
Tring..
Tring..
Tring..
Deringan hp pagi ini yang sudah beberapa kali berbunyi
berhasil membuat Melly kesal karena telah mengganggu tidur nya yang lelap.
“Pagi pagi begini siapa sih yang nelfon?” melepaskan selimut
dan mengambil hp dari atas meja samping kasur.
“Halo..”
“Halo Mel…”
“Ya. Siapa ini? Hoam…” menguap tanda rasa kantuk belum
hilang.
“NI aku Sherly. masih tidur ya? Gak kerja lo hari ni? Udah
jam tujuh loh.”
“Oh, iya Sher. Ada apa? Pagi amat udah nelfon” melihat jam
di sudut kamar.
“Mel, Alfin membatalkan acara pertunangan dan pernikahan
kami. Hiks Hiks” ucap Sherly sambil menangis.
“Ha?? Serius?? Kenapa??” terperanjak kaget seketika kata
kata Sherly membuat rasa kantuk nya pergi ntah kemana.
“Iya. Makanya gue mau nanya sama lo. Semalam setelah antar
gue pulang si Alfin ada cerita tentang pertunangan dan pernikahan gak? Gue jadi
heran kenapa dia tiba tiba ngebatalin. Apa ada yang salah.”
“gak ada. Semalam kami langsung pulang. Aku juga gak tau
kenapa dia batalin. Yaudah ntar aku coba tanya dia ya. Lo gak kerja? Gue siap
siap mau kerja dulu ya. Jangan sedih. Ingat jangan sedih ya. Semua akan baik
baik aja.”
Melly langsung menutup telfon nya dan bergerak menuju kamar
mandi. Sembari mandi, Melly berfikir kenapa Alfin membatalkan rencana
pertunangan dan pernikahannya. Melly berencana untuk menghubungi Alfin setelah
dia selesai bersiap siap.
“Pagi ma, pa, rin” menyapa semua yang ada di meja makan.
“Pagi nak. Ni makan dulu rotinya. Udah mama siapi”
menyodorkan piring berisi roti selai coklat.
“Ya ma. Aku makan di mobil aja ya. Buru buru soalnya.”
“Mau kemana? Ada meeting pagi ini?” tanya papa yang masih
tetap focus membaca Koran pagi nya.
“Gak pa. ada keperluan mendesak aja. Aku duluan ya pa, ma”
menyalami kedua orang tuanya dan mencium puncak kepala adikny.
Setelah berpamitan dengan keluarganya, Melly menuju mobil
nya di garasi dan menghidupkannya bersiap akan berangkat. Tujuan utamanya
adalah kantor Alfin. segera menemui Alfin dan mempertanyakan tentang sikap
Alfin.
Pagi ini jalanan seperti pagi pagi sebelum nya yang padat.
Butuh waktu lama untuk sampai ke kantor Alfin. suara klakson bersahutan
__ADS_1
terdengar jelas. Tampak beberapa sepedamotor menyalip ke kanan dan ke kiri agar
tak terlambat sampai ke tujuan masing masing.
Setelah satu jam lebih berkendara dan berpacu dengan
kemacetan ibu kota, sampailah Melly didepan kantor Alfin, memarkirkan kendaraan
nya dan berlari kecil menuju meja resepsionis yang berada dilantai satu itu.
“Permisi, selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” tanya
salah seorang pegawai di meja itu.
“Saya mau bertemu dengan pak ALfin” ucap Melly.
“Maaf apa sudah ada janji sebelum nya?” tanya wanita itu
lagi.
“Belum ada. Bilangin aja Melly mau bertemu.”
“Baik, saya coba tanya dulu ya. Silahkan menunggu disana”
menunjuk ruangan tunggu.
Setelah sepuluh menit menuggu, Melly dipersilahkan naik dan
masuk ke ruangan Alfin.
Tok Tok Tok..
“Masuk.”
“Selamat pagi” ucap Melly ketika masuk ke ruangan Alfin.
“Pagi. Hai. Duduk duduk” mempersilahkan melly duduk di sofa
dekat meja kerja nya.
Melly mengikuti arahan Alfin dan duduk tepat di mana Alfin
arahkan.
“Mimpi apa aku semalam ya? Sampai pagi pagi begini kamu
Melly masih diam duduk terpaku menatap ekspresi Alfin. menerka
nerka apa yang sedang dia rasakan. Mencoba memahami arti senyum lebar yang
diberikan Alfin.
“Udah sarapan kamu? mau minum apa?sebentar ya” berjalan
menuju meja kerja nya dan memesan dua gelas coklat panas untuk dia dan Melly.
Setelah memesan kembali duduk ke sofa. Kali ini dia memilih duduk di samping
MElly.
“Apaan sih? Duduk sana ntar ada yang masuk kan gak enak”
menggoyang tubuh Alfin agar segera pindah.
“Tenang aja. Aku udah pesan sama sekretarisku tidak ada yang
boleh masuk karena aku sedang meeting.”
“Oh” menganggukkan kepala tanda mengerti dan membiarkan
Alfin tetap duduk disamping nya.
“Sekarang bicara lah. Aku tau pasti ada hal yang mendesak
sampai kamu datang pagi pagi ke kantor ku.”
Belum Melly menjawab, terdengan ketukan pintu. Alfin segera
bangun dan membukakan pintu, menyuruh pegawai pantry meletakkan cokelat panas
pesanan nya di meja sofa.
“Kenapa kamu membatalkan semuanya?” tanya Melly ketika hanya
tinggal mereka berdua di dalam ruangan.
“Karna aku gak mau melanjutkan nya.”
__ADS_1
“Kenapa mau memulai kalau tak mau melanjutkan?” tanya MElly
lagi. Kali ini melly bertanya sambil menatap lekat mata Alfin.
“karna kamu yang suruh” balas menatap mata Melly.
“Aku? Sekarang kalau aku suruh kamu lanjutkan gimana?”
“Aku gak mau.”
“Kenapa?”
“Karna kalau aku lanjutkan kamu akan semakin terluka.”
“Aku sudah terluka sejak awal. Kini luka itu sudah sedikit
membaik. Jangan biarkan kembali hanya karena kamu membatalkannya.”
“Aku tidak mau.”
“Aku mohon. Jangan biarkan perasaan bersalah ini akan terus
ada di hatiku Fin. Aku mohon. Aku akan pastikan kamu akan bahagia” menggenggam
tangan Alfin.
“Aku bahagia dan kamu terluka?” melepaskan genggaman tangan
Melly.
“Tidak. Justru aku akan terluka kalau kamu seperti ini.”
“Sudahlah aku tidak mau membahas ini. habiskan cokelat panas
nya. Sebentar lagi aku ada meeting sungguhan” berjalan menuju meja kerja nya
dan mulai membuka beberapa file yang harus dia pelajari.
Melly mengikuti perintah Alfin, meminum cokelat panas nya
sampai habis tanpa perduli rasa panas cokelat itu.
Alfin melirik Melly yang sedang meminum minumannya tanpa
jeda. Menghabiskan semua isi di gelas itu. membiarkan lidah nya terbakar karena
panas minuman itu dan langsung pergi meninggalkan ruang kerja ALfin tanpa
menoleh kea rah Alfin.
Alfin segera mengambil ponsel di samping laptop nya dan
menelfon seseorang memerintah kan suatu pekerjaan.
Setelah keluar dari kantor Alfin, Melly pergi ke kantor nya
sendiri untuk melanjutkan pekerjaan nya. Kali ini ia sengaja naik tangga untuk
melepaskan semua emosi nya dan perasaan kesal dan sedih nya. Cukup memakan
waktu dan tenaga menaiki tangga menuju ruangannya.
“Huhf. Capek juga ya. Tapi lumayan kesel nya jadi ilang”
gumam Melly ketika sudah sampai dilantai tempat ruangan nya berada.
“Kenape lo? Keliatan capek bener” tanya Listi ketika Melly
berdiri dan memegang meja kerja nya tampak berkeringat dan mencoba mengatur
nafas.
“Iya capek banget gue naik tangga tadi” menunjuk tangga.
“Ha? Lift rusak? Padahal tadi pagi masih baik baik aja.”
“Gak. Gak rusak. Yaudah siapi berkas yang mau gue tanda
tangani ya. Bawa semuanya masuk ya” perintah MElly ke Listi.
Catatan:
Terima kasih sudah membaca karya ku ini. Mohon maaf apabila ada salah penulisan dan ejaan..
Mohon dukungannya ya semuanya.. Insya Allah akan sering update..
Like dan komen ya..
__ADS_1
Pliss..