Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
bab 3


__ADS_3

Pov Ros


Entah mengapa akhir-akhir ini hatiku ada yang ganjal, selalu gelisa, dan terus saja kepikiran pada riri, namun saat aku menghubungi riri dia selalu saja bilang tidak terjadi apa-apa padanya dan semuanya baik- baik saja, apa mungkin karena sekarang riri yang sedang hamil besar hingga membuatku selalu saja kepikiran akan anakku.


Hingga hari ini tiba saat ini masih sekitar jam tujuh malam pikiranku sangat tidak karu-karuan memikirkan kondisi riri, lalu kuputuskan untuk berunding saja dengan suami berharap suami mampu memberi jalan agar aku tidak terus kepikiran riri, ku hampiri suamiku yang saat ini sedang bersantai didepan televisi.


" pak, ibu kok dari tadi kepikiran riri terus ya pak, apa kita samperin riri saja pak"


" tenang saja bu, riri pasti baik-baik saja, kalau terjadi apa-apa pasti juga akan mengabari kita " ucap suamiku mencoba menenangkanku.


"Tapi pak, ibu merasa riri sedang tidak baik- baik saja pak "


" kamu jangan berfikiran macam-macam bu, berdoalah agar riri selalu  dalam lindungan Allah"


"Tapi pak, ibu beneran dari tadi gelisah banget pak, "


"Coba hubungi saja riri bu,"


"Sudah pak, katanya semuanya baik- baik saja, ibu menghubungi riri tadi saat pagi, tapi kenapa ya pak sekarang ibu mala semakin kepikiran riri,"


" sudahlah bu, keluarga suaminya kan sangat sayang pada anak kita bu, jadi kalo terjadi sesuatu pada riri pasti mereka langsung menghubungi kita"


Namun jawaban dari suamiku membuatku kecewa seolah dia tidak lagi peduli pada anaknya, walaupun aku tau selama ini jika keluarga dari suami riri sangat menyagangi riri namun tetap saja aku merasakan keresahan dihatiku, lalu kuputuskan saja untuk pergi kekamar untuk melaksanakan sholat isya berharap dapat sedikit memberi ketenangan pada diriku.


Saat aku akan mengambil wudhu terdengar ponselku beberapa kali berbunyi, segera kulangkahkan kakiku menuju nakas dimana ponselku berada, aku terkejut saat melihat ponsel ternyata panggilan dari riri, namun  saat aku ingin menggeser tanda gagang  televon berwarna hijau mala riri mematikan panggilannya, segera ku coba untuk menghubungi riri kembali namun ternyata riri mengirim pesan teks kepadaku dan segera kubuka isi pesan teks dari riri, ternyata riri mengalami kontraksi dan lebih parahnya lagi ternyata keluarga suaminya tidak ada yang menolong sebab mereka beranggapam jika itu hanya kontraksi palsu.


Segera ku ganti baju ku menggunakan gamis dan kuambil jilbab istanku sekenanya karena ini sangat darurat, kulangkahkan kaki ini dengan tergesa-gesa keruang keluarga dimana suamiku berada.


"Pak ayo cepetan kita kerumah riri, barusan riri mengabari ibu jika dia saat ini mengalami kontraksi"


"Yang benar bu, yasudah bapak mau ambil kunci mobil dulu"balas suami.


"Iya bener pak,bapak kira ibu bohongan, cepat pak"


Suamiku langsung mematikan tv dan mengambil kunci mobil, lalu aku segera mengunci semua cendela rumah dan pintu.


Dalam perjalanan tak hentinya aku terus mengucapkan doa agar anak dan cucuku diberi keselamatan, suamiku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, untungnya saat ini jalanan sedang sepi karena banyak umat islam melaksanakan sholat tarawih sebab bulan ini bertepatan  dengan bulan puasa.


Biasanya kami kerumah riri memakan waktu empat puluh lima menit namun sekarang hanya butuh waktu tiga puluh menit karena juga kami sedikit ngebut.


Saat sampai dirumah riri segera aku membuka pintu mobil dengan tergesa- gesa.


Tok tok tok


"Assalamualaikum"


Tok tok tok


"Assalamualaikum"


"Iya bentar waalaikum salam" terdengar suara sahutan dari dalam


"Ceklek " pintu terbuka lebar,terlihat mertua riri muncul dari balik pintu,lalu kuedarkan pandangan ini kearah ruang tamu, alangkah terkejutnya aku ternyata saat ini semua keluarga berada diruang tamu tapi aku tak mendapati riri disana.


"Eh bu besan, ada perlu apa bu kok malem- malem kerumah kita" ucapnya dengan enteng sambil tersenyum lebar membuatku bingung dengannya.


"Gak papa bu, saya hanya sedang ingin bertemu anak saya riri" ucap ku sedikit berbohong karena disini aku menangkap jika disini seperti tidak sedang terjadi apa-apa .

__ADS_1


"Ohh riri bu, ada dikamarnya,ibu segera masuk saja " ucap bu besan karena sudah kebiasaan kami jika aku ingin menjenguk riri aku disuruh langsung kekamar riri karena kebiasaan riri yang kerja dengan waktu panjang membuatnya jika dirumah lebih banyak mengahabiskan waktu dikamar.


Aku dan suami segera melangkahkan kaki ini ke arah kamar mengikuti langkah bu besan,saat berada diruang tamu mereka yang melihat keberadaan ku segera bangkit dari duduknya untuk bersalaman denganku,begitu juga doni, mereka setelah bersalaman langsung melanjutkan aktivitasnya memainkan ponsel kembali diatas sofa.


Lalu kulanjutkan melangkahkan kaki ini kearah kamar riri.


Tok tok tok


"Ri ,riri ini ada ibumu nyariin kamu didepan" ucap mertua riri.


"Ri,riri ini ibu nak"sambungku,


Namun tidak ada jawaban riri sama sekali membuatku semakin gelisah.


"Ri apa kamu sudah tidur nak"


Aku yang tak mendengar jawaban dari riri segera menyuruh mertua riri untuk membuka pintu takut riri terjadi apa-apa.


"Ceklek"


"Ya ampun ternyata riri sedang tidur bu besan" ucap mertua riri sambil tersenyum, sedangkan aku merasa ini aneh langsung saja menerobos masuk kearah ranjang riri,


"Astagfirallah riri anakku" teriakku histeris.


Bagaimana tidak aku menemukan riri sedang pingsan dengan kasur basah berlumuran darah keluar dari ***********.


" pak ayo segera kita bawah anak kita kerumah sakit pak " ucapku .suamiku yang saat itu juga panik segera membopong riri kearah mobil.


Sedangkan disini terlihat mertua riri hanya menganga melihat kejadian ini.


" gapapa bu, namanya juga orang mau melahirkan ya pasti semua akan mengalami seperti ini,tadi juga riri bilang pada saya katanya perutnya mules, pasti itu hanya kontraksi palsu" ucapnya dnegan enteng seperti orang tidak berdosa.


Aku yang saat itu kalut melihat keadaan riri tak  menanggapi omongan dari mertua riri karena bagiku saat ini riri yang terpenting, segera kususul suamiku.


"Don ayo cepat bersiap kamu kita kerumah sakit" ucapku mengajak doni kerumah sakit karena aku cukup greget melihat sikap doni, bagaimana bisa dia bisa sesantai itu sambil memainkan ponselnya padahal saat ini kondisi istrinya membutuhkan pertolongan.


" ya ampun bu besan,ibu jangan panik gitu,riri hanya kontraksi palsu , pasti juga nanti pulang, mending doni dirumah saja,dari pada nanti mala bolak balik"


"Iya bu doni dirumah saja lagian riri hanya kontraksi palsu" balas doni dengan entengnya,


Aku cukup kaget juga mendengar respon dari donu ternyata dia sangat penurut pada ibunya , aku yang malas menanggapi mereka langsung menuju kemobil agar riri segera mendapatkan pertolongan.


Didalam mobil aku dan suamiku tak banyak bicara agar kita segera sampai kerumah sakit.


Saat berada dirumah sakit kita langsung menuju ugd dan riri segera dibopong perawat dengan menggunakan brangkar, aku mengikuti langkah perawat sedangkan suamiku menuju bagian administrasi agar riri segera mendapat pertolongan.


" ibu disini saja,biar tim medis yang melakukan penanganan" ucap salah satu perawat.


Sedangkan aku hanya bisa berada diruang ugd sambil mondar mandir, hampir tiga puluh menit tak ada tim medis yang keluar dari ruangan membuatku semakin gelisah.


Lalu  pintu terbuka terlihat pria berjas putih yang bisa dipastikan itu  adalah dokter yang menangani anakku.


"Dengan saudara pasien"ucap dokter tersebut


"Iya dok saya ibunya" aku dan suamiku segera bangkit dari kursi untuk mendengarkan penjelasan dari dokter.


"Bagaimana keadaan anak saya dok"

__ADS_1


"Bisa ikut keruangan saya bu,agar kita ngomongnya lebih enak"


"Bisa,bisa dok"


" mari bu,pak, kita  keruangan saya"


Aku dan suamiku segera mengikuti langkah kaki sang dokter untuk keruangannya.


"Segera duduk bu"


Dengan cepat kududukkan bokong ini ke kursi yang tersedia.


"Bagaimana keadaan anak saya dok," tanyaku tidak sabar karena takut terjadi apa- apa pada anakku.


Terlihat sang dokter menghela nafas berat berkali-kali.


"Bu, pak, keadaan anak ibu sekarang tidak baik- baik saja "


Deg deg deg


Membuat pikiranku semakin tidak karuan membayangkan keadaan riri yang tidak tidak.


"Dok, anak saya gimana dok, " ucapku sambil menangis sesenggukan .


"Ibu tenang bu, dengarkan dulu ucapan dokter" ucap suamiku sambil mengelus pundakku .


" dok tolong jelaskan apa yang terjadi pada anak saya" ucap suamiku.


Terdengar hembusan nafas kasar dari dokter .


"Bu,pak,saat ini keadaan anak ibu tidak baik,anak ibu mengalami pendarahan dan kehabisan air ketuban,kami takut keadaan cucu ibu didalam tidak bisa diselamatkan karena keracunan air ketuban didalam rahim sang ibu, jadi kami meminta persetujuan pihak keluarga untuk melakukan tindakan operasi secar untuk menyelamatkan  nyawa ibu dan bayinya" jelas sang dokter.


" lakukan apapun yang terbaik dok untuk anak saya"


"Baiklah pak , tolong tanda tangani berkas ini"


Suamiku yang saat itu juga ketakutan akan keselamatan riri dan bayinya dengan cepat mengambil lembar kertas itu dan segera menandatangani agar riri segera diberi tindakan .


Lalu kami keluar dari ruang dokter dan segera menuju keruang tunggu .


"Bu, bapak menghubungi doni dulu ya" ucap suamiku ,aku yang saat ini sudah lemas mengetahui kondisi riri saat ini hanya menjawab dengan anggukan tak mampu lagi berkata walaupun hanya sekata.


Terdengar suara panggilan terhubung dari ponsel bapak, kebetulan saat itu bapak juga melodspeker panggilan jadi aku bisa mendengar percakapan mereka berdua.


" halo, assalamualaikum"


"Waalaikum salam pak"


"Don, istrimu sedang dilakukan tindakan operasi secar,jadi kamu kerumah sakit sekarang" ucap suamiku langsung pada intinya.


"Iya pak,doni akan segera kesana,assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"jawab bapak langsung mematikan televon.


Didepan ruang operasi aku dan suamiku tak hentinya mengucapkan doa agar anak dan cucuku tidak apa-apa .


Namun disini aku sangat kecewa karena sampai terdengar suara tangisan sang bayi namun doni belum juga menampakkan batanh hidungnya hingga terpaksa sang anak diadzani oleh kakeknya,membuatku geram akan sikap doni tersebut, sampai riri selesai operasi dan sadar dari biusnya doni juga belum menampakkan hidungnya,entah dia itu bapak macam apa .

__ADS_1


__ADS_2