
Alfin memberhentikan mobil nya kembali dipiggir taman kota.
Keluar dari mobil dan membuka pintu samping kemudi agar Melly turun dari mobil.
“Turun lah” ucap Alfin sambil mennudukkan badan nya menatap
Melly.
“Apaan sih? Kok berenti disini? Udah malam Fin, aku harus
pulang.”
Alfin mengeluarkan hp Melly dari saku celana nya dan membuka
kunci hp itu mencari cari sebuah nama di kontak hp, setelah menemukannya dia
langsung menekan tombol hijau tanda memanggil. Mendengar beberapa kali nada
tanda telfon tersambung.
“Halo, malam tante ini Alfin. Melly sedang sama saya tante.
Gak ada apa apa tante. Cuma ma ngobrol ngobrol bentar boleh ya tan. Mungkin
akan telat sedikit pulang nya tan. Baik tante. Terima kasih ya tante” ucap
Alfin setelah telfon diangkat dan segera mematikannya setelah mama Melly
selesai berbicara.
“Sudah bisa turun sekarang? Aku sudah ijin sama mamamu”
mengulurkan tangan nya ke depan Melly.
Melly menerima uluran tangan Alfin dan segera turun dari
mobil. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kursi ditengah taman masih
dalam keadaan tangan menggengam satu sama lain.
“Maaf Sher. Ijinkanku untuk terakhir kalinya menggenggam
tangan ini” batin Melly menatap tangan yang saling berpegangan.
“Kenapa kita kesini?” tanya Melly.
“Kenapa? Kamu gak suka?” menoleh menatap sepasang mata
disamping nya.
“Ditanya malah balik tanya” gerutu melly.
Alfin tersenyum melihat wajah kesal Melly dan sampailah
mereka di bangku taman tersebut. Ada beberapa orang lalu lalang tapi tidak
memperhatikan sekitar nya. Dibeberapa sudut taman tampak beberapa kursi terisi
dengan berbagai kelompok. Ada yang sedang tertawa bersama teman teman, ada juga
yang sedang duduk berdua bergandengan layak nya sepasang kekasih.
“Duduklah” mempersilahkan Melly duduk tanpa melepaskan
pegangan tangannya dan dia ikut duduk disamping Melly.
“Gimana pekerjaan nya? Sibuk banget ya? Capek pasti kan? Aku
dengar proyek perusahaan ku yang sedang kamu kerjakan bejalan dengan lancar.
Aku gak salah pilih partner ya. Kamu bisa diandalkan dalam urusan pekerjaan.”
“He-eh” datar menjawab.
“Jangan terlalu lelah bekerja. makan lah dengan teratur.
Jangan minum kopi. Banyak minum air putih” nasihat Alfin sambil membelai lembut
tangan Melly yang sedang digenggam nya dengan tangan nya yg lain.
“Apaan sih? Udah kek mama deh” melihat kesal ke arah Alfin
__ADS_1
karena masih belum tau tujuan mereka duduk disitu.
“Kenapa gak pernah balas pesan ku?”
“Sibuk Fin, bukan cuma pesan kamu yang gak aku balas. Pesan
Sherly juga gak aku balas” menyebut nama Sherly seketika melepaskan tangan nya yang
digenggam Alfin.
Melihat genggamannya dilepas, Alfin langsung mengambil
tangan yang di genggam nya tadi dan menggenggam nya kembali.
“Biarkan seperti ini. anggap ini genggaman persahabatan”
meraih dagu Melly membuat mata mereka sekarang saling menatap. “Kenapa menangis
mendengar aku akan menikah dengannya? Kamu mau aku membatalkannya? Aku akan
ikuti semua mau mu. Aku akan memutuskan hubungan ini sesuai perintah mu.
Bukannya aku memulai hubungan ini juga karena perintah mu? Katakana lah kalau
kamu mau aku mengakhirinya”.
“Apaan sih Fin. Kamu yang udah mutusi untuk menikah kan?
Kenapa bawa bawa aku lagi. Teruskan lah apa yang sudah menjadi keputusanmu”
terdengar suara getir dari si empunya suara. “Bukannya kamu yang mengambil keputusan itu?
aku gak pernah tahu kalau kalian akan menikah bagaimana kamu bisa menyalahkan
ku? Kamu yang memutuskan bukan aku.”
Airmata yang sedari tadi dibendungnya kini menetes tanpa
jeda. Terus menetes dengan deras di pipi mulus nya. Buliran buliran yang terus
disapu tangan Alfin dengan lembut nya. Menatap kedua mata sembab didepannya.
“Maafkan aku. Maaf kalau keputusanku menyakitimu. Maaf kalau
kamu kecewa. Jangan menangis lagi” terus menghapus tetesan air dipipi Melly.
“Jangan seperti ini Fin. Ini akan semakin terasa berat. Kamu
akan menikah. Lupakan aku. Sudahi semuanya. Aku akan melupakanmu” melepaskan
tangan Alfin dan membalikkkan badan menatap lurus kedepan.
“Ku harap kalian bahagia. Kamu dan Sherly. berhenti memikirkan
ku.”
Alfin tak henti henti nya menatap Melly yang ada disamping
nya. Seakan semua nya semakin tak ingin ia akhiri. Melihat Melly menangis
membuat hatinya sakit. Merasa telah mengambil keputusan yang salah dan akan
memperbaiki semuanya. Dia akan menyelesaikan drama ini.
“Baiklah. Sekarang aku akan mengantar mu pulang. Kita harus
mengakhiri semua ini bukan?” berdiri mengulurkan tangan kearah Melly.
“Aku bisa sendiri gak usah di pegang” ketus menjawab.
“Sudahlah. Jangan menangis lagi ya. Aku minta maaf” menghapus
airmata Melly dengan tanganya. “Genggam tanganku. Semua beban dan lelah ku
hilang ketika menggenggam tangan mu” mengambil paksa tangan Melly kemudian
membawanya kembali ke mobil.
Sekarang mobil Alfin sudah dijalan menuju rumah Melly. Tidak
ada kata kata. Hanya suara radio yang terdengar di dalam mobil. Sayup mata
__ADS_1
Melly memandang kaca mobil yang ada disampingnya. Menatap lesu keluar. Sesekali
menurunkan kaca membiarkan angin malam membelai kulit nya. Merasakan dingin
malam yang menenangkan.
“Ntar sakit”ucap Alfin sembari menaikkan kaca dari tombol
kendali yang ada di sisi pintu dekat nya.
“Gak” menurunkan kembali kaca nya dan menikmati kembali
angin malam membelai kulit nya.
Menatap jauh keluar sesekali menghapus airmata yang bisa
ditutupinya dari Alfin.
Setelah hampir 20menit mereka kini sudah sampai di depan
rumah Melly. Melly segera turun dari mobil tanpa menunggu Alfin membukakan
pintu untuk nya.
“Terima kasih Fin” berjalan menjauh dari mobil.
“Tunggu” berlari kecil menghampiri Melly yang hampir sampai
pintu utama rumah. “Beristirahatlah. Minum ini” memberikan paper bag ketangan
Melly.
“Apa ini?” menatap paper bag dan Alfin bergantian.
“Vitamin itu. tadi sebelum jemput Sherly untuk ke resto aku
beli itu dulu untuk kamu. Diminum ya sebelum tidur.”
“Hem. Makasih ya” balik badan menekan tombol bel di sisi
pintu.
“Jangan lupa diminum” berjalan kembali ke mobil nya.
Melly menatap kepergian Alfin dan mobilnya sampai mobil itu
hilang dari rumah nya.
Melangkah gontai menaiki tangga menuju kamarnya meninggalkan
bibik yang heran melihat mata Melly sembab namun tak berani bertanya.
Sesampainya dikamar, Melly pergi ke kamar mandi membersihkan
diri dan mengganti baju nya dengan piyama tidur. Melangkah ke kasur nya,
merebahkan meluruskan kaki menatap langit langit kamarnya.
Ting..
Ting..
Tanda pesan masuk. Melly mengambil ponsel nya dari laci meja
sebelah tempat tidurnya.
Jangan lupa diminum
vitaminnya..
Selamat tidur semoga
mimpinya kita ya.. hehe
“Oia, vitamin” beranjak dari tempat tidur dan mengeluarkan
vitamin dari paperbag, mengambil air putih dan meminum nya.
“Andai kamu milikku Fin. Aku pasti bahagia. Sayang nya kita
gak bisa bersama. Maaf untuk hati yang sudah ku patahkan.”
__ADS_1