Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
bab 9


__ADS_3

Aku yang saat itu teramat bucin dengan Mas Doni hanya mampu mengangguk saja tanpa bisa membantah karena aku tidak mau menjadi janda selepas melahirkan, walaupun aku tau bagaimana perlakuan keluarganya kepadaku, apalagi aku tidak ingin jika nanti anakku tumbuh tampah ada kehadiran sosok seorang Ayah disisihnya, sedangkan saat memasuki ruanganku Mbak Mila langsung mengedarkan pandangannya seolah takjub dengan apa yang berada didalam ruangan ini, memang tergolong sangat lengkap bahkan didalam ruanganku tersedia kulkas yang isinya terdapat berbagai macam minum dan buah, tanpa seizin dariku Mbak Mila langsung membuka isi kulkas dan mengeluarkan minuman serta beberapa buah.


"Enak juga hidupmi ya Ri, melahirkan dengan cara instan dan dirawat dikamar kelas satu pula, memang top kamu Ri , kalau menghabiskan uang suami" ucap mbak mila sambil mulutnya masih penuh dengan potongan buah yang dia makan.


Aku yang mendengar ucapan dari Mbak Mila hanya mampu diam saja tanpa mau menjawab,karena aku takut berkepanjangan dan jahitan diperutku juga terasa nyeri jika digunakan untuk berbicara agak keras.


Lalu Mas Doni mengambil kursi dan duduk disebelahku dengan perlakuan sangat manis terhadapku, lalu dia membisikkan kata sekali lagi yang membuat hatiku semakin sakit bagaikan ditusuk belati berkali-kali.


"Bersikaplah seolah aku ini yang membayar semua tagihan rumah sakit, aku tidak ingin mereka kecewa, kamu ngertikan akibatnya jika sampai kamu membantah omonganku" bisik Mas doni lirih ditelingah namun mampu menyakiti hati ini.


Lalu Mas Doni dengan dramanya dia mulai memberikan aku perhatian yang sangat manis sekali seperti menyuapiku, mengambilkanku minum.


Sedangkan dari tadi terlihat raut wajah dari Ibu mertua yang tidak mengenakkan mata, dia menatapku dengan tajam dan penuh ketidak sukaan.


"Pokoknya ibu gak mau tau ya Ri, selesai masa nifas kamu harus segera bekerja lagi untuk membantu anak ibu mencicil hutangnya dipabrik, jika kamu gak kerja mau makan apa kita,belum lagi cicilan motor, cicilan hutang, nyusain aja kamu bisanya " ucap ibu mertuaku.


Aku hanya mampu menjawab dengan anggukan kepala saja karena aku tidak ingin rumah tanggaku hancur setelah melahirkan dan aku tidak ingin jika anakku tumbuh tanpa sosok seorang ayah.

__ADS_1


"Bagus, memang seharusnya kamu selalu membantu untuk meringankan beban suami, bukan mala hamil kamu jadi manja dan tidak mau bekerja, ya beginilah jadinya kalau pas hamil terlalu manja, pas lahiran pun manja juga jadinya" ucap Ibu mertua tanpa melihat keadaan anak perempuannya, sebab anak perempuannya dalam berumah tangga sama sekali tidak pernah bekerja membantu ekonomi keluarga, apalagi saat hamil anaknya kelewatan manjanya bahkan minum saja selalu panggil suaminya, tentu aku tau karena tetangga sering menceritakan sifat Mbak Mila kepadaKu.


"Kalau sudah kejadian seperti ini siapa juga yang akan susah, suamikan yang susah, belum lagi kondisi anakmu yang dilakukan perawatan khusus, mangkanya kalau orang tua cakap itu didengarkan dan dipakai jangan mala masuk lewat kuping kanan keluar lewat kuping kiri" 


"Dengar itu Ri apa kata Ibuku, andai saja kamu saat dirumah tidak meminta bantuan orang tuamu dan masih bertahan dirumah mbak jamin deh pasti kamu gak akan di operasi secar, karena namanya kontraksi itu berhari hari, lah kamu baru saja merasakan kontraksi sudah heboh sedunia raya " ucap Mbak Mila sambil terus memakan buah didalam kulkas dan tiduran disofa apa dia gak sadar dirumah sakit kok kayak dirumah sendiri.


"Dasar ipar kurang ajar, bisa-bisanya menyalahkanku dan kedua orang tuaku, " umpatku dalam hati,


"Iya itu betul Ri, andai kamu gak grusa-grusu pasti tidak akan mengalami hal seperti ini"sambung Ibu mertua, disini aku merasa terpojokkan dan lebih sakitnya lagi karena suamiku tidak membuka suara sedikit pun untuk membelaku, jangankan saja berada dirumah sakit, berada dirumah saja aku tidak pernah mendapat pembelaan dari suamiku jika aku mendapat perlakuan buruk dari ibu dan kakaknya, yang ada mala aku yang semakin disalahkan jika tidak menuruti apa yang dikata ibunya.


.........


Rencanaku saat ini setelah diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit, aku ingin pulang kerumah orang tuaku saja karena jika berada dirumah mas doni aku tidak yakin orang tua mas doni memperlakukanku dengan baik apalagi aku sekarang sudah punya bayi, jika aku pulang kerumah orang tuaku maka otomatis aku dan kedua orang tuaku bisa bergantian menjaga anakku, sebab namanya anak bayi tidak bisa diprediksi apakah anak itu mudah rewel jika tengah malam atau anaknya anteng sehingga sebagai orang tua harus berjaga-jaga dan ibu pasca melahirkan tidak bisa melakukan sendiri harus ada yang mendampingi takut terlalu kecapean,  namun rencana ini belum aku bicarakan pada mas doni dan dilubuk hatiku yang terdalam aku ingin mas doni mengerti dan mengizinkan untuk tinggal bersama kedua orangtua.


 Ibu dan Bapakku tadi berpamitan pulang kerumahnya karena ada beberapa ladang yang dipanen dan kedua orang tuaku hanya mengecek saja lalu setelah semuanya selesai mereka akan kembali lagi kerumah sakit, sebenarnya aku sangat bersyukur sebab keluarga mas doni datang disaat keluargaku sudah pulang, andai kata orang tuaku masih berada disini entah apa yang akan terjadi pasti sudah terjadi perang dunia kedua, bisa dilihat dari ibuku yang sejak kemarin sudah memendam banyak emosi dihatinya.


Mbak mila masih sama dengan aktivitasnya tiduran di sofa panjang sambil nonton tv ,ibu mertuaku sedang duduk disofa sebelah mbak mila sedangkan mas doni sedang sibuk dengan ponselnya entah apa kesibukannya yang jelas terlihat dia sangat serius sekali.

__ADS_1


 Tiba -tiba suara ketukan pintu terdengar membuatku mendongak kearah pintu,aku takut jika kedua orang tuaku yang datang, aku tidak ingin ibuku semakin dibuat naik pitam dengan kelakuan mereka.


Tok 


Tok 


Tok 


"Masuk" jawab mas doni


"Ceklek " , terdengar suara pintu terbuka


"Alhamdulillah ternyata dokter dan perawat yang datang untuk memeriksa kondisiku" ucapku dalam hati karena merasa lega.


"Selamat siang ibu Riri, kami disini ingin memeriksa keadaan ibu" ucap sang dokter dengan senyuman, lalu dia segera menempelkan toteskopnya kebadanku, setelah itu perawat merekatkan alat tensi meter ketanganku untuk memeriksa tekanan darahku.


"Alhamdulillah ibu semuanya sudah normal, ibu besok sudah boleh pulang, namun..

__ADS_1


__ADS_2