Dia Sahabatku

Dia Sahabatku
Episode 23


__ADS_3

“Selamat pagi semua..” senyum hangat sehangat mentari pagi


tersungging di bibir Melly.


“Selamat pagi anak mama.”


“Pagi kakak ku.”


“Pagi karyawan papa.”


Mendengar balasan selamat pagi dari papa membuat semua mata


menatap tajam ke arah pak Radit.


“Eh ada apa ni semua ngeliatin papa? Kan emang bener kalau


Melly itu karyawan nya papa. Karyawan terbaik” ucap pak Radit.


“Iya pa, tapi gak usah dipertegas juga kali..” sahut mama


Rita dengan sedikit cemberut.


“Justru papa bangga banget sama anak kita ini ma, dia bisa


menyelesaikan proyek dengan baik dan hari ini dia akan menangani proyek yang


hamper aja dibatalin sama klien.”


“Iya begitu Mel?” tanya mama sambil mengoleskan selai ke


roti.


“Iya ma, ada kesalahan dari anggota yang buat klien mau


membatalkan proyek makanya aku memutuskan untuk balik lebih awal dari kota XX”


menerima roti dari mamanya.


“Pantes kakak udah pulang. Karna sesuai dengan catatan di


kalender itu seharus nya kakak pulang besok kan?” ucap Arin sambil menunjuk


kalender di area ruang makan.


Setelah selesai sarapa, Melly langsung pergi menuju kantor.


Sesampai nya dikantor, ia langsung menyiapkan berkas yang akan dibawanya


menemui klien. Melly dan Listi sudah selesai dengan semua berkas dan sudah siap


untuk ke restoran tempat janjian pertemuaan.


Mereka berjanji untuk melakukan meeting di restoran dekat


kantor klien. Biasanya Melly akan memilih tempat yang tidak terlalu jauh dari


kantor nya ataupun kantor klien. Tapi karna ini usaha terakhirnya untuk


membujuk klien yang sudah terlanjur kecewa dengan mereka, akhirnya Melly pun


menyetujui tempat yang mereka putuskan.


Waktu satu jam mereka tempuh untuk sampai di tempat itu.


sesampainya disana, belum ada 1orang pun pihak klien yang datang. Setelah


menunggu selama setengah jam akhirnya klien yang mereka tunggu tunggu pun


datang.


“Halo, selamat siang pak” menjabat tangan para klien yang


ada didepannya “silahkan duduk”.

__ADS_1


“Selamat siang bu, maaf sudah membuat anda menunggu dan jauh


jauh datang kemari.”


“Tidak apa apa pak. Saya yang seharusnya mengucapkan kata


maaf karna sudah mengecewakan bapak. “


“Mari kita mulai meeting nya” ucap salah karyawan PT Enigma.


“Baik pak saya akan mulai meeting ini. Pertama tama saya


mengucapkan maaf atas kelalaian karyawan saya. Ini saya dan team sudah merevisi


gambar nya sesuai dengan kesepakatan aawal. Mohon bapak bapak lihat dulu”


membuka kertas panjang yang berisi gambar sketsa proyek hotel.


Dengan seksama karyawan PT. Enigma memperhatikan setiap


detai gambar nya satu persatu. Dan setelah melihat kalau gmabr itu sesuai dengan


perjanjian awal mereka, tampak senyum puas dan senang tergambar jelas di wajah


mereka.


“Nah, seperti ini dong. Ini yang kami mau” ucap pak Andi


seorang manager PT Enigma. “Saya senang kalau langsung berurusan dengan ibu


MElly. Untuk kedepannya saya tidak mau proyek ini ditangani yang lain selain


ibu.”


“Baik pak, mulai hari ini saya yang akan langsung menangani


proyek ini” tersenyum menatap pak Andi.


kami tanda tangani” pinta pak Andi ke Listi yang sedari tadi memperhatikan


jalan nya meeting dengan sungguh sungguh.


“Ini pak” Listi mengeluarkan beberapa lembar kertas kontrak


kerjasama dari dalam tasnya ydan sebelum nya sudah ditanda tangani Melly dan


Listi serta pak Radit selaku direktur. “Silahkan bapak tanda tangani dibagian


ini dan ini dan ini” membolak balik kertas tersebut dan langsung ditanda


tangani oleh pak Andi dan  dua rekan nya.


Setelah selesai meeting mereka semua memutuskan untuk makan


siang bersama di restoran tersebut karna waktu sudah menunjukkan pukul dua


belas siang.


“Terima kasih atas makan siang nya bu, semoga kerjasama kita


berjalan dengan lancar” ucap pak Andi sambil mengulurkan tangan.


“Kembali kasih pak. Saya sangat senang bisa bekerja sama


dengan perusahaan ini” menerima uluran tangan pak Andi dan berjabat tangan


sambil di foto Listi sebagai dokumentasi.


Setelah selesai, Melly dan Listi memutuskan untuk kembali ke


kantor dan menyiapkan segala sesuatu nya. Mereka harus menyiapkan beberapa hal


untuk pembangunan proyek PT Enigma.

__ADS_1


Tringg Tringg.. Suara handphone Melly berbunyi.


“Halo, kenapa Sher?”.


“Halo, Mel, lagi sibuk?”


“Lumayan. Kenapa tu?”


“Pulang kerja nanti temani aku ke rumah Alfin ya.”


“Kenapa?”


“Alfin sedang sakit.”


“Ha?? Sakit??” kaget mendengar berita dari sahabat nya.


“Iya mamanya tadi yang angkat telfon nya terus bilang


begitu. Aku mau menjenguk nya tapi sungkan kalau datang sendiri. Mau kan kamu


temani aku, please.”


“Baik lah. Sepulang kerja nanti aku jemput kamu ya dirumah


sakit.”


“Oke, aku tunggu ya.”


Setelah selesai bicara dengan Sherly, Melly mencoba


menghubungi Alfin ingin menanyakan kabar nya.


Tak butuh waktu lama untuk menunggu Alfin mengangkat telfon


nya.


“Halo” Melly memulai kata setelah telfon tersambung.


“Ya,, Aku tahu kenapa kamu menelfon. Aku sakit. Kamu pasti


sudah tahu hal itu dari Sherly” ketus Alfin menjawab.


“Iya barusanSherly menelfon” Melly beranjak dari tempat


duduk nya untuk sedikit menjauh dari LIsti. Ia tidak mau Listi mendengar pebicaraan


mereka.


“Apa harus dengan aku sakit kamu baru menelfon?”


“Bukan begitu Fin.”


“Sudahlah. Aku sudah tahu kalau kamu tak mau perduli lagi


dengan ku. Bahkan telfon ataupun whatsapp ku semalam tidak kamu jawab dan kamu


balas. Kamu tahu seberapa khawatir nya aku? Tidak bisakah aku mendengar kabarmu


dari mu langsung? Kenapa harus dari perantara?”


Nada kecewa dari Alfin jelas terdengar di telinga Melly.


Tanpa sadar ia pun meneteskan airmata di pipinya.


“Sudahlah kamu tak kan mungkin menjawab semua pertanyaanku.


Tit tit tit tit” terdengar suara telfon terputus.


Isakan kecil dari tangisan Melly terdengar juga oleh Listi.


Sesekali dia menatap bos nya yang berdiri di sudut ruangan dengan rasa


penasaran tapi takut untuk bertanya.

__ADS_1


__ADS_2