
" don, kamu kok gak peka sih jadi anak ibu, seharusnya kamu sebagai anak kalau dicurhati ibunya seperti ini harus sadar, ngasih uang ke ibunya kek biar ibu bisa shoping "
"Ya gimana lagi bu, keadaan doni kan sekarang seperti ini, "ucap doni menatap mata ibunya dengan memelas berharap ibunya mau mengerti.
"Ya mangkanya don, suruh istrimu kerja"
"Bu,sudahlah, ibu gak usah bahas perihal Riri lagi, kasian salman kalau dia bekerja, memang apa kurang uang selama ini yan Doni kasih untuk ibu, padahal itu untuk ibu sendiri loh , bukan keperluan sehari- hari" ucap Doni yang saat itu memang sudah kesal dengan ibunya.
"Terus saja kamu itu belain istri kamu, apa kamu lupa sebenarnya disini yang keluargamu itu Riri apa ibu sih" jawab bu fatma kesal.
Dibalik perdebatan antara seorang ibu dan anaknya tersebut ada Riri yang mendengar semua percakapan mereka saat riri tidak sengaja pergi ke dapur namun mendengar percakapan antara keduanya yang tampak serius membuat riri betah ingin tau apa saja yang akan di adukan oleh mertuanya saat ini pada suaminya.
"Ya kan Doni cuma tanya Bu, apa kurang uang yang selama ini Doni kasih, uang untuk Riri dam ibu sama loh bu nominalnya,bedanya riri untuk keperluan sehari hari tak pernah mengeluh,beda dengan ibu selalu saja kurang padahal uang lemburan juga Doni kasih semuanya untuk ibu," jawab Doni menggebu.
"Mangkanya Don kamu itu kerja yang giat uang segitu mana cukup untuk keperluan ibu"
"Keperluan apa bu, bahkan selama Doni naik jabatan dan naik gaji selama satu tahun ini,ibu mendapat jatah banyak bu, belum lagi uang lemburan, sedangkan Riri, Doni kasih uang segitu sudah termasuk uang untuk cicilan motor,seharusnya ibu sekarang punya tabungan banyak"
"Halaa Don gajinya cuma tujuh juta aja lagakmu kayak gaji dua puluh juta saja lihat tuh arman teman kamu gajinya sepuluh juta, pantesan ibunya makmur"jawab bu fatmah tidak mau kalah,sedangkan Doni tidak habis fikir dengan pemikiran ibunya, andai ibunya mentotal seluruh gaji Doni beserta lemburannya juga mencapai angka sepuluh juta namun ini mala dia dibandingkan sama teman sebayanya.
__ADS_1
Sedangkan Riri yang saat ini berada di balik dinding menahan semuanya hanya bisa menhan amarah , dia mengeratkan giginya dan meremas ujung baju dengan amat kasar untuk menumpahkan semua emosinya ,bagaimana bisa ternyata selama ini Doni membohonginya.
"Sekarang Doni tanya, kembali ke inti masalah di awal, memang apa untungnya kalau ibu ikut arisan sosialita"
"Ya enaklah Don ,sebagai ajang untuk kumpul emak-emak, kita menolak tua, dan untuk ajang pamer keberhasilan anak kita"ucap bu fatmah dengan bangganya.
"Bu, doni gak perluh untuk dibanggakan depan teman arisan ibu,doni tidak butuh bu, sekarang terserah kalau ibu mau ikut tour keluar kota silahkan ibu pakai uang ibu sendiri"
"Sudah berani kamu sama ibu, mau jadi anak durhaka kamu, ibu gak ridho don, anak yang ibu banggakan selama ini ternyata sekarang jadi pembangkang dan durhaka"ucap bu fatmah dengan penuh emosi.
Doni seketika gelabagan mendengar ucapan ibunya ,bagaimana pun dia tidak mau di cap sebagai anak durhaka.
Dan disisi lain doni paling takut jika sang ibu sudah berucap bahwa dia anak durhaka, memang titik kelemahan doni berada di ibunya, kalau ibunya sudah berucap pasti ujung- ujungnya dia tidak mampu untuk menolak.
"Bu, memang gak ada sekarang doni bu, ibu sih dadakan kalau mau ada acara,"ucap mas doni memelas
"Ya gimana lagi don,ibu saja baru lihat grut watsap"
"Sudahlah don, lagian gaji kamu kan banyak kalau kamu ambil lemburan, ambillah untuk tambahan ibu ikut tour ke luar kota"
__ADS_1
"Tapi bu, sekarang kondisi pabrik sedang sepi"ucap doni frustasi lalu dia menjambak rambutnya dengan kasar menggunakan kedua tangannya.
Begitu juga dengan bu fatma dia nampak berfikir-fikir dan kecewa dengan jawaban yang telah doni ucapkan, hampir lama terdiam akhirnya bu fatma mengeluarkan pendapatnya.
"Lagian sih don, ini semua gara-gara riri melahirkan dengan cara gak wajar, sehingga kamu banyak hutang, tapi ibu gak mau kalah sama riri enak saja dia bisa menikmati uang mu ibu gak, pokoknya kamu harus bisa ngusahain ibu untuk ikut tour ke luar kota , kamu minta tuh uang sama si riri agar, bilang aja mencicil hutangnya, " ucap bu fatmah dengan antusias sedangkan doni nampak gelagapan jika dia harus melakukan cara itu bagaimana pun jika dia tidak ikut turut andil dalam proses pembayaran bahkan satu rupiah pun doni tidak keluar uang.
"Sudahlah bu gausah di bahas lagi, nanti doni usahain" ucap doni menenangkan sang ibu agar tidak terus merengek.
"Kamu harus janji loh don, ibu gak mau kalau sampai ibu gak jadi ikut, mau ditaruh dimana muka ibu ini kalau sampai gak ikut" Ucap bu fatmah dengan nada penuh penekanan sedangkan doni saat ini hanya mampu membuang nafas dengan kasar sebab di sisi lain dia tidak tau apa yang harus dia lakukan untuk memenuhi permintaan ibunya kalau pun tidak di turuti ibunya pasti akan terus merengek setiap waktu bagaikan anak tk yang minta balon.
"Iya bu iya" Ucap doni sambil berdiri dan ingin meninggalkan ibunya agar dia tidak larut dalam perdebetan melelahkan ini.
"Pokoknya kamu harus bisa dapetin uang dari istrimu bagaimana pun caranya" Ancam bu fatmah.
Doni yang malas bersuara akhirnya dia hanya mampu menganggukkan kepala saja.
Sedangkan Riri yang berada dibalik dinding masih dengan setianya menunggu setiap kebenaran yang terucap dari mulut keduanya namun saat dia mendengar ada suara langkah kaki dia segera pergi meninggalkan dapur agar tidak ketahuan jika saat ini dia sedang menguping pembicaraan antara anak dan ibunya , dia sangat kecewa bagaimana bisa suaminya sendiri merahasiakan keberhasilannya diperusahaan dan bodohnya riri selama ini percaya saja apa yang dikata oleh suaminya, dan saking bucinnya dia kepada sang suami riri rela menambalkan kekurangan uang belanja dengan menggunakan uang tabungannya.
Dan sekarang malah mertuanya mau meminta uang padanya mengenai biaya melahirkan, andai bu fatmah tau sebenarnya, huuu betapa malunya dia, padahal semua biaya riri dirumah sakit sepenuhnya ditanggung oleh orang tua riri karena doni ng menolak eh ujung- ujungnya mala riri sekarang disuruh membayar.
__ADS_1