Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
kepergian


__ADS_3

Sesuai dengan niat dari awal, tekad sudah bulat dan juga dukungan dari sang suami yang menyuruhnya untuk pergi maka dia langsung menyeret kedua kopernya tanpa memperdulikan lagi Doni yang berada di ambang pintu tanpa mau berinisiatif untuk minggir  padahal riri mau lewat, dengan amat terpaksa akhirnya riri melewatinya begitu saja untuk pergi ke depan.


Beruntung saat sang sopir memasukkan barang-barang riri ke dalam bagasi mobil tidak ada sang ibu mertua sehingga tidak ada lagi yang menghalangi riri. 


Dengan berat hati dan langkah gontai riri membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil lalu di pandanginya rumah yang menjadi saksi bisu selama dia berumah tangga hingga tak terasa air mata menetes dengan derasnya.


"Kita berangkat sekarang bu" ucap sang sopir yang mampu mengagetkan Riri dalam lamunannya.


" iya pak jalan saja pak, " jawab riri singkat. 


"Sesuai aplikasi ya bu, " 


"Iya pak" 


Akhirnya sang sopir menghidupkan mesin mobilnya dan mulai menjauh meninggalkan pelataran rumah Doni.


........ 


Bu Fatmah yang melihat ada mobil baru saja singgah di rumahnya dia segera pergi ke dalam rumah ingin tau siapa tamu yang barusan dari rumahnya sebab tidak biasanya rumahnya kedatangan tamu menggunakan mobil,kebetulan tadi saat kepergian Riri, bu fatmah pergi ke warung untuk membeli kebutuhan dirinya dan mengetahui saat mobil telah pergi dari pekarangan rumahnya.


Disisi lain sebenarnya Bu fatmah sangat takut jika kalau tadi yang datang ke rumahnya adalah para temannya di geng sosialita, sebab para anggota geng kebanyakan dari luar desa sehingga tidak ada yang tau rumah bu fatmah,dia sangat takut jika para teman sosialitanya tau jika keadaan rumahnya sebenarnya, rumah di pemukiman padat penduduk dan sangat sempit, berbedah jauh dengan gaya bu fatmah yang melebihi istri dari seorang pejabat tinggi negara.


 


Dia melangkahkan kakinya dengan cepat untuk masuk kedalam rumahnya, dia tak mendapat riri mungkin saja di kamarnya dan hanya menemukan Doni yang duduk di sofa ruang tamu dengan keadaan tatapan matanya kosong ke arah depan.


Bu Fatmah semakin bingung saat melihat keadaan anaknya, seolah baru saja terjadi masalah yang sangat besar, dia segera mendudukkan bokongnya pas di samping dimana anaknya duduk dan mulai mengintrogasi sang anak.


"Don, kamu kenapa"  tanya bu fatmah namun posisi Doni masih sama tetap saja melamun.


"Don , kamu gak papa kan " ucap bu fatmah sekali lagi namun tetap saja Doni tak memperdulikan ucapannya.

__ADS_1


"Woy, don, doniiiiii" teriak bu fatmah dengan keras  pas di samping telingah sang anak sehingga membuat Doni merasakan telinganya berdengung dan nyeri akibat dari teriakan ibunya.


" ibu apa sih teriak seperti itu, apa ibu kira kita ini sekarang sedang berada di tengah hutan apa, teriak kok seenaknya" ketus Doni.


"Lagian kamu ini dari tadi ibu panggil berulang kali gak nyaut- nyaut memangnya budeg apa telinga mu sekarang don" ucap bu fatmah dengan kesal.


"Emang ibu kira telinga Doni sudah gak berfungsi gitu" 


" Ya mungkin saja Don sebab kamu dari tadi gak dengar" 


"Don tadi ibu lihat ada mobil baru saja meninggalkan pekarang rumah kita, memang siapa yang baru saja bertamu di rumah ini Don" tanya bu fatmah dengan sangat antusias.


Sedangkan Doni hanya menghembuskan nafas kasar dan berulang kali dia menjambat rambutnya dengan kedua tangannya amat kuat.


"Kamu ini kenapa sih don, harusnya kalau ada orang bertanya itu kamu jawab, bukan mala hanya mendengkus seperti itu, sekarang ibu ulangi sdai lagi,siapa orang yang baru saja bertamu di rumah kita, sebab kalau dilihat dari mobilnya juga lumayan bagus, ibu takut kalau tadi yang bertamu teman geng sosialita ibu"


"Bu, bisa gak, kalau saat ini ibu jangan ngomongin geng sosialita ibu yang gak berguna itu, Doni pusing tau" bentak doni pada ibunya, sebab saat ini memang  pikirannya teramat kacau.


"Di tanya baik- baik kok mala bentak orang tua" ucap bu fatmah dengan kesal dan dia langsung pergi ke kamarnya dan  meninggalkan doni sendirian di ruang tamu.


Saat ini juga Bu Fatmah belum menyadari akan kepergian menantu dan cucunya, karena selama kehadiran sang menantu dan cucu dirumahnya pun Bu fatmah selalu menganggap mereka tidak ada.


...............


Sedangkan di lain tempat saat berada di sepanjang jalan riri terus saja meneteskan air matanya meratapi masalah rumah tangganya, dia kecewa pada suaminya yang tidak bisa memposisikan dirinya sebagai penengah antara istri dan ibunya.


Begitu pula sang sopir dia tidak berbicara sama sekali saat melihat keadaan penumpangnya sedang menangis dia membiarkan sang penumpangnya menangis dengan sepuasnya agar emosi yang selama ini dia pendam mampu dia luapkan dengan tujuan bisa mengurangi sedikit beban di hatinya.


Hampir kurang lebih empat puluh menit akhirnya Riri sampai di pekarangan rumahnya, dengan sedikit ragu sebab dia takut orang tuanya akan kecewa melihat sang putri kesayangannya pulang tanpa sang suami. 


"Bismillah aku harus kuat demi anakku, jika aku lemah maka bagaimana nasip anakku ke depannya " ucap riri dalam hati untuk menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Dia langsung membuka gagang pintu mobil dan mulai berjalan membuka pagar rumahnya, sebab di jam seperti ini memang kedua orang tuanya jarang mengunci pagar rumah dan hanya mengunci pintu utama saja.


Sedangkan sang supir mengikuti langkah Riri dibelangkangnya dengan menyeret kedua barang riri.


Tok tok tok


"Assalamualaikum" ucap riri dengan nada sedikit berteriak.


Namun lama tidak ada jawaban sama sekali.


"Assalamualaikum" teriak riri sekali lagi,namun tetap saja nihil tidak ada jawaban sama sekali. 


Akhirnya Riri membuka tas slempangnya dan mengambil ponsel pintarnya lalu membuka aplikasi berlogo gagang telepon berwarna hijau untuk menghubungi sang ibu, mungkim saja saat ini ibunya tidak bisa menyahuti salamnya sebab dia ketiduran atau sedang ada keperluan di luar  rumah.


Riri berulang kali menghubungi sang ibu namun hasilnya saja tidak ada di angkat begitu juga pesan riri tidak ada jawaban, sampai- sampai riri lupa kalau saat ini di belakangnya ada sang supir yang masih setia menunggunya sebab riri belum membayar ongkos sang supir.


Saat Riri berbalik badan dan ingin duduk di kursi yang tersedia di depan rumahnya alangkah kagetnga dia melihat sang supir yang masih berada di sini.


"Ya ampun bapak, maaf pak ,bapak jadinya nunggu saya lama" ucap riri dengan tulus sebab dia jadi gak enak hati pada sang supir.


"Gak papa neng, saya sadar kok kalau saat ini keadaan neng sedang tidak baik- baik saja" jawab sang supir dengan ramahnya.


"Makasih ya pak" jawab riri sambil mengambil tiga lembaran uang merah didompetnya sisa tabungannya untuk membayar sang supir.


"Maaf neng kebanyakan" jawab sang supir saat menerima uang itu.


"Gak papa pak ambil saja ,itu rejeki bapak kok" 


Tiba tiba datanglah sang ibu dengan berjalan cepat ke arah riri.....


"Ririiriiii"   teriak sang ibu.

__ADS_1


__ADS_2