Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
bab 5


__ADS_3

"Kurang ajar, bisa-bisanya mereka langsung pergi begitu saja tanpa memberi tau dimana tempat Riri berada"umpat suamiku kesal seba kedua orang tuaku langsung pergi begitu saja.


Awalnya aku mau menikah dengan Mas Doni sebab dia aku kagum dengan sifatnya yang patuh dan nurut terhadap ibunya, wanita mana yang tidak kagum saat melihat pasangannya memuliakan ibunya sebab aku berfikiran laki-laki yang memuliakan ibunya pasti dia juga akan memuliakan pasangannya, namun aku salah , ternyata yang dimuliakan hanya ibunya saja ,sedangkan aku bagaikan orang lain dimatanya.


Lalu Mas Doni melangkah kebagian adminstrasi untuk menanyakan tempat rawat inapku.


"Permisi mbak mau tanya, pasien melahirkan atas nama Riri Fitriani berada diruangan mana mbak" tanya suamiku pada bagian adminstrasi.


"Bentar ya pak, biar saya cek dulu"jawabnya sambil mengecek data dikomputer.


"Iya" balas suamiku sambil menganggukkan kepalanya.


"Pasien atas nama Riri Fitriani berada diruang melati nomer tiga lantai satu pak,bapak lurus aja langsung turun tangga bapak belok kiri,ruangannya berada dipaling utara pak"


" iya mbak makasih" ucap suamiku,lalu dia berjalan menyusuri lorong rumah sakit sesuai petunjuk tadi.


"Akhirnya kutemukan juga ruangan Riri" guman suamiku.


Aku yang saat ini berada dikamar sendirian menatap langit-langit ruang rumah sakit yang bernuansa putih merasa sendirian berada didunia ini, bahkan suami yang aku harapkan ada disampingku saat aku melahirkan mala tak menampakkan batang hidungnya .


"Ceklekkk" suara pintu terbuka mampu mengagetkanku dari lamunan, segera kuarahkan pandangan ini  ke arah pintu, mungkin  saja ibu atau bapak ,atau bisa juga perawat yang datang membawa bayiku karena sampai saat ini aku masih belum juga melihat bagiku, namun alangkah kagetnya aku ternyata yang datang adalah Mas Doni suamiku, entah aku harus senang atau marah melihatnya sekarang, didalam hatiku aku kecewa akan sikap Mas Doni, namun bagaimapun juga dia tetap suamiku, dan ayah dari anakku.

__ADS_1


"Mas Doni" ucapku pelan, lalu dia mulai melangkahkan kakinya kearahku dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah dia tidak ikhlas menjengukku.


"Riri kamu gimana sih, kok mala melahirkan secara secar, apa kamu malas berjuang untuk melahirkan" ucapnya spontan tanpa basa-basi dan tanpa memikirkan perasaanku  yang baru saja menjalani operasi secar demi  melahirkan anaknya.


"apa dia gak mikir kalau aku sendiri tidak mau melahirkan secara secar, namun apa daya semua juga sudah takdir Allah, lalu ini juga karena dia juga yang tidak segera membawaku ke bidan karena sudah mengalami kontraksi dan air ketuban pecah, mala dia terus saja menuruti apa kata keluarganya ,sekarang sudah kejadian mala menyalahkanku, masih untung juga nyawaku dan anaknya selamat, dasar gak punya otak" gumanku dalam hati.


"Memang kamu pikir aku mau melahirkan secara secar mas"tanyaku balik pada suamiku.


" ya itu memang kamu saja yang gak mau berjuang untuk melahirkan anak kita, bilang aja kamu takut merasakan sakitnya orang melahirkan" jawab suamiku.


"Lemesnya mulut suamiku berbicara, apa dia gak mikir aku sudah merasakan kontrasi sendirian, tanpa didukung olehnya, eh sekarang mala bilang aku gak mau merasakan sakit" gumanku dalam hati.


"Ya memang semua perempuan pasti merasakan kontraksi Ri, kamu jangan lebay deh"


" apa mas, lebay katamu, harusnya disini kamu sadar, kamu sebagai suami harus sudah mengerti gejala orang mau melahirkan, bukan mala nurut apa yang selalu orang lain bilang, aku butuh suport dari kamu seorang suami bukan mala kamu terus nyalahin aku, seolah ini semua aku yang mengaturnya, kamu punya otak gak sih mas" ucap Riri mengeluarkan semua unek-unek dihatinya karena tidak tahan dia pendam dari tadi.


"Apa kamu gak bisa nolak kalo mau ditindak operasi secar, kamu enak tinggal operasi terimah beres, apa kamu sekarang gak mikir mau bayar biaya rumah sakit pake apa, ingat Ri kamu gak punya jaminan kesehatan" ucap Mas Doni dengan tatapan tajam.


"Bisa-bisanya Mas Doni mala mengkahawatirkan biaya rumah sakit dari pada keselamatan anaknya, aku memang tidak punya kartu jaminan kesehatan tapi aku punya tabungan cukup untuk membayar tagihan rumah sakit yang sengaja aku rahasiakan dari Mas Doni, " gumanku dalam hati.


"Apa kamu bisa ngomong saat tidur mas " balasku namun mas doni mala semakin menatap mataku semakin tajam.

__ADS_1


"Kamu tidur aja gak bisa ngomong, apalagi kondisiku yang saat itu pingsan hampir meregang nyawa bersama anakmu, eh mala kamu datang-datang marah, lebih baik kamu gak usah datang mas"


"Benar kata ibu ya Ri, kamu sekarang berani ngelawan sama suami, dosa Ri ingat itu"


"Mas, aku gak ngelawan, tapi disini aku cuma menjawab semua pertanyaan kamu serta aku hanya membela diriku"


"Tapi Ri kamu beneran kebangetan ya, kamu sekarang pake ruang kelas satu, kamu melakukan operasi secar, terus semua biaya siapa yang nanggung Ri, ya pasti ujung-ungnya orang tuamu yang nyuru Mas untuk bayar, kamu enak Ri tinggal diam" 


"Ya memang itu sudah menjadi tanggung jawabmu sebagai SUAMI" sengaja aku tekankan kata suami agar dia mau mengerti.


"Terus aku pake uang apa Ri untuk membayar semua tagihan rumah sakit, kamu tau sendirikan berapa gajiku dipabrik"


"Ya, itu resiko kamu mas, salah sendiri kamu gak pernah mau menabung selama ini,coba kalo kamu menabunh walaupun sedikit pasti gak akan terlalu keteteran, lagian aku operasi secar gak sepenuhnya salahku ini semua takdir Allah, masih mending mas aku gak tuntut ibu dan kakakmu karena sudah berencana membunuhku" ucapku yang seketika mampu membuat Mas Doni bungkam,disini bukan maksud aku menyalakan mereka, tapi disini aku ingin pikiran suamiku terbuka agar tidak terlalu menuruti apa kata orang,aku ingin suamiku berpikir lebih jernih bukan mala hanya selalu menuruti tanpa berpikir akibatnya.


"Jadi sebab semua ini kamu menyalakan keluargaku Ri " bentak Mas doni, untung saja diruangan ini hanya ada kami berdua, andai aku berada di kelas tiga pasti disisi kanan dan kiri ada banyak pasien jadi bisa dipastikan banyak orang yang mendengar percakapan kami.


"Aku gak bilang menyalahkan keluargamu loh mas,aku hanya bilang soal ibu dan kakakmu yang sudah merencanakan pembunuhan terhadapku" 


" cukup Ri jangan kamu bawah mereka dalam urusan kita, sekali saja kamu mengungkit soal mereka aku tidak akan mengusahakan uang untuk membayar tagihan rumah sakit,biar saja orang tuamu yang miskin itu yang membayar dan bisa aku pastikan kamu disini selamanya" ejek Mas Doni


"Apa sudah selesai kamu berbicara hal bodoh seperti itu Don" ucap bapakmu entah kapan dia masuk.

__ADS_1


__ADS_2