Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
bab 15 baby blues


__ADS_3

Disini entah siapa yang salah, atau mungkin pengaruh hormon pasca melahirkan sehingga aku terlalu baper saat menanggapi setiap permasalahan.


Pasca melahirkan aku seperti dijauhi oleh keluarga dan suami, setiap malam aku selalu bertanya dalam hati apa yang membuat mereka seolah menghindari ku , apa karena aku melahirkan dengan secar,apakah hina seorang ibu yang lahiran secar dimata mereka, apa karena masalah pemberian nama, begitu juga dengan suami ku seolah menghindar dengan ku ,


Hari demi hari ku lalui dengan kesibukan baru mengurus putra ku , untungnya putra ku dia pinter dan anteng seolah mengerti keadaan mamanya , setiap pagi habis dimandikan dia selalu tidur dan saat malam pun dia tak pernah rewel selalu anteng,aku mengurus putra sendirian dan aku jarang melibatkan saudara maupun mertua ku walaupun jarak rumah kami dekat namun aku seolah menolak karena mereka selalu mencibir seolah aku ibu yang tidak becus sehingga aku selalu menghindari mereka demi menjaga kewarasan hati ku.


Hingga suatu ketika saat aku sedang menjemur baby ku di pelataran rumah tiba- tiba anak dari ipar ku langsung nyium anak ku padahal dia saat ini lagi sakit flu dan batuk.


"Arin jangan nyium adek nya dulu kasian arin lagi sakit gitu nanti adeknya ikutan sakit" aku berusaha menjelaskan dengan lembut karena usia yang masih 5 tahun.namun dari belakang tiba- tiba ibu mertua ku datang dan mencibir.


"Kamu pikir keluarga ku ini penyakitan, nyium aja gak boleh , kamu aja yang terlalu berlebihan " ucapnya .


"Kan memang benar bu sekarang keadaan arin lagi sakit" balas ku, sebenarnya aku malas memulai perdebatan tapi kenapa selalu aja aku salah dimata mereka.


"Kamu memang jadi orang ya gitu dari dulu pinter ngomong, anak nyium aja kamu buat panjang " ucapnya sambil terus berlalu meninggalkan ku.


Tentu aku sakit hati, padahal aku hanya memberi pengertian mala dibuat sepanjang ini namun apa pada akhirnya seolah akulah yang membuat panjang setiap masalah.


Saat berada di dalam ku ceritakan semua yang terjadi pada suami ku aku berharap dia memberi sedikit pengertian agar aku tidak dibilang pintar omong dan selalu mencari kesalahan namun respon suamiku membuat aku semakin sakiy hati ,


"Halaaa masalah nyium aja dibuat panjang, kamu ini pinter buat masalah" katanya


"Bukan masalah nyium mas, gapapa kalau keadaannya sehat ini lagi sakit apa lagi bayi sangat rentan" ucap ku membela.


"Kamu memang pinter ngomong" balasnya sambil berlalu meninggalkan ku sendirian dikamar .


Bukan aku baper atau apa tapi disini seolah aku tidak punya teman , pasca melahirkan aku lebih menjadi pribadi yang pendiam , memendam semua sendirian , aku tidak ingin membuat masalah..

__ADS_1


Seminggu pasca melahirkan aku sudah dituntut untuk mandiri seperti nyapu, masak dan mencuci baju sendiri, karena menurut ibu mertua melahirkan secar tidak beresiko untuk melakukan pekerjaan walau terkadang luka bekas jahitan terasa nyeri namun aku tidak pernah memberi tau suami ku kalo hanya ujung ujungnya aku lah yang disalahkan, saat rasa nyeri ini melanda aku bergegas mengambil parasetamol dan pereda  nyeri aku tidak mau dianggap perempuan manja dan hanya bisa omong.


Keesokan harinya saat tengah malam aku tentu syok ternyata saat ini kondisi salman badannya panas dan batuk, dia sepanjang malam rewel mungkin karena dia merasa badannya sakit dan tidak nyaman  sehingga membuat ibu mertua dan suami ku tidak bisa tidur.


"Kamu bisa ngurus anak gak sih dari tadi anakmu nangis terus " ucapnya ketus.


Padahal aku dari tadi menimang anak ku agar sedikit memberi rasa nyaman dan dia bisa tertidur namun dia datang seolah akulah ibu tidak becus di dunia ini.


"Gimana gak rewel dia  lagi deman dan batuk" balasku dengan sekilas karena aku kewalahan menghadapi salman yang tidak berhenti menangis dari tadi.


"Ya itu gara gara kamu jadi ibu gak becus udah tau menyusui anak minum es dan minum air kebanyakan " ucap nya,


"Trus kalo aku gak minum apakah asi ku bisa mengalir sederas ini sedangkan tubuh ku dehidrasi dan sejak kapan ibu minum es anak jadi batuk dan pilek" guman ku dalam hati , aku tau anak ku saat ini karena tertular arin yang kemarin sedang batuk namun percuma saja kalo aku menjelaskan sama ibu mertua pasti ujung nya aku juga yang salah dan menjelaskan pada orang yang gak berilmu mala akan menambah sakit karena tidak mau kalah..


Aku malas meladeni ocehan ibu mertua yang terus menyudutkanku sehingga aku memilih keluar dari rumah untuk untuk mencari angin agar hatiku sedikit tenang dan menimang salman agar  dia bisa tertidur.


Keesokan harinya aku meminta antar ke bidan terdekat untuk memeriksakan salman pada suamiku namun ibu mertua mala melarang.


"Yang namanya ibu menyusui kalo anak sakit ya minum obat karena nanti obatnya kan mengalir bareng asi dan diminum si bayi" ucap nya ketus.


"Tapi keadaan salman sekarang seperti ini " aku kasian karena panas salman dari kemarin malam tidak turun dan masih batuk aku takut kalo di biarin nanti mala kejang.


" ya memang begitu mangkanya kamu cepetan minum obat coba kalo kamu dari kemarin malam minum obat ya pasti sekarang obatnya sudah ikutan asimu dan sekarang anakmu sembuh" ucap ibu terus mengoceh entah itu ilmu dari mana seperti itu.


Aku langsung manarik tangan mas Doni dan segera minta antar ke bidan dan alhamdulillah kali ini dia mau menuruti apa kataku .


Saat di bidan ,ibu bidan langsung memeriksa salman dan menjelaskan semua keluhan yang dialami anakku.

__ADS_1


"Alhamdulillah ibu Riri segera membawa anak ibu dengan cepat karena ini panasnya sudah tinggi dan bisa mengakibatkan anak menjadi kejang" jelas bu bidan lalu aku melirik suami ku , aku berharap setelah mendapat penjelasan bu bidan dia sedikit mengerti cara memahami anak agar tidak seenak nya menyalakan aku.


"Apakah ada yang serius bu yang di alami anak saya sehingga dia bisa batuk seperti itu "ucap ku khawatir maklum masih belajar menjadi seorang ibu yang baik.


"Tidak ada bu , saran saya agar bu Riri menjaga anak dengan baik seperti jangan mendekatkan anak ibu pada orang yang lagi sakit terutama batuk dan flu karena tubuh bayi masih sangat rentan terhadap virus , jadi ibu sendiri yang harus hati- hati tapi kan ya gimana bu riri  saya juga maklum namanya anak bayi terkadang banyak orang yang merasa gemes sehingga suka langsung nyium bayi tanpa memperdulikan kondisi tubuhnya, " ucap bu bidan menjelaskan


"Iya bu saya mengerti" ucap ku


"Dan sampean juga mas kalo merokok usahakan jauh dari anak anda karena itu juga sangat beresiko pada pertumbuhan bayi anda" ucap bu bidan .


"Dan ini obat berikan pada bayi anda 3 kali sehari ya bu " ucap bu bidan.


"Kan kasian dong bu kalo bayinya minum obat apa gak ibunya bu yang minum obat kan memang menyusui jadi otomatis bayinya juga ikut merasakn obat yang diminum ibunya " ucap suami ku tiba tiba dan membuat ku sedikit kaget bisa bisanya dia bertanya hal bodoh seperti itu.


Bu bidan langsung tersenyum dan menjelaskan lagi.


"Tidak seperti itu pak konsepnya ,karena obat hanya 1% yang masuk pada asi ibu,kalo saat ibu menyusui mengkonsumsi obat sembarangan nanti mala agar berdampak pada produksi asi " jelas bu bidan lagi ,di lubuk hati yanh terdalam aku merasa senang karena penjelasan dari bu bidan dan aku berharap suami ku bisa belajar mengerti akan kondusi ku.


Setelah menyelesaikan administrasi aku dan suamiku langsung pulang .saat diperjalanan aku sedikit mengajak ngobrol pada mas udin karena bagaimana pun ini juga kesempatan mumpung hanya berdua karena kalai dirumah pasti ibu mertua selalu ikut campur.


"Mas kamu dengar sendiri kan penjelasan dari bu bidan tadi , jadi aku gak ngada ngada mas dan aku juga tidak pintar omong " ucap ku


"Halaaa jangan terlalu banyak percaya omongan bidan dan jangan ditanggepi terlalu berlebihan " balas suami ku.


"Kok kamu ngomong seperti itu sih mas , ini juga kan demi kebaikan salman anak kita, kata mu jangan terlalu nurut omongan bidan la sekarang kalo ada apa apa sama anak kita kan kita juga lari lagi ke bidan" ucap ku sedikit kesal karena pemikiran suami ku ternyata sedangkal itu.


"Kamu memang sekarang pinter ngomong ya dan selalu saja ngajak berdebat, gak bisa apa nurut gitu kalo di bilangin ibu" balas nya membuatku semakin dilema karena aku merasa setiap langkah dan ucapanku selalu salah dimata suami dan keluarganya.

__ADS_1


"


__ADS_2