
Pertemuan Pertama….
Sore itu cuaca sangat cerah, secerah raut wajah kedua
sahabat itu dan secerah warna merah samar di lengan dan kaki wanita yang sedang
menahankan nyeri ketika bik iyem memberikan salep di lukanya.
Wanita paruh baya yang berusia sekitar 60an tahun itu pun
dengan lembut mengobati kaki Melly. “Udah bik biar temen saya aja yang ngobati.
Dia dokter bik udah kewajiban dia kan mengobati yang sakit,, hehehehe” menepis
tangan bik iyem dengan lembut dan menarik tangan sahabatnya.
“udah gak apa apa non, eh bibik sampek lupa nanya nama nya.
Nama non siapa? Terus temen nya namaya siapa?” sambil mengolesi salap di luka
Melly.
“Kenalin bik nama saya Melly ini sahabat saya Sherly”
mengulurkan tangan mengajak kenalan bik iyem yang sudah siap dengan salap nya.
“Sherly bik” ikut menjabat tangan bik iyem.
“Melly” mengulurkan tangan ke pria yang tadi menabrak nya.
“Alfin” menerima uluran tangan Melly dan menerima uluran
tangan Sherly.
Peristiwa sore itu membuat lupa dua sahabat itu tujuan
mereka keluar sore hari ini. Impian untuk makan ramen di Mall pun hilang sudah
dari fikiran mereka. Rencana nonton dan belanja pun sudah ntah kemana perginya.
Semua rencana awal yang sudah mereka susun dari siang berubah.
Pertemuan yang diawali dengan tragedi itu pun berubah menjadi
pertemuan yang sangat menyenangkan. Mereka ngobrol dan saling berkenalan.
Pembicaraan pun tak luput dari asal muasal berdirinya warung milik bik iyem.
__ADS_1
“Awalnya tu bibik doyan makan non, trus belajar masak dari
gadis dan dari dulu masakan bibik udah mantap lah non hehehe” mengacungkan
jempol memuji masakan sendiri. “Pede banget ya bik iyem, tapi kami belum
nyobain ni bik masakan bibik yang mantap itu. kecepatan ni tutup nya bibik”
sahut Sherly sembari melirik warung bik iyem yang sudah kosong.
Warung bik iyem terletak di ujung gang. Gang yang diapit
beberapa bangunan ruko tinggi yang didalam gang itu hanya ada 1rumah yaitu
rumah bik iyem dan didepan rumah ada beberapa meja dan kursi untuk pelanggan
setia bik iyem kalau mereka makan.
“Jadi bik jam berapa bibik buka nya? Kok orang orang pada
tau warung bibik? Kan gak keliatan dari depan, Cuma keliatan spanduk doing di
depan gang nya” tanya Melly sambil menyeruput the yang di sajikan bik iyem
tadi.
“eits jangan salah Mel, meskipun tempat nya didalam gang dan
didalam rumah bik iyem karna gak kedapetan kursi” menunjuk ke rumah bik iyem yg
ada dibelakang warung “pokok nya jangan ngarep dapet tempat duduk kalau datang
jam 11. Padahal gue datang kadang lewat dikit aja gak dapat tempat. Ya kan
bik?” meminta persetujuan bik iyem atas kata kata nya tadi sambil merangkul bik
iyem.
Waktu berlalu tanpa bisa dikendalikan. Senja sudah berganti
malam menandakan waktu yang semakin larut. Entah kenapa obrolan mereka jadi
sangat nyaman diselingi tawa secara bersama sama. Bik iyem yang tadinya duduk
santai ikut mengobrol pun sekarang sudah membawa peralatan tempur nya. Ada
banyak bawang,cabe,dan segala rempah rempah untuk keperluan memasak nya diatas
__ADS_1
meja yang biasanya dipakai pelanggan setia nya untuk makan kini berubah menjadi
meja yang penuh dengan semua nya.
Tangan ketiganya pun ikut membantu bik iyem yang sedang
repot itu. “Udah fin, non gak usah dibantuin bibik nya ntar juga siap ini
semua” tolakan bik iyem yang enggan dibantu.
“Enggak apa apa bik, kami kan udah gangguin bibik karna
nongkrong disini. Anggap aja ini bayaran untuk waktu dan tempat ini bik. Kalian
ngak pulang? Udah jam 9 ni. Ntar dicariin mama kalian. Atau dicariin pacar
kalian? Hehehe” melihat jam yang sepertinya bergulir begitu cepat nya.
“Eh kami ngak punya pacar” sahut dua sahabat itu dengan
kompak nya.
“hahaha.. kompak banget ya kalian..”
“Yuk Sher pulang. Loe yang bawa mobil gue ya. Kaki gue masih
nyeri ni” “menunjukkan kaki yang luka tadi.
“Iya iya. Ngak usah luka pun biasanya gue yang bawa setiap
pulang nongkrong”.
“Kalian lucu ya. Akrab banget sepertinya. Kapan kapan kita
nongkrong bareng lagi ya disini. Boleh akn bik?”
Ketiganya diam membisu sambil menunjukkan tatapan penuh
makna kepada bik iyem menunggu jawaban
dari bik iyem.
“Boleh aja. Pintu rumah bibik selalu terbuka untuk anak anak
manis seperti kalian ini” kedipan mata bik iyem manandakan persetujuan wanita
itu.
__ADS_1
“Bye..” lambaian tangan Alfin mengiringi keduanya menuju
rumah masing masing.