Dia Sahabatku

Dia Sahabatku
Episode 19


__ADS_3

Berakhir Sudah….


Seperti gledek di malam hari. Tatapan tak percaya akan kata


kata Melly membuat rona wajh Alfin berubah. Keceriaannya yang tadi selalu ada


di wajah nya kini berubah menjaadi raut wajah kecewa. Alfin tak menyangka kalau


Melly mengatakan ini semua setelah sikap nya yang sudah seperti biasa tadi


sore.


“Maksud kamu apa?” melepaskan genggaman tanga Melly dan


berbalik membelakanginya. “Sudah cukup Mel, aku gak mau kamu bahas hal ini


lagi. Aku kan sudah bilang aku gak bisa. Aku gak bisa untuk merubah hatiku jadi


ke Sherly. Kamu ini kenapa sih? Aku tau kamu juga sayang sama aku kan? Tapi


kenapa kamu mau melepaskan aku dan membiarkan hatimu juga sakit” kata kata


Alfin sontak membuat airmata Melly menetes.


“Alfin” menarik bahu Alfin agar menghadap nya dan


menggenggam kedua tangan Alfin kembali. “Kamu benar Fin. Aku menyanyangi mu


bahkan aku mencintaimu. Kamu punya tempat di hatiku” menunjuk dadanya sendiri


“tapi juga ada Sherly disini fin” masih tetap menunjuk dada nya. “Aku tidak


mungkin memberikan tempat Sherly untuk mu, dan aku juga tidak mungkin


membiarkan kamu pergi dari hatiku” menarik nafas dalam sebelum melanjutkan kata


katanya kembali.


“Bukan karna kamu sudah ada dihatiku, aku harus mengkhianati


Sherly. Bukan begitu Fin. Bukan juga karana Sherly sahabat ku, aku harus


menghianati kamu. Kalian berdua punya tempat yang sama di hatiku. Kalian berdua


orang yang sangat berarti di hidupku” airmata terus menetes di pipi Melly.


“Aku tidak mungkin memilih salah satu dari kalian Fin,


mengertilah” menggenggam erat tangan Alfin. “Bersahabatlah dengan ku. Setelah


ini aku hanya akan menganggap mu sahabat ku” membelai lembut dada bidang Alfin


“mengertilah Fin kalian berdua sangat berarti untukku” masih membelai dada


Alfin.


“Kamu yakin?” tanya Alfin yang disambut anggukan oleh Melly.


“Jangan menangis” mengusap airmata di pipi Melly.


“Aku mohon Fin….” Mengatupkan kedua tangan nya didepan

__ADS_1


dadanya dan menatap lirih ke Alfin.


“Aku menyanyangi mu” menarik Melly dalam pelukannya. “Aku


mencintaimu. Akan kulakukan semua yang membuat mu bahagia” mengelus lembut


kepala Melly.


“Terima kasih Fin. Terima kasih. Terima kasih” berulang kali


mengatakannya rasanya tak kan cukup bagi Melly untuk berterima kasih. “Sahabat”


mengulurkan tangan kea rah Alfin setelah melepaskan pelukan Alfin.


“Iya. Sahabat yang aku cintai” menerima uluran tangan Melly


dan keduanya pun berjabat tangan sepeti awal perkenalan.


Setelah terjadi kesepakatan diantara mereka, keduanya pun


kembali ke kamar masing masing dengan raut wajah sedih terpancar di wajah


mereka.


Sesampainya dikamar, Melly mendapati Listi sudah terlelap


dengan nyenyak nya “sudah jam 10 ternyata” gumamnya. Ia pun langsung menuju


kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk tidur juga.


Sebelum tidur ia melihat hp nya dan membaca pesan satu


segera tidur.


……………………………………………………………………………..


Mentari menyambut pagi dengan suka cita. Melly dan Listi


sudah berada di lokasi proyek mereka dengan Alfin dan stafnya. Disana juga ada


buk Wani si penanggung jawab lokasi.


Setelah semua selesai dan siap untuk dilakukan pembangunan,


mereka semua segera makan siang bersama. Setelah makan siang mereka emua bubar


dengan urusan masing masing karna tugas pekerjaan yang sudah selesai, ada yang


kembali ke kantor pusat karna sudah selesai dengan urusan disini, ada juga yang


kembali ke hotel.


“Lis, kamu duluan aja ya ke kamar. Aku mau kesana sebentar


cuci mata heheh” menunjuk taman hotel, tempat dimana kesepakatan terjadi antara


Melly dan Alfin tadi malam.”Oia LIs, tolong pesani kopi ya dan anterin ke


situ”.


“Saip bos. Kalau ada keperluan lain lagi telfon aja ya. Ni

__ADS_1


aku pesan dulu ya” mengangkat hp nya sendiri dan langsung masuk ke hotel.


Setelah berpisah dengan Listi di parkiran, Melly menyusuri


taman dan memilih duduk di bangku depan kolam renang yang berada di taman itu


juga. Menatap sekitar dengan sendu dan mencoba menikmati udara sore dengan


menutup mata, merebahkan badan di kursi panjang dekat kolam.


Ada sepasang mata yang memperhatikan Melly dengan raut yang


tak kalah sendu. Balkon kamar Alfin memang memberikan pemandangan ke arah taman


hotel.


Kesedihan mu aku


merasakannya juga Mel, tak bisakah kamu merubah keputusan mu? Apa ini jalan


yang terbaik untuk kita? Alfin


“Apaan sih aku ini? Aku kan sudah janji sama dia” gumam


sendiri dan membuyarkan fikirannya.


“Terima kasih mbak” ucap Melly setelah mendengar ada nampan


yang diletakkan di meja samping kusinya.


“Sama sama”.


“Loh kamu ternyata Fin, kupikir tadi mbak pelayan hotel yg


anterin” membuka mata setelah mendengar suara yang menjawabnya.  Betapa kagetnya Melly karna yang membawakan


pesanan nya bukan pihak hotel, melainkan Alfin.


“Kok bisa kamu yang bawa kesini?” tanya Melly.


“Tadi ketemu Listi didalam lagi pesan terus aku tanya kamu


dimana, dia bilang disini dan dia lagi pesani kopi buat mu jadi aku ambil alih


tugasnya” tersenyum menatap Melly.


“Oh.. Gitu…. Makasih ya” membalas senyuman Alfin. “Loh kok


jus jeruk? Listi salah denger pasti  ini”


melihat gelas yang berisi jus jeruk.


“Gak kok. Listi pesan nya bener kopi 1 trus aku pesan jus


jeruk. Aku tukar punya kita. Gak baik minum kopi terlalu banyak” memberikan jus


jeruk ke Melly dan mengambil kopi untuk nya.


“Hemmmm…… padahal aku pesen kopi supaya gak ngantuk loh”


meminun jus yang ada ditangan nya.

__ADS_1


__ADS_2