Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
cerai


__ADS_3

Saat suasana bagahagia di rumah Pak Anto tiba- tiba menjadi sunyi saat Pak Anto mulai menanyakan perihal kelangsungan rumah tangga sang anak, Sebab Pak Anto juga tidak bisa jika nasib sang anak tanpa kejelasan walaupun di sebenarnya sangat membenci yang namanya perceraian.


"Ri, Kamu sampai kapan seperti ini terus, gak bail lo kalau kayak gini terus nanti mala dosa" ucap Pak Anto lembut sambil menatap Riri yang langsung gelapan mendengar pertanyaan sang Bapak.


"Ya, mau bagaimana lagi Pak, ini kan juga kemauan Mas Doni bukan kemauan Riri sendiri," jawab Riri sambil menunduk sebab dia saat ini memang sangat ketakutan untuk menatap wajah sang Bapak.


"Iya lo Pak, lagian juga ya kalau Doni beneran ingin memperbaiki rumah tangganya kenapa sampai sekarang dia tidak menjemput anak kita" Bu ros ikut menimpali omongan antara Bapak dan anak.


"Dan Ibu juga gak terimah lo Pak anak Kita sampai di perlakukan seperti itu, memang Mereka pikir kalau Riri ini sapi perah apa kalau ada hasilnya di pelihara kalau gak menghasilkan mala di buang seenaknya, Ibu yang ngelahirin Riri, ngebesarin, gak ridho dunia akhirat Pak" sambung Bu Ros sebab memang seorang Ibulah yang nomer satu paling sakit hati kalau anaknya di sakiti oleh orang lain.


"Terus kita harus gimana Bu, masak Kita biarkan Riri seperti ini terus tanpa kejelasan statusnya, nanti apa kata tetangga coba Bu"


"Ya jangan urusin omongan tetangga Pak, Bapak berpihak tetangga apa anak Kita, biarlah Riri disini dulu Pak, sampai suaminya menjemput, dan satu yang paling membuat hati Ibu ini sakit hati" ucap Bu ros sambil menatap tajam ke arah suaminya sambil menepuk dadanya dengan sangat kuat memperlihatkan betapa hancurnya hatinya saat ini.

__ADS_1


"Doni meminta Riri dengan baik- baik seharusnya kalau dia sudah tidak butuh ya pulangkan baik-baik bukan mala di biarkan pulang sendiri, dasar lelaki banci gak punya tanggung jawab" sambung Bu Ros dengan penuh kebencian.


Sedangkan Pak Anto hanya bisa menghela nafas kasar, sebab sebenarnya Dia juga teramat sakit hati pada menantunya tersebut, namun kalau Dia sebagai kepala keluarga tidak bisa berlaku bijak mala yang ada masalah anaknya tidak akan cepat selesai.


"Memangnya selama ini Doni tidak pernah memberi kabar kepada kamu Ri, atau hanya sekedar bertanya bagaimana kabar Salman" tanya Pak Anto sambil menatap wajah Riri dengan intens, sehingga membuat Riri menjadi semakin sedih saat mengingat suaminya, tanpa terasa buliran air mata keluar dari kedua mata indah Riri dengan sangat deras.


"Kamu kenapa menangis nak, hadapi semua ini, ingat ini cobaan ,Allah tak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan umatnya," ucap Pak Anto saat melihat Riri mulai rapu.


Hati seorang istri mana yang tidak sakit hati saat tiba-tiba suaminya menyuruh Dia untuk pergi meninggalkan rumah, dan saat Riri pergi dari rumah pun Doni seolah tidak mau mencegah kepergiannya seolah kepergian Riri adalah impian bagi dirinya, sampai dua minggu lamanya pun Doni tidak pernah berinisiatif untuk menjemputnya.


Riri merasa saat ini Doni telah mencapai kemenangan yaitu berhasil membuat benalu seperti Dia dan anaknya.


"Mas Doni tidak pernah memberi kabar sedikit pun sama Riri Pak, bahkan Dia tidak perna sekalipun menelvon atau mengirim pesan pada Riri hanya untuk sekedar bertanya bagaimana kabar anaknya sendiri saat ini" jawab Riru dengan terbata bata menahan sesak di dadanya.

__ADS_1


"Tuh kan Pak, sekarang Bapat tau bagaimana buruknya menantu Kamu itu Pak, anak dan cucu kesayangan Kita di buang begitu saja, apa Dia kira sampah" ucap Bu Ros dengan menggebu saat dia mengetahui jawaban dari Riri sebab selama dua minggu tinggal bersama, Riri tidak pernah sekalipun membahas topik tentang suaminya, bahkan dia seolah lupa, sekarang Bu Ros tau kenapa anaknya tak perna membahas Doni sebab dia takut anaknya kembali untuk mengingat keegoisan suaminya.


"Terus niat kamu apa nak ke depannya, kalau menurut Bapak mending kamu pikirin dulu dengan matang sebelum bertindak, sebab Bapak tidak mau Kamu salah langkah, ingat ada Salman diantara Kalian" Tanya Pak Anto dengan lembut, walaupun dia sangat sakit hati pada menantunya namun di sisi lain dia tidak mau egois,Dia memikirkan bagaimana nasib Cucunya nangi kalau sampai dia kehilangan sosok seorang Ayah.


"Sebenarnya Riri berniat untuk cerai saja Pak, Riri tidak bisa harus hidup diantara keluarga toxic seperti mereka, bahkan Mas Doni saja seolah lupa pada tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah bagi Salman, bahkan Mas Doni tidak perna sekalipun menengok Salman,padahal kita ini  satu rumah, jadi tidak heran kalau Salman jauh tidak di cariin, dan Riri juga sudah mempersiapkan semua berkas untuk di ajukan pada pengadilan, sebab saat Riri  berkemas, Riri sengaja membawa sekalian semua dokumen penting agar kalau ada apa apa yang mendesak Riri tidak kelimpungan mencarinya" ucap Riri mengeluarkan semua apa yang ada di pikirannya selama ini.


"Apa kamu yakin nak ingin mengambil langka perceraian, ingat di sisi kalian ada Salman, bagaimana nanti kalau Salman sampai tumbu tanpa seoarang Ayah di sampingnya "tanya Pak Anto menatap lekat kepada Riri.


"Memang Pak ada Salman di antara kita, tapi Riri yakin kok kalau Mas Doni gak akan di buat bingung dengan kehadiran Salman, wong kehadiran Salman saja sepertinya tidak di harapkan bagi dirinya" jawab Riri sambil matanya menatap tembok menerawang jauh mengingat bagaimana selama ini Ibu mertuanya  dan Suaminya memperlakukan Salman, seolah mereka menganggap kehadiran anaknya tidak di inginkan.


"Sudahlah Bapak jangan membuat pusing anak kita, sudah cukup ya pak Doni dan keluarganya membuat Riri sakit hati, apalagi kalau di ingat masalah saat Riri mau melahirkan, rasanya ibu sangat marah pada mereka, tapi ibu mengesampingkan ego ibu Pak sebab ibu hanya ingin anak ibu menjadi patuh dan taat pada suaminya, eh ini mala anak kita di buat sakit lagi sama mereka"ucap bu ros dengan nada ketus dan sinis.


"Kalau usul Bapak sih mending kamu jangan gegabah dulu untuk mengambil keputusan dan langkah selanjutnya, Bapak ingin menunggu Doni dulu ke sini untuk menjemput kamu, lalu kita bicarakan dengan baik baik," 

__ADS_1


"Alahhhh pak kelamaan kalau nunggu mantu kamau itu"


__ADS_2