Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
bab 11


__ADS_3

Aku tidak menyangkah dengan sikap Mas Doni saat ini, mengapa dia dengan mudahnya berbicara soal cerai seolah pernikahan ini adalah mainan untuknya, Aku yang saat itu malas berdebat dan juga takut nyeri dibagian bekas secar lebih baik memilih diam tanpa meladeni Mas Doni lagi mungkin saat ini pikirannya sedang tidak baik, semoga saja nanti dia berubah pikiran...


.........


Sedangkan ditempat lain orang tua Riri yang sudah selesai dengan urusannya dia langsung kembali lagi ke Rumah sakit untuk menemani Riri, mungkin karena Riri adalah anak tunggal jadi mereka sangat sayang dengan Riri..


"Pak, apa kita ke Kantin dulu ya, kali saja Riri butuh makan lain, Bapak kan tau sendiri dari dulu anak kita gak suka masakan rumah  sakit" ucap bu Ros sambil dia membuka sabuk pengaman mobil karena kebetulan mereka baru saja sampai diparkiran rumah sakit.


"Terserah ibu saja, nanti kita langsung menuju ke Kantin"


"Eh bentar Pak, Bapak jangan keluar dulu, sebab ada yang akan ibu bicarakan, ibu meminta pendapat Bapak" ucap Bu Ros mencegah pak anto yang saat itu akan membuka pintu mobil.


"Ibu mau membicarakan soal apa, di dalam nanti kan bisa Bu"


"Gak bisa Pak, disini saja , soalnya kalau disana nanti ada Doni"


"Apasih bu, lagian Doni juga menantu kita"


"Begini Pak,Ibu rencananya akan mengajak Riri untuk tinggal dirumah kita saja untuk sementara waktu"

__ADS_1


" ya kalau itu terserah Riri Bu, kita gak berhak ikut campur urusan mereka, sebab anak kita sekarang statusnya sudah berumah tangga, biarlah nanti dia rembukan dulu sama suaminya" jawab suamiku lagi-lagi aku cukup kecewa dengan jawaban yang diberikan suamiku.


"Yasudah Pak cepetan turun kita ke kantin"


Ucap Bu Ros sambil membuka dan menutup mobilnya dengan kasar bahkan mala Bu Ros membanting pintu mobilnya dengan kencang sebab keinginannya tidak di setujui oleh suaminya.


Bu ros berjalan dengan langkah cepat ke arah kantin sehingga membuat Pak Anto sulit mengimbangi langkah sang istri, sebab tinggi badan antara Bu ros dan Pak anto terpaut sangat jauh jadi bisa dipastikan langkah bu ros lebih lebar.


Saat berada di kantin Bu Ros langsung menuju ke kedai salad buah dan nasi rames yang kebetulan bersebelahan kedainya, dengan cepat tanpa memperdulikan sang suami yang saat ini masih belum sampai di kantin, Bu Ros langsung memesan dua porsi salad buah dan satu bungkus nasi rames, lalu Bu ros duduk di kursi yang tersedia dan tak lama kemudian Pak anto sampai di tempat Bu ros .


" Ibu jahat banget sih mala ninggalin Bapak" ucap Pak anto dengan nafas yang terengah- engah, sedangkan bu Ros mala memasang wajah cemberut dan ketus.


"Gak papa pak, sudahlah mending sekarang Bapak duduk saja," ucap bu ros sambil menunjuk kursi dihadapannya yang saat ini kosong.


Ucap Pak anto dengan sangat lembut sebab dia takut jika mala semakin membuat istrinya tersinggung.


" Ya kalau gitu Bapak saja yang bicara sama Doni, kasih penjelasan sesama lelaki mungkin saja Doni mau mengizinkan , kan kita juga belum bilang sama Doni pak, bapak kok mala sudah berpikiran seperti itu dulu"


"Iya nanti bapak coba berbicara dengan Doni" ucap pak Anto akhirnya dia mau tak mau harus mengiyakan permintaan dari sang istri .

__ADS_1


"Ya harus pak, Bapak harus tegas dong sama menantu kita, ajarin dia supaya menjadi lelaki yang tegas dan bertanggung jawab, masak jadi lelaki gak bisa mengambil keputusan, geram ibu lihatnya"


"Sudahlah bu, ingat ini tempat umum ,jangan buat keributan disini"


"


Tanpa mereka sadari sedari tadi Bu Fatma dan Mila melihat keberadan mereka berdua, sebernarnya bu fatma dan mila ingin sekali menguping pembicaraan antara Bu ros dan Pak anto sebab dari kejauhan terlihat dengan jelas sekali raut wajah serius dari mereka berdua, namun karena keadaan kantin yang saat ini sangat ramai dengan orang membuat mereka kesulitan mendengar apa yang di ucap oleh Bu Ros dan Pak anto,  sehingga membuat mereka menjadi kesal, dan karena Bu fatma yang saat ini merasa kenyang dan dia ingin segera beristirahat di sofa ruang rawat Riri yang sangat empuk membuat mereka berdua mau  tak mau harus melewati bu Ros dan pak anto , serta otomatis mereka akan bertegur sapa yang membuat Bu fatma malas.


"Eh ada bu besan dan pak besan, sedang mencari apa " ucap Bu fatma dibuat dengan selembut mungkin di depan kedua besannya, namun disini Bu Ros tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya terhadap Bu fatma sehingga bu ros lebih memilih diam saja, biarkan saja suaminya yang akan meladeni besannya.


"Ya ampun Bu besan, kami sedang mencari salad buah dan nasi untuk Riri, karena Riri paling tidak suka dengan makanan rumah sakit" ucap Pak anto dengan lembut dan diiringi dengan senyuman walau pun dihatinya saat ini juga kesal dengan besannya.


"Ooohhhh, memang manja ya pak, anak sampean itu" ucap Bu fatma sambil matanya melirik ke arah Bu ros ,untung saja saat itu pesanan Bu ros datang jadi otomatis Bu ros tidak akan tau apa yang dimaksud Bu fatma, sedangkan mbak Mila masih berada dibelakang Bu fatma  sambil menyimak pembicaraan mereka.


"Biasalah bu, namanya juga anak perempuan pertama dan satu -satunya jadi sudah biasalah bagi saya" jawab pak anto.


"Ya, memang ya pak, semua berasal dari kebiasaan keluarga jadi otomatis pasti akan terbawa sampai kapan pun, bahkan mau lahiran saja dia manjanya minta ampun gak mau berjuang, ujung- ujungnya juga membebankam suami " ucap bu fatma yang mampu membuat pak anto tersinggung seolah semuanya salah Riri, dan disisi lain pak anto juga bingung apa maksud dari perkataan bu fatma yanv terakhir.


"Ya namanya sudah takdir Riri bu,kita juga kan gak bisa menentang takdir dari yang maha esa " 

__ADS_1


" ayo pak kita ke ruang Riri" ucap bU fatma tiba- tiba, dan memberi keberuntungan bagi pak anto karena sebenarnya pak anto malas meladeni omongan besannya yang kesannya seperti memojokkan Riri dan keluarganya.


"Ehh iya bu, ayo kita ke Riri kasihan dia kalau nunggu kita kelamaan, nanti kalau Riri butuh apa- apa bagaimana bu" ucap pak anto yang mampu membuat bu fatma tersindir, sebab omongan pak anto seolah menyindir dirinya tidak becus menjaga sang menantu, bagaimana pak anto tidak geram anaknya mau melahirkan tidak segera dibawah kerumah sakit, sehingga membahayakan nyawa keduanya dan sekarang mala memojokkan Riri.


__ADS_2