Dia Sahabatku

Dia Sahabatku
Episode 27


__ADS_3

Mobil melaju dengan normal menuju rumah Sherly. Diperjalanan


tak terdengar suara apapun selain radio yang bersuara. Mereka tenggelam dengan


fikiran mereka masing masing. Sherly masih tak menyangka dengan tindakan Alfin.


Begitu juga dengan Melly yang tak menyangka kalau Alfin akan mencium Sherly.


Melly mencoba menolak perasaan sakit hatinya karena hubungan


Alfin dan Sherly terjadi karena paksaan dari nya. Tak pantas rasanya untuk


merasa cemburu pada mereka. Apa pun yang mereka lakukan bukanlah urusannya. Mereka


menjadi pasangan karena Melly memaksa Alfin. Mereka pacaran juga karena Melly


yang memaksa. Tak pantas bagi Melly untuk merasa cemburu pada mereka.


“Mell” panggil Sherly membuyarkan lamunan Melly.


“Ha?” tetap menatap kedepan.


“Tadi Alfim mencium ku” menunjuk bibirnya sendiri mengatakan


dengan tindakan kalau bibir nya yang telah dicium.


“Ya. Terus?” menoleh sekilas.


“Aku bahagia dong. Itu tandanya dia benar benar


mencintaiku.”


“Baguslah” menjawab seadanya sambil menekan kencang stiur


mobil.


“Padahal aku Cuma bertanya tentang perasaan nya tapi dia


malah menjawab dengan mencium ku. Aku rasa mala mini aku akan tidur dengan


nyenyak.. hehehehe” mentoel dagu sahabatnya yang sedang menyetir.


“Yasudah. Tidurlah dengan nyenyak hari ini. aku juga mau


tidur dengan nyenyak. Silahkan keluar hush hush.”


“Eh udah sampek ya?”


“Udah lah. Makanya jangan menghayal melulu jadi gak tau kan


kalau udah sampek.”


“Hehehe.. nama nya juga lagi seneng. Makasih ya Mell. Aku


masuk duluan ya. Hati hati dijalan. Bye” turun dari mobil dan melambaikan


tangna ke Melly.


Melly melajukan mobil nya dengan tujuan kembali kerumah.


Sampai tiba tiba telfon bordering. Melihat siapa yang menelfon rasa enggan


untuk menjawab telfon itu. berkali kali si penelfon tak kunjung berhenti


mengganggu nya. Akhirnya telfon yang sedari tadi berbunyi pun diangkat Melly.


“Kamu pasti sudah menuju kerumah kan?” tnaya pria dia


seberang sana.


“Hemm” jawaban singkat.


“Maaf.”


“Untuk apa?” bingung Melly mendengarkan perkataan pria itu.


melly memberhentikan mobil nya di pinggir jalan karena ia cukup tau peraturan


berkendara yang melarang setiap pengendari menggunakan telfon ketika sedang


menyetir.


“Untuk apa yang kamu liat tadi.”


“Kamu tak perlu menjelaskan nya. Kamu dan aku hanya sebatas

__ADS_1


sahabat. Jadi kamu tak perlu menjelaskan semua perbuatan mu padaku. Tapi terima


kasih. Terima kasih untuk kebahagian yang kamu berikan ke Sherly.”


“Maksud kamu?” Alfin terdengar tak suka dengan penjelasan


Melly.


“Sherly sangat senag dengan tindakan mu. Tindakan mu


menggambarkan perasaan sayang mu padanya.” Dari nada bicara Melly sudah dapat


diartikan kalau ia tak suka dengan tindakan Alfin.


“Seperti nya kata kata mu tak sesuai dengan isi hatimu.


Jangan membohongiku lagi. Kamu masih mencintaiku. Terlihat dari airmata yang


menetes tadi” seringai tipis muncul dibibir Alfin.


“Itu airmata kebahagian. Sudahlah, aku sangat lelah dan


ingin segera kembali kerumah. Jangan mengganggu seseorang yang sedang


menyetir.”


“Baiklah, hati hati dijalan. Aku masih mencintaimu.”


Telfon terputus tapi tidak dengan pikiran keduanya. Mereka


masih memikirkan satu sama lain. Alfin berharap Melly kembali padanya.


Sementara Melly berharap ia bisa melupakan rasa cintanya ke Alfin. Sungguh


rumit kisah ini pikir mereka berdua.


………………………………………………………………..................


Pagi kembali datang. Pagi ini semua orang melakukan


aktifitas seperti biasanya. Sherly sudah berada dirumah sakit, Alfin juga sudah


kembali ke kantor karena kondisinya sudah membaik. Harini ini Melly dan Listi


Proyek yang hamper batal itu kini mereka tangani. Kesibukan


sudah terjadi di ruangan Melly. Sudah tampak beberapa karyawan yang bekerja di


ruangan itu.


Waktu sepekan tak terasa telah berlalu. Dengan kesibukan


Melly mengurus proyek PT Enigma, waktu pertemuan antara ia dan Sherly pun


berkurang bahkan nyaris tak pernah mereka bertemu dalam sepekan belakangan.


“Sudah seminggu aku gak ketemu Melly. Bahkan telfon ku pun


jarang banget dia angkat. Sepertinya dia sibuk banget ya” ucap Sherly ke Alfin


ketika mereka sedang menuju sebuah restoran untuk makan malam.


Hari itu Sherly ingin mengenalkan Alfin dengan kedua orang


tuanya. Mereka janji ketemu disebuah restoran ditengah kota. Alfin memutuskan


untuk menjemput Sherly dirumah sakit sebelum pergi ke restoran.


“Mungkin dia sedang sibuk. Kamu bilang dia sedang menangani


proyek baru kan? Dia juga sedang menangani proyek ku yg di kota XX.”


“Iya juga ya. Semoga dia dalam keadaan sehat ya. Aku


khawatir dengan kesehatannya.”


“Yuk turun” ajaj Alfin ketika mereka sudah sampai di


restoran itu.


“Kamu grogi mau jumpai orang tua aku?” menatap Alfin yang


sedang membenarkan posisi dasi nya agar terlihat rapi.


“Gak kok. Cuma pengen terlihat rapi aja di depan kedua orang

__ADS_1


tua mu. Yaudah yuk. Mereka pasti sudah sangat lama menunggu kita.”


Alfin dan Sherly masuk ke dalam restoran mencari dimana mama


dan papa Sherly duduk. Hingga mereka menemukan orang tua Sherly duduk di sudut


resotran sedang bercengkrama.


“Selamat mala mom, tante” sapa Alfin duluan.


Orang tua Alfin menatap pria yang ada didepan mereka yang


sedang menggenggam tangan putri tercinta mereka. “Malam, silahkan duduk”.


Alfin dan Sherly duduk dihadapan orangtua Alfin. Setelah


memesan makanan, mereka berbicara saling bertukar informasi. Tentang pekerjaan


ataupun awal perjumpaan mereka.


Sherly adalah anak tunggal. Papanya bernama Bramantyo


sementara mamanya bernama Meka. Kedua orang tuanya sangat terkejut ketika


Sherly mengatakan kalau ia sudah punya pacar. Dari awal hubungan nya dengan


Alfin, orang tuanya sudah ingin berkenalan tapi Sherly selalu menolak karena


dia merasa belum saat nya.


Hingga pada hari dia sepulang dari rumah Alfin dia yakin


akan perasaan Alfin padanya. Hari itu juga dia berbicara pada orangtuanya kalau


ia akan mengatur jadwal pertemuan mereka. Karena kesibukan Alfin acara temu itu


selalu diundur sampai tiba hari ini.


“Kamu serius dengan anak saya?” pertanyaan pak Bramantyo


membuat Sherly terkejut dan langsung menatap papanya. Sherly


menggeleng-gelengkan kepalanya tanda jangan bertanya seperti itu.


“Maksudnya om?”


“Maksud saya kamu serius dengan anak saya? Saya tidak mau


kalau anak saya hanya dijadikan mainan.”


“Anak om memang seperti mainan boneka barbie om. Cantik dan


anggun.”


“Uhuk uhuk..” Sherly yang sedang minum tersedak mendengar


jawaban Alfin. Rona merah dipipinya tampak jelas.


 “Terima kasih atas


pujianmu terhadap anak saya. Saya anggap jawaban kamu tadi jawaban keseriusan.


Kapan kalian akan menikah?”


“uhuk uhuk..” kali ini Alfin yang kaget mendengar pertanyaan


pak Bramantyo.


“Papa, kok langsung nanya itu sih. Aku belum mau menikah.”


“Secepatnya om kalau Sherly sudah siap” jawab Alfin yang


langsung membuat sumringah orangtua Sherly.


“Sayang kamu gak perlu meladeni pertanyaan papa.”


“Tenang lah. Kamu bisa katakana padaku kapanpun kamu siap


untuk menikah.”


“Serius?”


Alfin hanya menjawab pertanyaan Sherly dengan anggukan


kepala.

__ADS_1


__ADS_2