
Mobil melaju dengan normal menuju rumah Sherly. Diperjalanan
tak terdengar suara apapun selain radio yang bersuara. Mereka tenggelam dengan
fikiran mereka masing masing. Sherly masih tak menyangka dengan tindakan Alfin.
Begitu juga dengan Melly yang tak menyangka kalau Alfin akan mencium Sherly.
Melly mencoba menolak perasaan sakit hatinya karena hubungan
Alfin dan Sherly terjadi karena paksaan dari nya. Tak pantas rasanya untuk
merasa cemburu pada mereka. Apa pun yang mereka lakukan bukanlah urusannya. Mereka
menjadi pasangan karena Melly memaksa Alfin. Mereka pacaran juga karena Melly
yang memaksa. Tak pantas bagi Melly untuk merasa cemburu pada mereka.
“Mell” panggil Sherly membuyarkan lamunan Melly.
“Ha?” tetap menatap kedepan.
“Tadi Alfim mencium ku” menunjuk bibirnya sendiri mengatakan
dengan tindakan kalau bibir nya yang telah dicium.
“Ya. Terus?” menoleh sekilas.
“Aku bahagia dong. Itu tandanya dia benar benar
mencintaiku.”
“Baguslah” menjawab seadanya sambil menekan kencang stiur
mobil.
“Padahal aku Cuma bertanya tentang perasaan nya tapi dia
malah menjawab dengan mencium ku. Aku rasa mala mini aku akan tidur dengan
nyenyak.. hehehehe” mentoel dagu sahabatnya yang sedang menyetir.
“Yasudah. Tidurlah dengan nyenyak hari ini. aku juga mau
tidur dengan nyenyak. Silahkan keluar hush hush.”
“Eh udah sampek ya?”
“Udah lah. Makanya jangan menghayal melulu jadi gak tau kan
kalau udah sampek.”
“Hehehe.. nama nya juga lagi seneng. Makasih ya Mell. Aku
masuk duluan ya. Hati hati dijalan. Bye” turun dari mobil dan melambaikan
tangna ke Melly.
Melly melajukan mobil nya dengan tujuan kembali kerumah.
Sampai tiba tiba telfon bordering. Melihat siapa yang menelfon rasa enggan
untuk menjawab telfon itu. berkali kali si penelfon tak kunjung berhenti
mengganggu nya. Akhirnya telfon yang sedari tadi berbunyi pun diangkat Melly.
“Kamu pasti sudah menuju kerumah kan?” tnaya pria dia
seberang sana.
“Hemm” jawaban singkat.
“Maaf.”
“Untuk apa?” bingung Melly mendengarkan perkataan pria itu.
melly memberhentikan mobil nya di pinggir jalan karena ia cukup tau peraturan
berkendara yang melarang setiap pengendari menggunakan telfon ketika sedang
menyetir.
“Untuk apa yang kamu liat tadi.”
“Kamu tak perlu menjelaskan nya. Kamu dan aku hanya sebatas
__ADS_1
sahabat. Jadi kamu tak perlu menjelaskan semua perbuatan mu padaku. Tapi terima
kasih. Terima kasih untuk kebahagian yang kamu berikan ke Sherly.”
“Maksud kamu?” Alfin terdengar tak suka dengan penjelasan
Melly.
“Sherly sangat senag dengan tindakan mu. Tindakan mu
menggambarkan perasaan sayang mu padanya.” Dari nada bicara Melly sudah dapat
diartikan kalau ia tak suka dengan tindakan Alfin.
“Seperti nya kata kata mu tak sesuai dengan isi hatimu.
Jangan membohongiku lagi. Kamu masih mencintaiku. Terlihat dari airmata yang
menetes tadi” seringai tipis muncul dibibir Alfin.
“Itu airmata kebahagian. Sudahlah, aku sangat lelah dan
ingin segera kembali kerumah. Jangan mengganggu seseorang yang sedang
menyetir.”
“Baiklah, hati hati dijalan. Aku masih mencintaimu.”
Telfon terputus tapi tidak dengan pikiran keduanya. Mereka
masih memikirkan satu sama lain. Alfin berharap Melly kembali padanya.
Sementara Melly berharap ia bisa melupakan rasa cintanya ke Alfin. Sungguh
rumit kisah ini pikir mereka berdua.
………………………………………………………………..................
Pagi kembali datang. Pagi ini semua orang melakukan
aktifitas seperti biasanya. Sherly sudah berada dirumah sakit, Alfin juga sudah
kembali ke kantor karena kondisinya sudah membaik. Harini ini Melly dan Listi
Proyek yang hamper batal itu kini mereka tangani. Kesibukan
sudah terjadi di ruangan Melly. Sudah tampak beberapa karyawan yang bekerja di
ruangan itu.
Waktu sepekan tak terasa telah berlalu. Dengan kesibukan
Melly mengurus proyek PT Enigma, waktu pertemuan antara ia dan Sherly pun
berkurang bahkan nyaris tak pernah mereka bertemu dalam sepekan belakangan.
“Sudah seminggu aku gak ketemu Melly. Bahkan telfon ku pun
jarang banget dia angkat. Sepertinya dia sibuk banget ya” ucap Sherly ke Alfin
ketika mereka sedang menuju sebuah restoran untuk makan malam.
Hari itu Sherly ingin mengenalkan Alfin dengan kedua orang
tuanya. Mereka janji ketemu disebuah restoran ditengah kota. Alfin memutuskan
untuk menjemput Sherly dirumah sakit sebelum pergi ke restoran.
“Mungkin dia sedang sibuk. Kamu bilang dia sedang menangani
proyek baru kan? Dia juga sedang menangani proyek ku yg di kota XX.”
“Iya juga ya. Semoga dia dalam keadaan sehat ya. Aku
khawatir dengan kesehatannya.”
“Yuk turun” ajaj Alfin ketika mereka sudah sampai di
restoran itu.
“Kamu grogi mau jumpai orang tua aku?” menatap Alfin yang
sedang membenarkan posisi dasi nya agar terlihat rapi.
“Gak kok. Cuma pengen terlihat rapi aja di depan kedua orang
__ADS_1
tua mu. Yaudah yuk. Mereka pasti sudah sangat lama menunggu kita.”
Alfin dan Sherly masuk ke dalam restoran mencari dimana mama
dan papa Sherly duduk. Hingga mereka menemukan orang tua Sherly duduk di sudut
resotran sedang bercengkrama.
“Selamat mala mom, tante” sapa Alfin duluan.
Orang tua Alfin menatap pria yang ada didepan mereka yang
sedang menggenggam tangan putri tercinta mereka. “Malam, silahkan duduk”.
Alfin dan Sherly duduk dihadapan orangtua Alfin. Setelah
memesan makanan, mereka berbicara saling bertukar informasi. Tentang pekerjaan
ataupun awal perjumpaan mereka.
Sherly adalah anak tunggal. Papanya bernama Bramantyo
sementara mamanya bernama Meka. Kedua orang tuanya sangat terkejut ketika
Sherly mengatakan kalau ia sudah punya pacar. Dari awal hubungan nya dengan
Alfin, orang tuanya sudah ingin berkenalan tapi Sherly selalu menolak karena
dia merasa belum saat nya.
Hingga pada hari dia sepulang dari rumah Alfin dia yakin
akan perasaan Alfin padanya. Hari itu juga dia berbicara pada orangtuanya kalau
ia akan mengatur jadwal pertemuan mereka. Karena kesibukan Alfin acara temu itu
selalu diundur sampai tiba hari ini.
“Kamu serius dengan anak saya?” pertanyaan pak Bramantyo
membuat Sherly terkejut dan langsung menatap papanya. Sherly
menggeleng-gelengkan kepalanya tanda jangan bertanya seperti itu.
“Maksudnya om?”
“Maksud saya kamu serius dengan anak saya? Saya tidak mau
kalau anak saya hanya dijadikan mainan.”
“Anak om memang seperti mainan boneka barbie om. Cantik dan
anggun.”
“Uhuk uhuk..” Sherly yang sedang minum tersedak mendengar
jawaban Alfin. Rona merah dipipinya tampak jelas.
“Terima kasih atas
pujianmu terhadap anak saya. Saya anggap jawaban kamu tadi jawaban keseriusan.
Kapan kalian akan menikah?”
“uhuk uhuk..” kali ini Alfin yang kaget mendengar pertanyaan
pak Bramantyo.
“Papa, kok langsung nanya itu sih. Aku belum mau menikah.”
“Secepatnya om kalau Sherly sudah siap” jawab Alfin yang
langsung membuat sumringah orangtua Sherly.
“Sayang kamu gak perlu meladeni pertanyaan papa.”
“Tenang lah. Kamu bisa katakana padaku kapanpun kamu siap
untuk menikah.”
“Serius?”
Alfin hanya menjawab pertanyaan Sherly dengan anggukan
kepala.
__ADS_1