Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
bab 2


__ADS_3

"Iya sabar,tunggu saja bentar, sekarang juga ibu dan bapak akan berangkat ke rumahmu" balas sang ibu diseberang sana , balasan ini setidaknya mampu membuatnya sedikit tenang, riri langsung membaringkan tubuhnya diatas ranjang sambil memiringkan badannya ke kiri dan ke kanan berharap mampu sedikit mengurangi rasa sakitnya,


Hampir tiga puluh menit riri berada dikamar tidur sendirian, bahkan suaminya tidak menengoknya sama sekali.


Riri didalam kamar menangis sendirian merasakan sakit luar dalam, sakit karena merasakan kontraksi mau melahirkan ditambah lagi sakit hatiny karena suaminya enggan peduli pada dirinya seolah dia sedang main- main dengan yang berhubungan dengan nyawa, padahal saat ini riri sedang berjuang untuk melahirkan anaknya namun udin malah acuh, dia lebih percaya akan omongan dari ibunya dari pada omongan dari istri sendiri.


Riri saat ini sangat ketakutan karena air ketuban semakin meresbes hingga membasahi kasurnya, dia menangis menerus menatapi nasibnya,hingga tanpa riri sadari dalam air ketubannya yang merembes ada ikut serta darah keluar dari ***********, dia terus menangis sesenggukan dikamarnya tanpa ada yang tau hingga dia pingsan.


Entah seberapa lama aku tertidur tak sadarkan diri, namun perlahan aku membuka mataku dengan rasa teramat pusing dikepala,kuedarkan pandangku, terlihat ruangan bercat putih dengan bau obat-obatan yang menyengat diindra penciuman hingga bisa dipastikan jika ini adalah rumah sakit, tiba-tiba terasa sangat nyeri dibagian perutku,baru kusadari jika perutkut sudah mengecil.


"Apa mungkin aku sudah melahirkan" gumanku dalam hati,aku semakin bingung karena sama sekali diruang ini tidak ada seorang pun,termasuk kekuargaku, karena kepalaku terasa sangat nyeri membuatku tertidur kembali.


Entah berapa lamanya mataku terpejam kembali.


Samar-samar terdengar suara langkah kaki semakin mendekat, perlahan kubuka mataku untuk melihat sosok yang datang.


"Ii iii iibu" ucapku tergagap

__ADS_1


"Iya nak,ini ibu, kamu sudah enakan"


"Sudah bu, apa yang terjadi, apa riri sudah melahirkan, dimana bayi riri bu, " tanyaku dengan beruntun kepada ibu karena disini hanya ibu saja, suamiku, keluarganya tak kelihatan batang hidungnya"


"Ri, ibu mohon kamu tenang dulu jangan terlalu banyak gerak " ucap ibu lembut.


"Riri gak tenang bu, dimana anak riri," tanyaku sekali lagi karena terlihat dari raut wajah ibu seperti ada yang ditutupi dariku.


"Baiklah ri, ibu akan jawab semuanya tapi kamu janji ya jangan kaget, semua pasti ada jalannya ri"


Ucap ibu pelan dengan nada kehati-hatian membuat pikiranku semakin melayang takut terjadi apa-apa pada anakku.


" sabar ri, sabar"


"Alhamdulillah ri kamu sudah melahirkan,anakmu berjenis kelamin laki-laki, ibu dan bapak saat sampai dirumahmu sudah menemukan kamu dalam keadaan sudah pingsan, lalu ibu dan bapak segera membawamu kerumah sakit,dokter lalu segera memeriksa dirimu katanya keadaanmu tidak memungkinkan jika harus melahirkan normal,kamu melahirkan dengan melakukan tindakan operasi secar, dokter terpaksa melakukan tindakan secar demi menyelamatkan nyawamu dan bayimu karena kamu sudah kehabisan cairan ketuban, karena dokter takut bayimu tidak bisa diselamatkan karena keracunan air ketuban, dan benar saja dugaan dari sang dokter jika bayimu keracunan air ketuban dan sekarang sedang dilakukan proses penanganan pada bayimu, semoga semuanya baik-baik saja ri" ucap ibu menjelaskan semuanya padaku dengan diiringi tangisan air mata.


"Bu bagaimana keadaan anakku sekarang bu"

__ADS_1


" kamu tenang dulu riri,tenang, istighfar riri, semoga semuanya dilancarkan oleh Allah ,kamu terus berdoa, tenang saja anakmu sudah diberi penanganan yang terbaik oleh dokter"


" terus sekarang dimana keberadaan mas doni bu"


Tanyaku kepada ibu namun aku heran saat aku bertanya tentang keberadaan mas doni ibu mala menghela nafas berat .


" bu, ibu kenapa kok mala bengong, kan riri cuma tanya dimana keberadaan mas doni" tanyaku sekali lagi, ya maklum namanya juga seorang istri apalagi saat melahirkan pasti akan sangat membutuhkan perhatian dna kasih sayang lebih dari sang suami.


" doni masih berada dijalan ri, tadi yang bawa kamu kesini hanya ibu dan bapak karena doni dilarang oleh mertuamu dan keluarganya karena yang kamu alami hanya kontraksi palsu, jadi ibu yang saat itu malaa berdebat langsung mengikuti bapakmu yang sedang membopong kamu ke mobil untuk segera pergi ke rumah sakit,dan saat kamu akan diberi tindakan operasi bapakmu langsung menghubungi doni untuk segera menyusul kerumah sakit" hatiku terasa nyeri bagaikan diiris belati berkali kali mendengar semua penjelasan dari ibu, bagaimana mungkin saat aku sedang berjuang melahirkan anaknya dia mala lebih mementingkan omongan keluarganya dari pada diriku seolah aku dan anaknya ini tidak penting baginya, tanpa terasa aku meneteskan air mata begitu derasnya meratapi nasib bayiku.


"Kamu yang sabar ya ri, kamu jangan terlalu banyak fikiran nak, ingat kamu sudah menjadi ibu dan akan menyusui, ibu menyusui tidak boleb banyak fikiran ri" ucap ibu sambil memegang tanganku memberi semangat pada diriku.


Aku tak habis pikir dengan fikiran mas doni, entah mengapa dia terlalu menurut apa yang dikata pada ibunya tanpa mau berfikir terlebih dahulu, ya sifat inilah yang paling kubenci dari seorang mas doni karena dia terlalu nurut pada ibunya, memang tidak ada salahnya jika seorang anak patuh dan taat pada ibu, namun dengan garis besar jika apa yang diucapkan sang ibu mengandung kebenaran dan patut ditiru, lah ini mas udin menuruti semua perkataan ibu tanpa mau menyaring dahulu  apakah ini benar dan tidak, seperti kejadian saat aku hamil dulu, untungnya aku mampu  menolak keras permintaan dari mas doni saat dia menyuruhku meminum air rumput fatimah yang katanya mampu melancarkan persalinan tanpa mau memikirkan dampak untuk sang bayi, walau aku harus berselisi paham dengan mas doni, dan ini kejadian lagi saat aku mengalami kontraksi mau melahirkan eh mala ibunya mas doni dengan entengnya bilang kalau ini hanya sebuah kontraksi palsu dan bodohnya mas doni hanya mengiyakan saja karena dia terlalu percaya jika ibunya lebih berpengalaman dari pada diriku.


" bu kalau sekarang mas doni sedang dalam perjalanan kesini, terus siapa tadi yang yang mengadzani anaku bu, " 


" kamu tenang saja riri, tadi bapakmu sudah mengadzani anakmu kok, jadi gak usah kamu fikirin lagi" 

__ADS_1


Sama seperti halnya ros ibunya riri dia juga tak habis fikir dengan kelakuan dari menantunya tersebut, dia itu niat jadi bapak atau gak sih, dari tadi sudah dikabari kalau riri akan  melahirkan eh mala sampai proses operasi sudah selesai dan riri sudah sadar dari pengaruh biusnya eh mala doni belum juga menampakkan batang hidungnya.


__ADS_2