
Setelah selesai berbicara dengan Alfin, Melly langsung
menghapus airmatanya dan kembali ke meja kerja.
Tring Tring Tring terdengar suara memanggil dari ponsel
Melly.
“Halo.”
“Mel, jamberapa jemput nya?”
“Sebentar lagi aku gerak kesana” menatap jam didinding
ruangan nya dan ternyata sudah jam lima sore.
“Ya. Aku tunggu di lobi ya.”
“Oke.”
“Lis, tolong kamu beresi semua berkas berkas ini ya. Setelah
itu kamu boleh pulang ya. Kita lanjutin besok aja.”
Melly langsung mengambil tas dan memasukkan ponsel nya
kedalam tas segera menuju lift untuk ke lantai bawah dan menuju parkiran. Mobil
melaju dengan kecepatan sedang. Setelah setengah jam berkendara Melly tiba
dirumah sakit. Sherly yang melihat mobil Melly sudah tiba langsung berlari
kecil kearah mobil itu dan langsung masuk.
“Sorry ya lama” ucap Melly setelah Sherly duduk dan memasang
sabuk pengamannya.
“Iya gak apa apa. Kita ke supermarket dulu ya. Mau beli buah
untuk Alfin.”
“Oke.”
Sesampainya di supermarket yang tak jauh dari rumah sakit,
Sherly dan Melly langsung memilih beberapa jenis buah yang akan mereka bawa.
“Aku mau ini” ucap Melly seraya menunjuk buah kiwi
didepannya.
“Ya, ambillah. Itu juga boleh” menunjuk jeruk Sunkist
kesukaan Melly.
“Wow.. terima kasih cintaku.”
“Idih baru dibelikan kiwi dan sunkist sudah memanggil ku
dengan sebutan cintaku. Gimana kalau aku membelikan mu rumah?”
“Kalau kamu membelikan rumah untukku aku akan menyanjung mu
dengan lagu lagu pujian setiap hari hahahahahaha” tawa Melly terdengar oleh beberapa
orang yang ada disekitar mereka.
“Hush bising amat sih. Diliatin orang orang ni” menutup
mulut sahabat nya itu.
“Hahaha.. iya iya. Aku tutup mulut ni” menutup mulut nya
sendiri dengan tangan nya.
Hampir satu jam mereka di supermarket itu. sebuah keranjang
yang sudah berisi beberapa jenis buah kini ada di tangan Sherly. Sementara
Melly sudah menggenggam kantongan berisi buah pilihannya juga makanan ringan
pilihannya.
__ADS_1
Mereka kembali ke mobil dan mulai melajukan mobil kearah
tujuan mereka. Kemacetan ibu kota membuat mereka tiba dirumah Alfin dengan
menempuh waktu hampir satu jam untuk menuju rumah Alfin.
“Udah jam segini ganggu gak ya??” ucap Sherly sembari
melihat jam ditangan nya ketika mereka sudah sampai didepan gerbang rumah Alfin.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.
“Kalau ragu telfon aja dulu. Tapi biasanya mereka jam segini
belum tidur sih.”
“Kok lo tau?”
“Ehh iya ya,, kok gue tau ya?” nyengir sendiri setelah
merasa dirinya mengucapkan kata yang tak seharusnya.
“Yaudah deh. Kan gak mungkin udah sampek sini kita pulang.”
“Oke.”
Melly turun dari mobil dan menekan bel didepan gerbang.
“Eh non Melly. Sebentar non saya bukain” kata satpam yang
mkeluar pintu kecil disudut pagar.
Ketika pagar dibuka, mobil memasuki rumah mewah itu.
“Yuk turun.”
“Deg degan gue. Pertama kali ni kerumah Alfin.”
“Eleh gak apa itu.”
Rasa deg degan bercampur khawatir berkecamuk di dada Sherly.
Ini untuk pertama kalinya ia datang ke rumah Alfin, tapi ini untuk kesekian
kalinya Melly datang kerumah itu.
“Eh, non Melly datang. Silahkan non” sambutan salah seorang
ART dirumah itu.
“Eh kok bibik itu bisa kenal lu? Lu udah pernah kemari?”
tanya Sherly penasaran.
“Udah kemaren sekali doang kok.”
“Kapan?”
“Pas kami keluar nongkrong lo gak bisa ikut. Terus singgah
kemari” jawab Melly berbohong karna ia tak mau Sherly curiga.
“Eh, Melly datang nakku” sambut mama Alfin yang langsung
memeluk Melly.
“Iya tante” senyum canggung tampak dari wajh Melly.
“Udah lama kamu gak mampir nak. Eh, ini yang namanya Sherly
pasti ya?” menunjuk Sherly.
“Iya, tante kenalkan saya Sherly.”
“Iya, saya mamanya Alfin. Mari duduk sini.”
“Iya tante.”
Melly dan Sherly duduk disamping mamanya Alfin.
“Kalian pasti mau jenguk Alfin ya?” tanya mama.
“Iya tante. Kami mau jenguk Alfin katanya dia sakit ya tan?”
__ADS_1
jawab Sherly yang berada tepat disamping mama. Melly sengaja membiarkan
Sherly untuk duduk disamping mama Alfin
agar mereka lebih dekat lagi.
“Iya, sakit dia itu. Semalam gitu pulang dari luar kota
langsung demam. Tapi udah agak turun sih.”
“Boleh saya melihat nya tante?”
“Boelh dong. Naik aja ke lantai dua kamar nya paling sudut”
ucap mama Alfin sembari menunjuk lantai atas.
“Yuk Mel.”
“Gak ah, lu aja yang naik. Gue tunggu sini.”
“Oke deh. Permisi ya tante saya naik dulu.”
“Ya, silahkan” tersenyum ke Sherly mempersilahkan wanita itu
untuk menjenguk anak nya. “Kamu kenapa gak ikut? Mau biarin mereka berdua ya
nak?” tanyanya ke Melly.
“Iya tante” jawab Melly canggung.
“Sayang, kamu udah tante anggap seperti anak tante sendiri.
Tante juga udah bicara dengan Alfin. Tante udah tau semuanya. Kenapa kamu
ngelakuin itu? kamu rela cintamu pergi dengan orang lain?”.
“Iy..Iya tante” ragu Melly menjawab. Dia tak menyangka kalau
Alfin akan menceritakan semuanya ke mamanya.
“Kenapa nak? Boleh tante tau alasan nya?”
Sebelum menjawab pertanyaan mama Alfin, Melly melihat ke
atas untuk memastikan kalau Sherly tak akan mendengarkan pmbicaraan mereka.
“Maaf tante” kata yang keluar pertama kalinya dari mulut
Melly sebelum ia menjelaskan. “Maaf kalau Melly membuat tante kecewa. Melly
sangat menyanyangi mereka berdua tan, Melly gak mungkin membiarkan Sherly
menjauh hanya karna perasaan Melly ke Alfin begitu juga sebaliknya Melly gak
mau Alfin menjadi pihak yang membuat hubungan Melly dan Sherly hancur. Melly
rasa yang terbaik adalah membiarkan Sherly dan Alfin menjadi pasangan.”
“Kamu ikhlas?”
“Iya tante. Melly ikhlas meskipun sakit melihat mereka
bersama. Tapi Melly yakin rasa ini akan terbiasa dan Melly berharap rasa ini
akan hilang.” Tanpa disadarinya airmata turun menetes dipipinya. Mama Alfin
yang menatap Melly menghapus air mata dipipi Melly.
“Tante ngerti perasaan kamu nak. Kamu tau perasaan Alfin?”
“Melly tau tante,. Melly tau pasti Alfin marah dan kecewa
karna keputusan Melly ini. Tapi Melly juga yakin kalau dia pasti bahagia sama
Sherly. Sherly wanita yang baik tante. Sherly pasti bisa ngebahagian Alfin dan
buat Alfin Jatuh cinta sama dia.”
“Tangisan kamu ini tante anggap sebagai rasa cinta mu yang
besar ke anak tante. Tante berterima kasih karna cintamu ini. Tapi bisakah kamu
pikirkan kembali ini nak?”
__ADS_1
Bukan jawaban yang Melly berikan tapi ia langsung memeluk
mama Alfin sembari menangis.