahami ini semua ya.


selama tiga bulan kedepan, proyek proyek ini akan ditangani Arin. Aku sudah


siapkan surat kuasa untuk beberapa proyek. Dan tolong aturkan pertemuan dengan


semua pimpinan proyek proyek ini. aku akan menjelaskan pada mereka” terang

__ADS_1


Melly ke Listi yang berdiri dihadapannya.


Arin yang sudah paham maksud kakak nya, mulai membuka satu


persatu map, mempelajari semua tulisan yang ada disana.


“Kita akan melakukannya selama seminggu kedepan, jadi tolong


aturkan secepatnya” memegang lengan Listi yang tampak kaget dengan kata kata


Melly.


Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Listi langsung memeluk Melly.


Mendekap bos nya itu dengan erat. Listi menangis, ia menyadari kalau Melly akan


pergi selama beberapa bulan.


“Hei, kok nangis? Kan Cuma beberapa bulan. Gak selamanya


kok..” usap Melly lembut kepala Listi.


“Kenapa?” tanya Listi sambil melepaskan pelukannya.


“Nanti kalau sudah waktunya akan aku ceritakan. Tapi tolong


jangan beritahukan kesiapapun tentang ini. hanya kamu yang aku kasi tau”


menatap sayu kearah Listi.


Siang itu, tangisan Listi membuat suasana menjadi haru. Ada


rasa menyentuh dihati Arin melihat kakaknya dan Listi begitu dekat.


Melly mengajari Arin tentang semua proyek yang akan dia


tinggalkan. Sementara itu Listi mulai menyusun jadwal meeting dengan beberapa


perusahaan yang mewajibkan pertemuan secara formal.


Siang berganti sore. Sore berganti malam tak menyurutkan


semangat ketiga nya membahas satu persatu lembaran pekerjaan.


“Hoam..” Arin menguap.


“Ngantuk dek? Sudah jam berapa ini? tanya Melly sembari


melihat jam di tangan kanan nya. “Astaga sudah jam Sembilan malam dan kita


masih disini..” menepuk pelan jidatnya sendiri.


“Wah wah wah.. hari pertama kerja aku udah lembur ni” ucap


Arin.


“Hahaha.. Kamu karyawan teladan dekl. Ntar upah lembur nya


jangan lupa ditagih ya hehehe” ucap Melly membuat ketiganya tertawa.


Setelah membereskan meja kerja yang penuh dengan kertas itu,


ketiganya bersiap untuk pergi kesalah satu warung pinggir jalan dekat kantor


untuk mengisi perut yang sudah bernyanyi.


Setelah selesai makan, Listi pamit pulang


terlebih dahulu menggunakan taksi online sementara kedua kakak beradik itu juga

__ADS_1


pulang kerumah mereka.


__ADS_2