Dia Sahabatku

Dia Sahabatku
Episode 22


__ADS_3

Setelah semua urusan di kota XX selesai, Melly dan Listi


segera melajukan mobil menuju kantor. Selama diperjalanan Melly membaca email


dan mencoba menghubungi pimpinan PT Enigma. Tiga jam perjalanan telah berlalu


dan mereka tiba dikantor tepat pukul 7 malam.


“Selamat malam semua” mengucapkan salam ketika sudah masuk


ke ruang rapat dikantor yang sudah sepi.


“Malam bu.”


Hanya terdengar suara dari beberapa orang yang hadir dalam


rapat.


“Baik sebelum kita mulai rapat, saya mau nanya kalian semua


udah makan?” tnaya Melly menatap karyawan yang sudah ada didepannya.


“kebetulan selama menunggu ibu tadi, kami pakai waktu nya


untuk makan malam bu” jawab pak Anwar.


“Baik kalau begitu. Kita sudah bisa memulai rapat ini.”


Rapat berlangsung selama 2jam tanpa jeda. Di waktu itu juga


sang arsitek mengubah dan menyiapkan gambar yang sudah direvisi.


“Sudah selesai rapat hari ini, terima kasih atas


kerjasamanya. Besok saya akan bertemu dengan pimpinan PT. Enigma dan semoga


semua nya berjalan lancar.”


“Terima kasih atas bantuannya bu, dan maafkan kami yang


kurang teliti sehingga terjadi masalah seperti ini” ucap pak Anwar dengan wajah


yang sangat menyesal. Pak Anwar sadar betul kalau semua ini salahnya. Andai


saja sebelum meeting dia mengecek kembali gambar tersebut maka tidak akan ada


hal seperti ini.


“Tidak apa apa pak. Lain kali kedepannya saya harap kita


semua lebih hati hati. Sekarang semua nya sudah boleh pulang. Istirahatlah”


membereskan semua berkas di meja nya dan bersiap pulang.

__ADS_1


“Mel, aku pulang sama Fina aja ya. Kita satu arah soalnya.


Kan gak mungkin kamu anterin aku lagi. Kamu juga capek dan harus istirahat kan?


Jangan lupa makan ya. Kan kamu belum makan malam” ucap LIsti.


“Oke Lis, kamu juga jgn lupa makan dan istirahat lah karna


besok hari yang panjang buat kita”.


…………………………………………………………………………………………………….


Dihotel..


“Sayang aku mau ke kamar Melly dulu yam au bilang kalau aku


harus pulang hari ini juga” ucap Sherly yang baru saja tiba dihotel setelah


dijemput Alfin.


“Yaudah ayuk aku temani.”


Sesampainya dikamar, Sherly melihat kamar sudah kosong.


Hanya ada karyawan hotel yang sedang membersihkan kamar.


“Loh, yang nginap dikamar ini kemana ya mbak?” tanya Alfin


ke karyawan hotel.


“Chek out? Kok Melly gak bilang ya?” menatap Alfin yang juga


tak kalah bingung nya.


“Yaudah kamu siapi barang barang kamu ya. Kita kan juga mau


checkout hari ini. Ntar kita hub pas dijalan aja”.


Selama diperjalana Sherly menghubungi Melly tapi nomor nya


tidak aktif. Nomor Listi pun tak luput menjadi sasaran telfon Sherly tapi hal


sama dia dapatkan bahwa hp LIsti juga tidak aktif.


“Mereka pasti baik baik aja. Mungkin ada yang penting sampai


mereka tidak ngasi kabar ke kamu” menggenggam tangan Sherly yang sudah dingin


karna rasa cemas.


………………………………………………………………………………………….


“Waduh, banyak amat miscall dari Sherly” ucap Melly setelha

__ADS_1


melihat layar hp nya.


“Halo, kamu dimana? Kok gak ada kabar? Ditelfon juga susah


banget. Kalian gak apa apa kan?” suara diseberang telfon yang terdengar


gelisah.


“Iya. Aku di parkiran kantor. Sorry gak ngabarin kalian


karna tadi buru buru dan hp aku lowbet gak sempat di cas tadi. Kamu dimana?


Masih di kota XX?” tanya Melly.


“Gak aku udah dirumah. Tadi aku sama Alfin langsung pulang


karna seminar ku udah selesai dan kerjaan Alfin katanya juga udah selesai.


Kaget banget aku tu pas lihat kamar, kalian udah gak ada.”


“Oh, yaudah kalau gitu aku pulang dulu ya. Besok kita


telfonan lagi ya. Istirahatlah. Bye.”


“Ok, kamu hati hati ya dan selamat istirahat juga.”


Setelah selesai berbicara dengan Sherly, Melly mengemudikan


mobil nya menuju tempat ternyaman dan terindah yaitu rumah.


“Eh, non sudah pulang” ucak Bik Ina yang langsung membuka


pintu ketika suara bel berbunyi.


“Iya bik. Mama mana?.”


“Ibu sama tuan udah masuk kamar daritadi non. Non Arin juga


sudah masuk kamar.”


“Oh yaudah bik. Biarkan mereka istirahat. Bik tolong bawakan


aku jus jambu merah ya dan roti selai coklat ya. Aku lapar banget. Aku tunggu


dikamar ya.” Melepaskan sepatu dan bersiap naik menuju kamar nya.


“Gak mau makan nasi non?” tanya bik Ina.


“Gak bik. Gak selera nasi.”


Akhirnya sampai


dikamar juga. Kamarku, aku rindu.

__ADS_1


Berbaring dikamar sendiri memang terasa lebih nyaman


ketimbang hotel bintang 5 sekalipun.


__ADS_2