
“Aku rindu..” kata kata terakhir Alfin yang membuat suasana
menjadi canggung terasa.
Melly yang menyadari kata kata Alfin itu benar adanya
menjadi sangat tidak enak dengan Sherly. begitupun sebaliknya, Sherly merasa
tidak enak dengan Melly karena kata kata Alfin yang disadari nya untuk Melly.
“Ayok duduk kita makan, aku laper banget nungguin kalian gak
lama” ucap Melly mengusir kecanggungan. “Mbak, menunya” panggil Melly kepada
salah satu pelayan direstoran.
Setelah melihat daftar menu, mereka mulai membacakan pesanan
masing masing dan menunggu pesanan datang.
“Kemana aja sih Mel, sibuk banget ya?” tanya Sherly.
“iya kemaren sibuk ngurusi proyek nya PT. Enigma sama bolak
balik ke kota XX cek proyek Alfin.”
“Oh, pantesan susah banget diajak ketemuannya. Oh iya Mel,
kami ada berita bagus ni” ucap Sherly tersenyum sesekali menatap Alfin.
“Berita bagus apa? Terima kasih mbak” menata makanan dan
minuman yang mereka pesan yang sudah dibawakan oleh pramusaji restoran itu.
“Kita berdua mau nikah..”
“Uhuk uhuk uhuk” Melly terbatuk mendengar kabar dari Sherly.
“Pelan pelan minumnya” ucap Alfin sembari menyodorkan tisu
kearah Melly.
“terima kasih” mengambil tisu dari tangan Alfin “seriusan
ini kabarnya?” menatap Sherly dan Alfin bergantian.
“Iya serius lah. Kaget kan lo. Bulan depan rencananya kami
tunangan dan dua bulan berikutnya menikah” jelas Sherly sembari menggenggam
tangan Alfin yang sedari tadi dia letakkan diatas meja.
Sakit terasa hati Melly mendengar kabar itu dan seketika
menetes airmata dari pelupuk mata Melly.
“Hei, kenapa nangis? Lo gak seneng dengar berita ini?”
Sherly menyentuh pipi melly dan menghapus airmatanya.
“Eh, gak kok. Gue seneng. Selamat ya sayangku. Ini airmata
kebahagian kok” mengusap kembali airmatanya yang masih saja jatuh meskipun
sudah dihapus berulang kali.
Alfin menatap dalam wajah Melly memperhatikan setiap
ekspresi dan airmata yang keluar dari wajah itu. tampak Alfin tersenyum
sesekali ketika Melly menatap nya.
__ADS_1
“Itu bukan airmata kebahagiaan Mel, itu airmata rasa sakit
mu. Ayolah jujur pada perasaanmu sekarang.” Alfin berkata dalam hati nya.
Cukup lama airmata jatuh dipipi Melly sampai dia bisa
mengontrol nya hingga tak jatuh lagi. Kini Melly mencoba menata hatinya agar kembali
seperti sebelumnya.
“Mel” panggil Sherly.
“Hem” masih memakan makanan yang dipesannya tadi.
“Aku harap kamu mau ya bantuin aku mempersiapkan semuanya”
pinta Sherly ke Melly.
“ha?” menatap Sherly “aku gak bisa janji ya Sher, lo kan tau
banyak banget tugas kantor yang harus gue kerjain”.
“Yaudah tapi kalau lo ada waktu bantuin gue ya. Kami butuh
banget bantuan lo ya kan sayang” menatap Alfin disebelahnya.
“Heeh” Alfin menjawab sekenanya.
Pertemuan itu pun berlangsung penuh dengan keheningan. Awal
dari pertemuan itu untuk melepaskan rindu tapi ketika berlangsung, pertemuan
itu malah menjadi pertemuan yang mencekam. Hanya Sherly yang tampak memulai
pembicaraan hingga akhirnya jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah
hampir dua jam mereka berada disana.
“Udah malam ni, pulang yuk” ajak Sherly.
“Aku aja yang bayar” ALfin mengambil bill dan mengeluarkan
dompetnya.
“Aku aja Fin, anggap ini traktiran dariku” mengambil kembali
bill dari tangan Alfin dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompet
nya.
Setelah membayar, Melly segera mengambil ponsel nya dari
dalam tas dan membuka aplikasi pemesanan taxi online.
“Lo naik taksi?” tanya Sherly yang ikut menatap ponsel
Melly.
“Iya, tadi gue dianter Listi kesini. Kalau kalian mau duluan
gak apa apa. Gue pesen taksi dulu baru ntar keluar” mengotak ngatik hp nya
menulis alamat rumah nya.
“Aku antar aja. Gak usah naik taksi” Alfin mengambil ponsel
Melly dan mengeluarkan aplikasi taksi online nya.
Melly menatap Alfin dengan kesal dan tak mengindahkan kata
kata Alfin. Melly mengambil kembali ponselnya dan membuka aplikasi lagi.
__ADS_1
“Jangan bandel. Ini udah malam. Bahaya naik taksi online”
suara Alfin sudah terdengar sedikit kesal dan ia kembali mengambil ponsel Melly dan memasukkannya disaku celananya.
“Iya Mel, Alfin bener. Biar kami antar aja ya.”
Karena tak bisa menolak lagi, akhirnya dia menuruti
perkataan kedua orang itu dan ikut ke parkiran kea rah mobil Alfin. Alfin
membukakan pintu depan samping kemudinya berharap Mely yang akan masuk. Namun
Sherly yang nyatanya masuk kedalam dan duduk disamping kemudi. Sementara Melly
membuka pintu belakang mobil dan duduk dibelakang Alfin.
Setelah semua masuk dan duduk ditempatnya masing masing,
Alfin menghidupkan mobil dan bersiap jalan.
“Sayang antakan aku duluan aja ya. Rumah ku duluan sampai
dari sini” ucap Sherly.
“Baiklah”.
Jalanan tampak lenggang, Alfin melajukan mobil nya dengan
kecepatan sedang menuju rumah Sherly. hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk
tiba dirumah Sherly.
“Bye. Sampai jumpa besok ya sayang” mengecup pipi Alfin yang
berdiri disamping nya setelah membukakan pintu. “Bye Mel, sampai jumpa lagi ya.
Hati hati dijalan ya” menunduk melambaikan tangan kea rah MElly yang masih
duduk di bangku belakang.
Melly membalas lambaia tangan Sherly dan Alfin kembali
memegang kemudi mobil melajukan mobil keluar dari gerbang rumah Sherly.
“Masih mau duduk dibelakang?” menatap MElly dari kaca mobil.
“Haa? Aku?” menunjuk diri sendiri.
“Iya kamu lah. Emang ada orang lain lagi disini?” menatap
lurus kedepan. “Pindah kedepan dong. Kalau begini aku serasa menjadi supirmu”
ucap Alfin datar.
“Oh iya ya hehe.. lupa saya pak supir” canda Melly menepuk
bahu ALfin.
Alfin meminggirkan mobil di tepi jalan dan membiarkan Melly
untuk merubah posisi duduk nya. Kini melly sudah duduk disamping Alfin.
“Alfin ponselku”
mengaahkan tanganya meminta ponsel nya yang masih di saku Alfin.
“Nanti aja. Kamu pasti mau main hp kan. Mau menghindariku kan?” melirik wanita disebelah nya.
“Bahkan dia tau tujanku meminta hp” batin Melly.
“Kalau kamu ingin aku membatalkannya aku akan membatalkan
__ADS_1
nya. Katakanlah kamu menginginkannya” Alfin berkata tanpa menatap Melly.
“Apaan sih” menjawab datar masih menatap kaca depan mobil.