
Perubahan Sikap….
Pagi ini tak secerah biasanya. Awan tak berwarna biru
melainkan berwarna abu abu dan langit pun menurunkan tetesan air yang cukup
deras. Setelah malam yang penuh drama semalam dan belum juga menemukan akhir.
Alfin yang tak ingin pisah dan melly yang tak ingin
menyakiti sahabat nya. Malam itu perjalanan tersa sunyi karna tak seorang pun
yang bicara. Kekecewaan dirasakan oleh keduanya. Hati yang tak dapat dibohongi
kalau mereka benar benar sayang satu sama lain.
Hari ini Melly yang sudah bersiapa siap untuk ke kantor
menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya. Sudah tampak papa,
mama dan adik nya di meja makan.
“Hai sayang selamat pagi” panggil mamanya yang melihat anak
nya menuju meja makan.
“Hai ma selamat pagi pa, ma, arin” duduk di kursi samping
mamanya.
“Sehat kamu nak?” ucap mamanya khawatir karna dari pulang
semalam melly langsung masuk kamar dan tak banyak bicara begitupun Alfin yang
langsung pergi pulang setelah pamit.
“Sehat ma” jawab Melly dengan singkat sambil mengolesi selai
coklat ke roti nya.
“Gimana survey nya semalam Mel” tanya pak Radit.
“Lancar pa, ntar aku mau cek berkasnya” mulai melahap roti.
“Oke, jangan kelamaan ya karna proyek ini banyak banget yang
mau ambil”.
“Baik pa” mengacungkan jempol pada papanya “aku hari ini
berangkat bareng papa ya” menatap papanya.
“Tumben amat. Mobil kamu kenapa?” jawab papanya.
“Lagi males nyetir pa”.
“Yang anter aku ke kampus siapa?” tanya Arin.
“Ntar kita anterin kamu dulu ke kampus baru ke kantor” ucap
pak Radit menatap Arin.
Setelah selesai dengan sarapan nya masing masing mereka
bertiga masuk ke mobil yang sama. Sesuai rencana awal Arin diantar kekampus dan
setelah nya pak Radit langsung menuju kantor yang tak juah dari kampus Arin.
Sekitar 15menit perjalanan menuju kantor dan mereka puntiba dikantor langsung
menuju ruangan kerja masing masing. Meskipun perusahaan ini milik papa nya tapi
Melly tak mau diperlakukan istimewa. Dia layak nya karyawan biasa.
Setelah sampai dilantai dimana ruangan nya berada, Melly
langsung memanggil Listi untuk membahas hasil survey semalam.
“Lis, kamu buatkan proposal penyetujuan untuk proyek ini ya.
__ADS_1
Saya sudah putuskan untuk menangani proyek ini. Langsung kamu buat janji sama
staf Pt XX untuk meeting pertama” memberikan file file Listi yang duduk
didepannya.
“Baik bu” menerima file trsebut.
“Kerjainnya disini aja biar saya bisa langsung cek dan kalau
pun ada tambahan bisa langsung kamu buat” ucap Melly.
“Baik bu sebentar saya ambil laptop saya bu” jawab Listi
“Lis, saya hari ini ada jadwal gak ya?” ucap Melly ketika
Listi sudah kembali dengan membawa laptop nya dan kembali duduk di depan Melly.
“Hari ini kosong bu karna meetng dengan PT ZZ sudah
diwakilkan pak Azwar.
“Oke baiklah berarti kita bisa focus untuk proposal ini”
jawab Melly dan segera mengambil hp nya yang bordering.
Melihat nama dilayar ponsel nya membuat Melly mengurungkan
niat untuk menjawab telfon itu. sudah 3kali hp bordering dan Melly yang merasa
sedikit terganggu akhirnya menjab telfoin.
“Halo sayang” suara Alfin di sebrang sana.
“Hemmmm.. aku sedang sibuk. Jangan menelfon” jawab Melly
ketus.
“Baiklah. Kalau begitu dengarkan aku tanpa menjawab dan
cukup bilang iya” ucap Alfin.
“Nanti aku jemput jam 12 untuk makan siang”
“Gak bisa” singkat menjawab.
“Kenapa?”.
“Tadi kan aku sudah bilang lagi sibuk” ketus menjawab.
“Baiklah kalau begitu aku yang datang ke kantor mu membawa
makan siang” tanpa mendengar jawaban dari Melly, telfon langsung terputus.
Melly dan Listi melanjutkan perkerjaan mereka. Sesekali
Melly melihar jam di dinding. Hp nya bordering lagi. Tanda panggilan masuk.
Dilihat nya ternyata papanya yang telfon.
“Halo ya pa”
“keputusannya mana sayang?” ucap papanya.
“Oia pa lupa aku ngabarinnya” menepuk jidatnya sambil
tersenyum “aku terima pa proyek ini. Ini lagi bikin proposal balasan sama
Listi”.
“Oke baiklah. Terima kasih ya dan lanjutkan lah pekerjaan
mu”.
“Oke pa”.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 dan proposal yang sedang
mereka buat pun sedang dalam proses revisi oleh keduanya.
__ADS_1
“Lis ngelanjutin diluar yuk” ajak Melly.
“Maksudnya di luar mana bu?” jawab Listi yang bingung dengan
ajakan atasan nya itu.
“Di café depan kantor sekalian makan siang” ajak Melly yang
sengaja menghindar makan siang bersama dengan Alfin.
“Oke bu saya siapin dulu ya” menutup laptop dan memasukkan
nya beserta kertas kertas yang sedang mereka periksa ke dalam tas.
Karna café yang tak jauh dari kantor, mereka berdua
memutuskan untuk berja;an kaki menuju café. Dan setelah sampai di café mereka
memesan 2gelas kopi dan kue serta makanan berat untuk makan siang.
“Lis boleh gak saya minta sesuatu?”.
“Bolehlah bu”.
“Jangan panggil saya ibu ya. Panggil aja Melly. Kita kan
usianya sama”.
“Segan lah saya bu”.
“Gak apa lis. Jangan panggil ibu lagi ya. Panggil Melly aja.
Biar lebih nyaman didengar”.
“Oke lah kalau memang saya dipaksa hehehe” tersenyum
mendengar perintah dari atasannya.
Selama ini dia memang agak canggung ketika Listi
memanggilnya ibu karna dari segi usia mereka sama. Dan Melly sudah sangat
nyaman dengan sekretarisnya itu.
Meskipun sedang bekerja di café itu Melly sama sekali tidak
focus dan terus menatap pintu masuk gedung di seberang sambil sesekali melihat
jam di tangan nya. Jam menunjukkan pukul 12 tepat dan tampak sebuah mobil yang
dikenalinya masuk ke gedung.
Dia beneran datang
ternyata. Untung aku sudah melarikan diri.
Listi yang menyadari kalau Melly sedari tadi gelisah menatap
gedung dimana tempat mereka bekerja memberanikan diri untuk bertanya.
“Kenapa bu, eh salahhh. Kenapa Mel? Ada yang kamu tunggu?”
ucap Listi yang ikut menatap kearah yang sama.
“Eh gak apa Lis” jawab Melly tanpa menoleh kea rah Listi.
Dering tanda pesan masuk berbunyi.
“Kamu sengaja pergi? Baiklah tak apa. Akan ada banyak
kesempatan untuk aku bertemu dengan mu lain waktu. Selamat makan siang sayang.
Aku menyanyangi mu” pesan dari Alfin yang tak mendapat balasan dari Melly.
Tak lama selang pesan masuk terlihat mobil Alfin yang keluar
dari gedung.
Maafkan aku sayang.
__ADS_1
Melly