Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
bab 14


__ADS_3

Tanpa sengaja Bu Fatma melihat ekspresi sang anak yang terkejut di belakang mobil, membuat bu Fatma mengerutkan keningnya keheranan apa yang telah terjadi pada anaknya.


Namun Bu Fatmah berusaha menetralisir rasa penasarannya sebab dia tidak enak pada besannya jika langsung menghampiri sang anak.


Setelah berbasa-basi lama di ruang tamu, akhirnya Pak yanto dan Bu ros memutuskan untuk pamit pulang ke rumahnya sebab mereka berdua merasa badannya pegal semua terlalu lama bolak- balik ke rumah sakit.


......


...


"Eh Doni tunggu dulu kamu jangan ke dalam dulu"ucap bu Ros kepada doni yang saat itu akan melangkahkan kakinya ke dalam rumah sehabis mengantar kepulangan pak yanto dan Bu ros


"Mau tanya apa bu"


"Ibu mau tanya kenapa kamu tadi terlihat sangat terkejut saat di bagasi mobil"


"Ohhh bukan apa- apa bu, hanya terkejut saja melihat barang belanjaan mertua untuk anakku yang sangat banyak sekali" ucap Doni berbohong sebab jika dia mengucapkan kejadian sebenarnya tentu akan terbongkar jika bukan dirinya yang membayar tagihan administrasi.


" ohh kirain apa ,lagian mertua kamu itu kebay banget sampai belanja segini banyaknya, buat bayi saja bentar lagi juga gak akan kepakai barang segitu banyaknya"


" ya mau bagaimana lagi bu, namanya juga cucu pertamanya, "


"Iya juga sih, eh tapi tunggu Don jangan masuk dulu, ibu mau tanya lagi, " ucap bu fatma saat melihat Doni akan memasuki rumah.


"Apalagi bu"tanya doni malas.


"Ibu mau tanya lagi, kamu ngapain sih tergesa gesa banget, ibu mau tanya soal biaya rumah sakit, habis berapa biaya Riri dirumah sakit"


"Beruntung tadi aku habis melihat tagihan rumah sakit, kalau gak pasti aku sekarang gelabakan saat ditanya sang ibu"guman Doni dalam hati.


" emmm tadi habis sekitar dua puluh lima juta rupiah"jawab Doni seketika membuat sang ibu mengangakan mulutnya dengan lebar sebab dia kaget dengan nominal yang tidak main- main , bagaimana tidak habis banyak sebab Riri menggunakan operasi dengan metode terbaru serta perawatan kelas satu jadi tidak heran jika nominal angka sampai puluham juta.


"Huuuu tak habis pikir ibu ini Don dengan istri dan keluarganya bisa-bisanya mereka melakukan ini semua tanpa memikirkan kondisi kamu" ucap Bu fatma kesal sebab dengan uang nominal segitu banyaknya bisa digunakan untuk membeli perhiasan eh mala ini dengan mudahnya di buat untuk biaya melahirkan.


...


.....


Pov Riri


Hari selasa,7 januari 2020 lahirlah seorang putra yang kuberi nama salman alfarizi, semua keluarga ku dan keluarga suamiku menyambut dengan senang hati ,setelah 3 hari aku dirumah sakit akhirnya dokter memperbolehkan ku untuk pulang, aku harus menjalani oprasi secar sebab aku sudah kehilangan banyak ketuban , saat dirumah sakit semua kluarga tidak ada yang mempermasalahkan jalan ku saat lahiran namun saat aku tiba dirumah barulah semua drama dimulai..

__ADS_1


Saat aku sudah sampai dirumah semua tetangga pun ikut berbondong bondong untuk melihat ku dan bayi ku, mereka sangat antusias karena ada anggota baru namun saat mereka sedang mengucapkan selamat kepada ku ,berbeda dengan ibu mertua ku dari awal aku sampai rumah beliau melihatku dengan tatapan sinis yang sulit kuartikan, namun saat aku sedang bercakap dengan tetangga ku ,aku mendengar kata sindiran tidak enak.


"Selamat ya Riri karena kamu sudah menjadi ibu sekarang dan anakmu sangat manis hidungnya mancung seperti punyamu" ucap bu sani dengan penuh antusias menyambut kehadiran bayiku.


"Iya bu sama sama makasih bu" ucap ku dengan senyuman.


"Iya Riri selamat ya anakmu gemes banget aku nengoknya pingin aku bawa pulang aja" ucap bu jumi.


Kami semua bersenda gurau diruang tamu dan banyak juga ibu ibu yang memberi ku wejangan menjadi ibu yang baik.


"Gimana Ri jahitan mu sekarang terasa sakit gak karena ya memang bius sudah hilang, " ucap Bu Sani karena beliau dulu juga secar saat melahirkan anak terakhirnya.


"Ya gak terasa sakit sih bu , karena kan belum dibuat Riri banyak gerak bu" balas ku .


"Tapi kan enak secar Ri karena tidak merasakan sakitnya melahirkan" ucap Bu Marni tetanggaku yang terkenal teramat sangat julid,


"Enak apa nya sih, kalo ngomong itu , antara secar dan normal sama aja tau sakitnya bahkan lebih para secar" balas Bu sani dengan sengit.


"Ihhh biasa aja kali bu Sani kalo ngomong jangan ngegas lagian ya Bu, perempuan gak akan sempurna kalo belum merasakan lahiran normal" ucap Bu Marni seketika membuat ku merasa minder, jujur dihati ini yang paling dalam sebenarnya aku juga tidak mau untuk melakukan secar namun Allah memberi jalan lain kepada ku dan itu juga demi keselamatan ibu dan bayi.


"Yaa  gitulah anak sekarang itu gak ada yang mau berjuang ,lebih milih jalan pintas saja " ucap ibu mertua semakin membuatku tak enak hati.


"Mbak gak boleh gitu loh ini juga sudah jalan takdir "ucap bu Sani menenangkan suasana.


"Anak pertama saja sudah secar apalagi nanti anak ke 2 ke 3 ya pasti terus secar lo" ucap ibu mertua ketus .


Hatiku bagai sayat belati yang sangat tajam, disisi lain aku bahagia mendapat putra namun aku juga harus mendapat hinaan karena tidak berhasil melahirkan normal, apakah salah apabila perempuan tidak melahirkan normal, serendah itukah nilai wanita saat melahirkan secar, sebenarnya hati ini ingin menjerit namun aku harus kuat karena ini awalan aku menjadi ibu dan aku tidak boleh baper untuk menghadapi semua ini karena ada anak yang harus aku rawat dengan sepenuh hati, jika aku terus merenung siapa yang akan merawat anak ku.


"Gak boleh seperti itu mbak, buktinya dulu nia anak pak haji awalnya secar tapi anak ke 2 dan ke 3 alhamdulillah normal kok mbak, kita tak boleh lo mbak mendahului takdir " ucap Bu sani, memang Bu Sani adalah sosok yang sangat bijaksana.


"Ya gak mungkin lah, kalo sekali udah pernah ngerasain enaknya lahiran secar ya pasti anak ke 2 nanti pasti ketagihan dan dia malas untuk berjuang melahirkan normal" ucap Bu Marni terus mengompori ibu mertua ku.


"kalo ngomong jangan seenaknya dong, lihat itu rini baru melahirkan baru berjuang, aku sadar kamu bisa ngomong seperti ini karena kamu belum pernah ngerasain sakitnya di secar, ingat mila anak kamu masih 1 walau sudah smp masak kamu gak pengen punya anak lagi," balas bu Sani


"Udahlah Sani kamu jangan terlalu belain Riri memang dia saja yang susah untuk dibilangin" ucao ibu mertua ketus dan langsung pergi sehingga membuat beberapa tetangga juga ikutan pergi namun bu sarmi masih tetap berada disini untuk menemani ku..


"Sudah lah Ri jangan dimasukkan hati omongan mereka, mereka bisa berbicara seperti itu karena mereka belum merasakan" ucap Bu Sani sambil mengelus pundak ku dan tentu aku juga terus mengeluarkan air mata.ku balas ucapannya hanya dengan anggukan kepala.


"Jangan dipikirin Ri nanti bayi kamu rewel, karena saat hati ibu tidak baik bayi juga akan menjadi rewel dan produksi asimu mala seret,yaudah ibu pulang dulu ingat kata ibu kamu jangan sampai kepikiran omongan gak berbobot mereka" ucap bu Sani lalu pergi meninggalkanku.


Saat dikamar aku tiba- tiba menangis sendiri mengingat omongan ibu mertua tadi ku ceritakan semua pada suamiku mulai dari awal sampai akhir namun respon suami ku sangat berbeda dan mala membuat ku semakin luka.

__ADS_1


"Udah lah dek, kamu aja yang terlalu baper" ucapnya, aku semakin dibuat histeris kala tau respon suami ku dan selama semalam itu aku tidak bisa tidur dan terus menangis apakah salah seorang ibu yang melahirkan secara secar, untungnya anakku tidak rewel sama sekali dan dia pinter dan anteng sepanjang malam.


........


Keesokan paginya keluarga ku dan keluarga Mas Doni sedang membahas nama yang cocok untuk diberikan kepada anakku..


"Saya hanya menyumbangkan nama salman untuk kepanjangannya tersera kalian " ucap bapak ku dan aku juga setuju karena dari awal aku mengidamkan nama salman untuk anak ku.


Banyak usulan sehingga membuat kami bingung nama apa yang cocok untuk anakku, saat di tengah ternyata kedua orang tuaku harus pergi karena ada urusan mendadak.


Aku sempat mengusulkan nama salman alfarizi namun keluarga suamiku menentang keras dan banyak sekali alasan sehingga tanpa aku mereka diskusi sendiri tanpa memperlibatkan diriku padahal akulah yang melahirkan anak ini,


Hatiku semakin sakit seolah aku ini tidak ada gunanya lagi..


Akhirnya saat tasyakuran aku memberi tahu pada warga nama usulan ku karena aku juga tidak tau nama usulan keluarga suamiku , ya bukan salah ku la kalo aku memberitahukan warga bahwa nama anakku salman alfarizi.


Tiba- tiba suami ku menarik tangan ku dengan kencang sehingga menimbulkan sakit dan kemerahan di pergelangan tangan ku.


"Kamu ini gimana sih ,ngasih tau tetangga dengan nama salman alfarizi padahal nama anak ku salman abdullah " ucapnya dengan nada penuh amarah.


" dari kapan mas napa anak ku salman abdullah, kamu dapat dari mana" balas ku.


"Kemarin malam aku sudah rembukan dengan mas dan mbak serta ibu dan mereka memutuskan nama anak kita salman abdullah"ucap suami ku.


"Trus kamu berunding itu semua tanpa melibatkan aku , kamu anggap siapa aku ini" balas ku dengan sengit, tanpa terasa air mata juga ikut jatuh karena sakit hati merasa tidak dianggap.


"Halaa gitu aja baper pakek nangis segala " ucap suamiku.


Akhirnya aku keluar kamar tanpa mau memperdulikannya dan aku tetap kekeuh untuk memberikan nama salman alfarizi kepada anakku.


"Lancang kamu Ri, kamu beri nama anak tanpa berunding pada kami" tiba- tiba ibu berucap nyalang.


"Bukannya aku yang tidak diajak ibu berunding mengenai nama anak ini, trus ibu anggap aku ini apa, padahal aku yang melahirkan anak ini" ucap ku.


"Pinter ngomong kamu sekarang ya sama ibu" sahut mas Doni dari belakang,


" aku hanya membela mas, dan aku hanya ngomong kenyataan tanpa ada rekayasa" ucap ku.


"Lagian itu anak juga anak Doni dan dia cucu ku jadi wajar dong kalo aku memberi nama cucu ku" ucap ibu mertua seolah menyudutkanku.


"Iya bu rini mengerti , dan ini juga anak rini, rini yang melahirkan, apa salah jika rini memberikan nama pada anak yang rini lahirkan " ucap ku pada ibu...

__ADS_1


"Halaaa sudah lah Ri  kamu sekarang pinter ngomong,lagian semua biaya mu juga anakku yang menanggung jadi hak aku memberikan nama pada anak itu, udah gak bisa lahiran normal kamu ini terus aja banyak tingkah" balas ibu mertua dengan sengit.


Aku yang saat itu harus menyembunyikan kebohongan dari sang suami akhirnya mau tidak mau harus diam saja saat ibu mengungkit soal pembayaran rumah sakit, namun disini aku sangat kecewa sebab di acara tasyakuran kelahiran anakku yang harusnya bahagia harus berujung dengan kesedihan karena keegoisan masing- masing.


__ADS_2