
Dengan berat hati akhirnya kedua orang tua Riri harus melepaskan anaknya untuk tetap tinggal di Rumah Doni, sebab Bu ros sangat faham bahwa dia tidak ingin dianggap sebagai orang tua yang egois hanya demi kemauannya mala memisahkan antara Rirk dan suaminya, dan Bu ros juga tidak ingin jika Riri mala menjadi durhaka terhadap suaminya.
Hari ini adalah hari kepulangan Riri dan anaknya, pak anto dan Bu Ros menyiapkan semua keperluan dan mengurus semua biaya adminstrasi di Rumah sakit semuanya di urus oleh pak anto, begitu juga Bu ros sedari tadi ikut berkemas diruang Riri dibantu dengan Bu fatma, namun terlihat raut wajah bu fatma datar namun tak dihiraukan oleh Bu ros sedangkan saat ini Doni keluar pamit pada ibunya untuk mengurus admistrasi padahal Doni hanya menghindar saja agar tidak terlihat jelas jika bukan dia yang membayar biaya administrasi.
Tak lupa juga sebelum ke Rumah sakit untuk menjemput Riri, bu ros sudah menyiapkan keperluan sang bayi mulai dari troler, bak mandi, baju bayi, diapers, kasur bayi,bouncer, dan semua keperluan untuk sang bayi sebab Riri selama kehamilan di larang untuk membeli peralatan bayi sebab anggota keluarga riri masih memegang adat istiadat mereka, pamali bagi seorang ibu hamil jika berbelanja keperluan sang bayi, bahkan saat lahiran dirumah sakit semuanya dipersiapkan secara mendadak.
Akhirnya beberes keperluan untuk pulang ke Rumah telah selesai, sambil menunggu Pak anto dan Doni yang sedang menyelesaikan admistrasi Bu Fatma dan Bu ros memilih untuk mengobrol ringan saja untuk mencairkan suasana sedangkan Riri sedang menyusui sang bayi.
"Ingat ya Ri ,kamu sedang menyusui, jadi usahakan makannya di hati- hati jangan sembarang takut bayi kamu nanti alergi"pesan Bu ros pada Riri anaknya.
"Iya Ri, kamu jangan banyak makan cabe dan pedas -pedas, kebiasaanmu yang lama itu dibuang" timpal bu Fatma mertua riri sebab riri dari dulu suka makan masakan dan cemilan yang berbau pedas dengan tingkat level tertinggi bahkan saat Riri hamil pun sempat mengalami inveksi lambung karena kebiasaan Riri.
"Iya Ri,benar kata ibu mertua kamu, ibu mohon jangan makan makanan pedas dulu,"
"Iya bu, saya saja gedek ngeliat Riri kalau makan pedas, minta ampun nakalnya" sambung sang mertua sedangkan Riri sedari tadi hanya menjawab dengan anggukan kepala saja sebab dia sedang menyusui anaknya dan anaknya tertidur dia takut mala nanti anaknya akan terbangun.
"Ìya bu besan memang dari dulu Riri sangat hobi makan pedas, bahkan dari dulu Riri kalau makan tanpa sambal gak bisa makan, jadi saya titip Riri di sana ya bu"
"Ah bu besan ,tenang saja saya akan jaga riri ,bahkan Riri sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri"
"Terimah kasih bu besan"
__ADS_1
........
Sedangkan Doni baru saja dari kantin ingin kembali ke ruang Riri namun saat melangkahkan kakinya dan tiba lobi dia melihat sang bapak mertua sedang mengantri di tempat administrasi,
"Lebih baik aku tunggu saja bapak di sini, kalau aku balik duluan pasti nanti ibu mala ngira bukan aku yang bayar karena tidak bareng dengan bapak, lebih baik aku tunggu saja di sini dan aku juga ingin tau habis berapa sih Riri dirawat di sini kok sampai bapak rela menjual ladangnya" guman Doni dalam hati.
Akhirnya Doni menunggu bapak mertuanya ditempat duduk yang tersedia, sebab sangat terlihat jika saat ini antriannya lumayan panjang, agar tidak bosan Doni mengeluarkan ponselnya untuk bermain game kesukaaannya, hampir empat puluh limah menit Doni menunggu akhirnya Bapak mertuanya telah selesai melakukan pembayaran namun mala doni yang tidak menyadari kepergiannya sebab dia terlalu asyik dengan ponselnya sedangkan Pak anto lebih memilih diam dan meneruskan langkahnya ke arah ruangan Riri membiarkan sang menantunya sebab ada rasa kesal sedikit dihatinya bisa- bisanya sang menantu tidak mau mengeluarkan uang sepeser pun.
"Eh bapak kok sudah kembali terus Doni kemana " ucap bu Ros saat melihat kedantangan suaminya tanpa ada sang menantu.
"Tadi Doni sedang pamit izin ke kantin dulu bu" jawab pak anto berbohong.
Sambil menunggu doni pak anto lebih memilih untuk menggendong sang cucu dan sesekali pak anto melantunkan sholawat agar sang bayi tidurnya menjadi terlelap.
Hampir sepuluh menit akhirnya Doni kembali juga ke ruangan Riri, untungnya Doni membawa kresek berisi minuman sehingga mereka tidak curiga pada Doni.
" ya sudah bu, mari kita pulang, takut nanti keburu dhuhur ,gak baik bawah bayi saat adzan dhuhur berkumandang, semuanya sudah dikemas dan tidak ada yang tertinggalkan" ucap pak anto memastikan.
"Sudah pak, bahkan kita tinggal pulang saja" jawab bu fatma.
.......
__ADS_1
Selama perjalanan lebih banyak diam sebab mereka takut sang bayi terganggu tidurnya jadi dalam mobil pun hanya ada keheningan saja.
Saat sampai di rumah bu fatmah semua barang diturunkan dan membuat dia menjadi tercengang bagaimana bisa anaknya baru lahir saja sudah dibelikan berbagai macam perlengkapan dari orang tua riri.
"Ngapain juga beli barang begitu banyaknya, pasti juga ujung- ujungnya juga kepakai hanya sebentar, buang-buang duit saja orang tua riri itu,"guman bu fatmah dalam hati, dia lebih memilih untuk duduk santai di sofa dengan bu Ros untuk urusan angkat doni dan pak anto yang menghandle..
"Pak, Doni boleh tanya ,"ucap doni dengan hati- hati kepada bapak mertuanya saat mereka berada di mobil menurunkan barang.
"Tanya saja don, kayak sama siapa saja"
"Emmm, gimana ya pak, doni mau tanya berapa habis uang biaya adminstrasi di rumah sakit" tanya doni lembut sedangkan pak anto mala terlihat menghembuskan nafas kasar seolah dia tidak berminat untuk membahas topik ini.
"Ngapain kamu tanya don, bukannya kamh tidak sudi untuk menanggung semuanya" sindir pak anto.
"Pak, jangan begitulah pak"
"Sudahlah do, jika kamu ingin tau biaya rumah sakit Riri kamu ambil saja rincian pembayaran bapak taruh di pojok bagasi" ucap pak anto lalu kembali menurunkan barang di bagasi mobil dan meninggalkan Doni yang masih berdiri di samping mobil.
Akhirnya Doni mengambil kertas bermap coklat yang berada dipojok bagasi dengan penuh kehati- hatian doni membuka mal coklat tersebut.
"Halaa pasti ya cuma habis gak sampe sepulub juta , bapak saja yang alay pake acara jual ladang,padahal dia bisa menjual mobil butut ini" ucap doni sinis sambil membuka amplop ,begitu membuka isinya dan membaca lembar demi lembar kertas tersebutnya alangkah terkejutnya doni ketika mengetahui jumlah keseluruhan biaya rumah sakit mencapai dua puluh lima jutah rupiah....
__ADS_1