Dia Sahabatku

Dia Sahabatku
Pertemuan Pertama..


__ADS_3

Pertemuan Pertama….


Sore itu cuaca sangat cerah, secerah raut wajah kedua


sahabat itu dan secerah warna merah samar di lengan dan kaki wanita yang sedang


menahankan nyeri ketika bik iyem memberikan salep di lukanya.


Wanita paruh baya yang berusia sekitar 60an tahun itu pun


dengan lembut mengobati kaki Melly. “Udah bik biar temen saya aja yang ngobati.


Dia dokter bik udah kewajiban dia kan mengobati yang sakit,, hehehehe” menepis


tangan bik iyem dengan lembut dan menarik tangan sahabatnya.


“udah gak apa apa non, eh bibik sampek lupa nanya nama nya.


Nama non siapa? Terus temen nya namaya siapa?” sambil mengolesi salap di luka


Melly.


“Kenalin bik nama saya Melly ini sahabat saya Sherly”


mengulurkan tangan mengajak kenalan bik iyem yang sudah siap dengan salap nya.


“Sherly bik” ikut menjabat tangan bik iyem.


“Melly” mengulurkan tangan ke pria yang tadi menabrak nya.


“Alfin” menerima uluran tangan Melly dan menerima uluran


tangan Sherly.


Peristiwa sore itu membuat lupa dua sahabat itu tujuan


mereka keluar sore hari ini. Impian untuk makan ramen di Mall pun hilang sudah


dari fikiran mereka. Rencana nonton dan belanja pun sudah ntah kemana perginya.


Semua rencana awal yang sudah mereka susun dari siang berubah.


Pertemuan yang diawali dengan tragedi itu pun berubah menjadi


pertemuan yang sangat menyenangkan. Mereka ngobrol dan saling berkenalan.


Pembicaraan pun tak luput dari asal muasal berdirinya warung milik bik iyem.

__ADS_1


“Awalnya tu bibik doyan makan non, trus belajar masak dari


gadis dan dari dulu masakan bibik udah mantap lah non hehehe” mengacungkan


jempol memuji masakan sendiri. “Pede banget ya bik iyem, tapi kami belum


nyobain ni bik masakan bibik yang mantap itu. kecepatan ni tutup nya bibik”


sahut Sherly sembari melirik warung bik iyem yang sudah kosong.


Warung bik iyem terletak di ujung gang. Gang yang diapit


beberapa bangunan ruko tinggi yang didalam gang itu hanya ada 1rumah yaitu


rumah bik iyem dan didepan rumah ada beberapa meja dan kursi untuk pelanggan


setia bik iyem kalau mereka makan.


“Jadi bik jam berapa bibik buka nya? Kok orang orang pada


tau warung bibik? Kan gak keliatan dari depan, Cuma keliatan spanduk doing di


depan gang nya” tanya Melly sambil menyeruput the yang di sajikan bik iyem


tadi.


“eits jangan salah Mel, meskipun tempat nya didalam gang dan


didalam rumah bik iyem karna gak kedapetan kursi” menunjuk ke rumah bik iyem yg


ada dibelakang warung “pokok nya jangan ngarep dapet tempat duduk kalau datang


jam 11. Padahal gue datang kadang lewat dikit aja gak dapat tempat. Ya kan


bik?” meminta persetujuan bik iyem atas kata kata nya tadi sambil merangkul bik


iyem.


Waktu berlalu tanpa bisa dikendalikan. Senja sudah berganti


malam menandakan waktu yang semakin larut. Entah kenapa obrolan mereka jadi


sangat nyaman diselingi tawa secara bersama sama. Bik iyem yang tadinya duduk


santai ikut mengobrol pun sekarang sudah membawa peralatan tempur nya. Ada


banyak bawang,cabe,dan segala rempah rempah untuk keperluan memasak nya diatas

__ADS_1


meja yang biasanya dipakai pelanggan setia nya untuk makan kini berubah menjadi


meja yang penuh dengan semua nya.


Tangan ketiganya pun ikut membantu bik iyem yang sedang


repot itu. “Udah fin, non gak usah dibantuin bibik nya ntar juga siap ini


semua” tolakan bik iyem yang enggan dibantu.


“Enggak apa apa bik, kami kan udah gangguin bibik karna


nongkrong disini. Anggap aja ini bayaran untuk waktu dan tempat ini bik. Kalian


ngak pulang? Udah jam 9 ni. Ntar dicariin mama kalian. Atau dicariin pacar


kalian? Hehehe” melihat jam yang sepertinya bergulir begitu cepat nya.


“Eh kami ngak punya pacar” sahut dua sahabat itu dengan


kompak nya.


“hahaha.. kompak banget ya kalian..”


“Yuk Sher pulang. Loe yang bawa mobil gue ya. Kaki gue masih


nyeri ni” “menunjukkan kaki yang luka tadi.


“Iya iya. Ngak usah luka pun biasanya gue yang bawa setiap


pulang nongkrong”.


“Kalian lucu ya. Akrab banget sepertinya. Kapan kapan kita


nongkrong bareng lagi ya disini. Boleh akn bik?”


Ketiganya diam membisu sambil menunjukkan tatapan penuh


makna kepada bik iyem  menunggu jawaban


dari bik iyem.


“Boleh aja. Pintu rumah bibik selalu terbuka untuk anak anak


manis seperti kalian ini” kedipan mata bik iyem manandakan persetujuan wanita


itu.

__ADS_1


“Bye..” lambaian tangan Alfin mengiringi keduanya menuju


rumah masing masing.


__ADS_2