Dia Sahabatku

Dia Sahabatku
Episode 31


__ADS_3

Tring..


Tring..


Tring..


Deringan hp pagi ini yang sudah beberapa kali berbunyi


berhasil membuat Melly kesal karena telah mengganggu tidur nya yang lelap.


“Pagi pagi begini siapa sih yang nelfon?” melepaskan selimut


dan mengambil hp dari atas meja samping kasur.


“Halo..”


“Halo Mel…”


“Ya. Siapa ini? Hoam…” menguap tanda rasa kantuk belum


hilang.


“NI aku Sherly. masih tidur ya? Gak kerja lo hari ni? Udah


jam tujuh loh.”


“Oh, iya Sher. Ada apa? Pagi amat udah nelfon” melihat jam


di sudut kamar.


“Mel, Alfin membatalkan acara pertunangan dan pernikahan


kami. Hiks Hiks” ucap Sherly sambil menangis.


“Ha?? Serius?? Kenapa??” terperanjak kaget seketika kata


kata Sherly membuat rasa kantuk nya pergi ntah kemana.


“Iya. Makanya gue mau nanya sama lo. Semalam setelah antar


gue pulang si Alfin ada cerita tentang pertunangan dan pernikahan gak? Gue jadi


heran kenapa dia tiba tiba ngebatalin. Apa ada yang salah.”


“gak ada. Semalam kami langsung pulang. Aku juga gak tau


kenapa dia batalin. Yaudah ntar aku coba tanya dia ya. Lo gak kerja? Gue siap


siap mau kerja dulu ya. Jangan sedih. Ingat jangan sedih ya. Semua akan baik


baik aja.”


Melly langsung menutup telfon nya dan bergerak menuju kamar


mandi. Sembari mandi, Melly berfikir kenapa Alfin membatalkan rencana


pertunangan dan pernikahannya. Melly berencana untuk menghubungi Alfin setelah


dia selesai bersiap siap.


“Pagi ma, pa, rin” menyapa semua yang ada di meja makan.


“Pagi nak. Ni makan dulu rotinya. Udah mama siapi”


menyodorkan piring berisi roti selai coklat.


“Ya ma. Aku makan di mobil aja ya. Buru buru soalnya.”


“Mau kemana? Ada meeting pagi ini?” tanya papa yang masih


tetap focus membaca Koran pagi nya.


“Gak pa. ada keperluan mendesak aja. Aku duluan ya pa, ma”


menyalami kedua orang tuanya dan mencium puncak kepala adikny.


Setelah berpamitan dengan keluarganya, Melly menuju mobil


nya di garasi dan menghidupkannya bersiap akan berangkat. Tujuan utamanya


adalah kantor Alfin. segera menemui Alfin dan mempertanyakan tentang sikap


Alfin.


Pagi ini jalanan seperti pagi pagi sebelum nya yang padat.


Butuh waktu lama untuk sampai ke kantor Alfin. suara klakson bersahutan

__ADS_1


terdengar jelas. Tampak beberapa sepedamotor menyalip ke kanan dan ke kiri agar


tak terlambat sampai ke tujuan masing masing.


Setelah satu jam lebih berkendara dan berpacu dengan


kemacetan ibu kota, sampailah Melly didepan kantor Alfin, memarkirkan kendaraan


nya dan berlari kecil menuju meja resepsionis yang berada dilantai satu itu.


“Permisi, selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” tanya


salah seorang pegawai di meja itu.


“Saya mau bertemu dengan pak ALfin” ucap Melly.


“Maaf apa sudah ada janji sebelum nya?” tanya wanita itu


lagi.


“Belum ada. Bilangin aja Melly mau bertemu.”


“Baik, saya coba tanya dulu ya. Silahkan menunggu disana”


menunjuk ruangan tunggu.


Setelah sepuluh menit menuggu, Melly dipersilahkan naik dan


masuk ke ruangan Alfin.


Tok Tok Tok..


“Masuk.”


“Selamat pagi” ucap Melly ketika masuk ke ruangan Alfin.


“Pagi. Hai. Duduk duduk” mempersilahkan melly duduk di sofa


dekat meja kerja nya.


Melly mengikuti arahan Alfin dan duduk tepat di mana Alfin


arahkan.


“Mimpi apa aku semalam ya? Sampai pagi pagi begini kamu


Melly masih diam duduk terpaku menatap ekspresi Alfin. menerka


nerka apa yang sedang dia rasakan. Mencoba memahami arti senyum lebar yang


diberikan Alfin.


“Udah sarapan kamu? mau minum apa?sebentar ya” berjalan


menuju meja kerja nya dan memesan dua gelas coklat panas untuk dia dan Melly.


Setelah memesan kembali duduk ke sofa. Kali ini dia memilih duduk di samping


MElly.


“Apaan sih? Duduk sana ntar ada yang masuk kan gak enak”


menggoyang tubuh Alfin agar segera pindah.


“Tenang aja. Aku udah pesan sama sekretarisku tidak ada yang


boleh masuk karena aku sedang meeting.”


“Oh” menganggukkan kepala tanda mengerti dan membiarkan


Alfin tetap duduk disamping nya.


“Sekarang bicara lah. Aku tau pasti ada hal yang mendesak


sampai kamu datang pagi pagi ke kantor ku.”


Belum Melly menjawab, terdengan ketukan pintu. Alfin segera


bangun dan membukakan pintu, menyuruh pegawai pantry meletakkan cokelat panas


pesanan nya di meja sofa.


“Kenapa kamu membatalkan semuanya?” tanya Melly ketika hanya


tinggal mereka berdua di dalam ruangan.


“Karna aku gak mau melanjutkan nya.”

__ADS_1


“Kenapa mau memulai kalau tak mau melanjutkan?” tanya MElly


lagi. Kali ini melly bertanya sambil menatap lekat mata Alfin.


“karna kamu yang suruh” balas menatap mata Melly.


“Aku? Sekarang kalau aku suruh kamu lanjutkan gimana?”


“Aku gak mau.”


“Kenapa?”


“Karna kalau aku lanjutkan kamu akan semakin terluka.”


“Aku sudah terluka sejak awal. Kini luka itu sudah sedikit


membaik. Jangan biarkan kembali hanya karena kamu membatalkannya.”


“Aku tidak mau.”


“Aku mohon. Jangan biarkan perasaan bersalah ini akan terus


ada di hatiku Fin. Aku mohon. Aku akan pastikan kamu akan bahagia” menggenggam


tangan Alfin.


“Aku bahagia dan kamu terluka?” melepaskan genggaman tangan


Melly.


“Tidak. Justru aku akan terluka kalau kamu seperti ini.”


“Sudahlah aku tidak mau membahas ini. habiskan cokelat panas


nya. Sebentar lagi aku ada meeting sungguhan” berjalan menuju meja kerja nya


dan mulai membuka beberapa file yang harus dia pelajari.


Melly mengikuti perintah Alfin, meminum cokelat panas nya


sampai habis tanpa perduli rasa panas cokelat itu.


Alfin melirik Melly yang sedang meminum minumannya tanpa


jeda. Menghabiskan semua isi di gelas itu. membiarkan lidah nya terbakar karena


panas minuman itu dan langsung pergi meninggalkan ruang kerja ALfin tanpa


menoleh kea rah Alfin.


Alfin segera mengambil ponsel di samping laptop nya dan


menelfon seseorang memerintah kan suatu pekerjaan.


Setelah keluar dari kantor Alfin, Melly pergi ke kantor nya


sendiri untuk melanjutkan pekerjaan nya. Kali ini ia sengaja naik tangga untuk


melepaskan semua emosi nya dan perasaan kesal dan sedih nya. Cukup memakan


waktu dan tenaga menaiki tangga menuju ruangannya.


“Huhf. Capek juga ya. Tapi lumayan kesel nya jadi ilang”


gumam Melly ketika sudah sampai dilantai tempat ruangan nya berada.


“Kenape lo? Keliatan capek bener” tanya Listi ketika Melly


berdiri dan memegang meja kerja nya tampak berkeringat dan mencoba mengatur


nafas.


“Iya capek banget gue naik tangga tadi” menunjuk tangga.


“Ha? Lift rusak? Padahal tadi pagi masih baik baik aja.”


“Gak. Gak rusak. Yaudah siapi berkas yang mau gue tanda


tangani ya. Bawa semuanya masuk ya” perintah MElly ke Listi.


Catatan:


Terima kasih sudah membaca karya ku ini. Mohon maaf apabila ada salah penulisan dan ejaan..


Mohon dukungannya ya semuanya.. Insya Allah akan sering update..


Like dan komen ya..

__ADS_1


Pliss..


__ADS_2