Dia Sahabatku

Dia Sahabatku
Episode 24


__ADS_3

Setelah selesai berbicara dengan Alfin, Melly langsung


menghapus airmatanya dan kembali ke meja kerja.


Tring Tring Tring terdengar suara memanggil dari ponsel


Melly.


“Halo.”


“Mel, jamberapa jemput nya?”


“Sebentar lagi aku gerak kesana” menatap jam didinding


ruangan nya dan ternyata sudah jam lima sore.


“Ya. Aku tunggu di lobi ya.”


“Oke.”


“Lis, tolong kamu beresi semua berkas berkas ini ya. Setelah


itu kamu boleh pulang ya. Kita lanjutin besok aja.”


Melly langsung mengambil tas dan memasukkan ponsel nya


kedalam tas segera menuju lift untuk ke lantai bawah dan menuju parkiran. Mobil


melaju dengan kecepatan sedang. Setelah setengah jam berkendara Melly tiba


dirumah sakit. Sherly yang melihat mobil Melly sudah tiba langsung berlari


kecil kearah mobil itu dan langsung masuk.


“Sorry ya lama” ucap Melly setelah Sherly duduk dan memasang


sabuk pengamannya.


“Iya gak apa apa. Kita ke supermarket dulu ya. Mau beli buah


untuk Alfin.”


“Oke.”


Sesampainya di supermarket yang tak jauh dari rumah sakit,


Sherly dan Melly langsung memilih beberapa jenis buah yang akan mereka bawa.


“Aku mau ini” ucap Melly seraya menunjuk buah kiwi


didepannya.


“Ya, ambillah. Itu juga boleh” menunjuk jeruk Sunkist


kesukaan Melly.


“Wow.. terima kasih cintaku.”


“Idih baru dibelikan kiwi dan sunkist sudah memanggil ku


dengan sebutan cintaku. Gimana kalau aku membelikan mu rumah?”


“Kalau kamu membelikan rumah untukku aku akan menyanjung mu


dengan lagu lagu pujian setiap hari hahahahahaha” tawa Melly terdengar oleh beberapa


orang yang ada disekitar mereka.


“Hush bising amat sih. Diliatin orang orang ni” menutup


mulut sahabat nya itu.


“Hahaha.. iya iya. Aku tutup mulut ni” menutup mulut nya


sendiri dengan tangan nya.


Hampir satu jam mereka di supermarket itu. sebuah keranjang


yang sudah berisi beberapa jenis buah kini ada di tangan Sherly. Sementara


Melly sudah menggenggam kantongan berisi buah pilihannya juga makanan ringan


pilihannya.

__ADS_1


Mereka kembali ke mobil dan mulai melajukan mobil kearah


tujuan mereka. Kemacetan ibu kota membuat mereka tiba dirumah Alfin dengan


menempuh waktu hampir satu jam untuk menuju rumah Alfin.


“Udah jam segini ganggu gak ya??” ucap Sherly sembari


melihat jam ditangan nya ketika mereka sudah sampai didepan gerbang rumah Alfin.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.


“Kalau ragu telfon aja dulu. Tapi biasanya mereka jam segini


belum tidur sih.”


“Kok lo tau?”


“Ehh iya ya,, kok gue tau ya?” nyengir sendiri setelah


merasa dirinya mengucapkan kata yang tak seharusnya.


“Yaudah deh. Kan gak mungkin udah sampek sini kita pulang.”


“Oke.”


Melly turun dari mobil dan menekan bel didepan gerbang.


“Eh non Melly. Sebentar non saya bukain” kata satpam yang


mkeluar pintu kecil disudut pagar.


Ketika pagar dibuka, mobil memasuki rumah mewah itu.


“Yuk turun.”


“Deg degan gue. Pertama kali ni kerumah Alfin.”


“Eleh gak apa itu.”


Rasa deg degan bercampur khawatir berkecamuk di dada Sherly.


Ini untuk pertama kalinya ia datang ke rumah Alfin, tapi ini untuk kesekian


kalinya Melly datang kerumah itu.


“Eh, non Melly datang. Silahkan non” sambutan salah seorang


ART dirumah itu.


“Eh kok bibik itu bisa kenal lu? Lu udah pernah kemari?”


tanya Sherly penasaran.


“Udah kemaren sekali doang kok.”


“Kapan?”


“Pas kami keluar nongkrong lo gak bisa ikut. Terus singgah


kemari” jawab Melly berbohong karna ia tak mau Sherly curiga.


“Eh, Melly datang nakku” sambut mama Alfin yang langsung


memeluk Melly.


“Iya tante” senyum canggung tampak dari wajh Melly.


“Udah lama kamu gak mampir nak. Eh, ini yang namanya Sherly


pasti ya?” menunjuk Sherly.


“Iya, tante kenalkan saya Sherly.”


“Iya, saya mamanya Alfin. Mari duduk sini.”


“Iya tante.”


Melly dan Sherly duduk disamping mamanya Alfin.


“Kalian pasti mau jenguk Alfin ya?” tanya mama.


“Iya tante. Kami mau jenguk Alfin katanya dia sakit ya tan?”

__ADS_1


jawab Sherly yang berada tepat disamping mama. Melly sengaja membiarkan


Sherly  untuk duduk disamping mama Alfin


agar mereka lebih dekat lagi.


“Iya, sakit dia itu. Semalam gitu pulang dari luar kota


langsung demam. Tapi udah agak turun sih.”


“Boleh saya melihat nya tante?”


“Boelh dong. Naik aja ke lantai dua kamar nya paling sudut”


ucap mama Alfin sembari menunjuk lantai atas.


“Yuk Mel.”


“Gak ah, lu aja yang naik. Gue tunggu sini.”


“Oke deh. Permisi ya tante saya naik dulu.”


“Ya, silahkan” tersenyum ke Sherly mempersilahkan wanita itu


untuk menjenguk anak nya. “Kamu kenapa gak ikut? Mau biarin mereka berdua ya


nak?” tanyanya ke Melly.


“Iya tante” jawab Melly canggung.


“Sayang, kamu udah tante anggap seperti anak tante sendiri.


Tante juga udah bicara dengan Alfin. Tante udah tau semuanya. Kenapa kamu


ngelakuin itu? kamu rela cintamu pergi dengan orang lain?”.


“Iy..Iya tante” ragu Melly menjawab. Dia tak menyangka kalau


Alfin akan menceritakan semuanya ke mamanya.


“Kenapa nak? Boleh tante tau alasan nya?”


Sebelum menjawab pertanyaan mama Alfin, Melly melihat ke


atas untuk memastikan kalau Sherly tak akan mendengarkan pmbicaraan mereka.


“Maaf tante” kata yang keluar pertama kalinya dari mulut


Melly sebelum ia menjelaskan. “Maaf kalau Melly membuat tante kecewa. Melly


sangat menyanyangi mereka berdua tan, Melly gak mungkin membiarkan Sherly


menjauh hanya karna perasaan Melly ke Alfin begitu juga sebaliknya Melly gak


mau Alfin menjadi pihak yang membuat hubungan Melly dan Sherly hancur. Melly


rasa yang terbaik adalah membiarkan Sherly dan Alfin menjadi pasangan.”


“Kamu ikhlas?”


“Iya tante. Melly ikhlas meskipun sakit melihat mereka


bersama. Tapi Melly yakin rasa ini akan terbiasa dan Melly berharap rasa ini


akan hilang.” Tanpa disadarinya airmata turun menetes dipipinya. Mama Alfin


yang menatap Melly menghapus air mata dipipi Melly.


“Tante ngerti perasaan kamu nak. Kamu tau perasaan Alfin?”


“Melly tau tante,. Melly tau pasti Alfin marah dan kecewa


karna keputusan Melly ini. Tapi Melly juga yakin kalau dia pasti bahagia sama


Sherly. Sherly wanita yang baik tante. Sherly pasti bisa ngebahagian Alfin dan


buat Alfin Jatuh cinta sama dia.”


“Tangisan kamu ini tante anggap sebagai rasa cinta mu yang


besar ke anak tante. Tante berterima kasih karna cintamu ini. Tapi bisakah kamu


pikirkan kembali ini nak?”

__ADS_1


Bukan jawaban yang Melly berikan tapi ia langsung memeluk


mama Alfin sembari menangis.


__ADS_2