
"Saudari Riri fitriani, apakah Anda siap cerai pada Saudara Doni " ucap Pak Hakim kepada Riri
"Iya Pak Hakim"ucap Riri dengan berusaha setenang mungkin, sambil berulang kali mengatur nafas, walau saat ini tangannya sangat gemeteran dan gugup, selama ini Dia tidak pernah menyangkah dan membayangkan bisa duduk di depan seorang hakim.
"Tapi Saya tidak ingin bercerai dengan Riri Pak Hakim, Saya ingin memperbaiki hubungan rumah tangga Saya dengan Riri" pekik Doni dengan nada sangat ketakutan sambil memandang wajah ibunya yang saat ini sedang memelototkan matanya pada Doni, Lastri tidak menyangka akan ucapan Doni saat ini.
"Kamu ini apa-apaan sih Don, Malu-maluin saja" ucap Lastri dengan lancang, sehingga membuat semua orang yang berada di ruang sidang hanya mampu menggelengkan kepalanya, melihat attitude Lastri yang sangat buruk.
"Sudahlah Mas, mending Kamu nurut saja apa yang telah di kata Ibumu, dari pada nanti yang ada akan mempermalukan diri sendiri" jawab Riri,sebab Dia saat ini merasa jika bacot mulut dari Doni dan keluarganya yang akan memperlambat jalannya sidang.
"Untuk yang tidak berkepentingan tolong untuk sementara waktu jangan ikut berbicara" ucap Pak Hakim, sebab saat ini antrian sidang juga sangat panjang dan sebisa mungkin harus mempersingkat waktu.
"Saudari Riri fitriani, apa alasan Anda untuk bercerai dari saudara Doni"sambung Pak Hakim.
"Sebab suami Saya telah berhianat dan tidak memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami yaitu tidak memberikan nafkah yang layak pada Saya" jawab Riri sambil terengah-rengah menahan sesak di dadanya.
"Maksud Kamu apa Ri, Kamu jangan menuduh yang tidak-tidak pada Suami Kamu, nanti yang ada malah jatuhnya fitnah" jawab Doni.
"Sudahlah Mas, Kamu jangan mengelak lagi, Kamu ada hubungan spesialkan dengan mantan pacar Kamu itu"jawab Riri dengan lantang sehingga membuat Lastri, Mila dan Anton tidak percaya pada keberanian Riri, sebab selama ini Riri adalah pribadi yang penurut dan pendiam selama ada di Rumahnya.
"Tidak Pak Hakim,itu semua hanya bualan Dia sendiri, yang ada malah istri Saya pergi meninggalkan Rumah meninggalkan Saya sendirian tanpa pamit.".
"Loh, bukannya Kamu sendiri yang mengusir Aku Mas"jawab Riri tidak kalah nyolot pada Doni.
Seketika membuat Doni gelagapan dan hanya Diam saja.
__ADS_1
"Apa, sekarang Kamu tidak bisa menjawabkan, memang kenyataanya begitu, Aku tidak akan pergi jika tidak di usir," sambung Riri dengan penuh penekanan.
"Dan satu lagi, Aku tidak menerima penghianatan"
"Kamu jangan ngacoh, Dia bohong Pak Hakim, itu hanya fitnah Dia pada Saya,Riri Kamu sadar, ingat perceraian adalah hal yang paling di benci oleh Allah" jawab Doni dengan wajah memelas berharap para Hakim mau berpihak padanya.
Seketika para hakim berbisik-bisik menyaksikan perdebatan di antara keduanya.
Pak Jamal yang saat ini melihat situasi yang mulai tidak kondusif, akhirnya Dia bangkit dan menyerahkan map yang berisi bukti laporan dari perselingkuhan Doni kepada seseorang yang duduk di jajaran para hakim paling samping sendiri.
Seorang itu membuka map dari Pak Jamal dan langsung memberikannya kepada Pak Hakim.
Ketua Hakim langsung membuka map tersebut dan mulai melihat isinya satu persatu mengenai banyaknya bukti perselingkuhan dari Doni, sehingga membuat ketua Hakim mengerti akan kondisi saat ini.
Tentu saja di hatinya saat ini sangat was-was sekali.
"Saudari Riri Fitriani, Kami telah melihat bukti-bukti dari pengacara Anda,namun adanya penolakan dari saudara Doni,Kami menyarankan untuk melakukan mediasi terlebih dahulu,nanti waktunya akan di kabari secepatnya"ucap Pak Hakim seketika membuat hati Doni menjadi lega, dan berharap di hari-hari berikutnya Dia bisa meluluhkan hati Riri kembali.
Sesungguhnya Pak Anto dan Bu Ros sangat kecewa terhadap penuturan hakim tersebut, bagaimana bisa Dia menyarankan terlebih dahulu, sedangkan saat itu sudah terlihag jelas bukti yang sangat akurat.
Mereka juga sangat kecewa pada sikap Doni saat ini, saat Riri berada di Rumah orang tuanya, Doni tidak sekalipun pernah menjenguknya, malah yang ada Dia selingkuh bersama mantan pacarnya, sedangkan saat Dia telah mengajukan percerain, Doni malah melonjak seolah Dia adalah korban.
Riri dengan penuh kekecewaan akhirnya bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri kedua orang tuanya, begitu pula dengan Pak Jamal langsung mengikuti langkah kaki Riri.
Bu Ros yang faham akan situasi saat ini, Dia langsung memeluk Riri dengan sangat erat dan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Kamu sabar ya Ri, Kita ikutin saja apa kata Pak Hakim, dan Bapak berjanji akan memperjuangkan semua ini dengan semampu Bapak" ucap Pak Jaml tidak enak pada anak dari sahabatnya tersebut.
"Kamu ini apa-apaan sih Mal, seperti tidak pernah ikut sidang saja, Kamukan sudah khatam dalam hal ini, Kamu jangan seperti itulah"ucap Pak Anto sambil menepuk bahu sahabatnya yang saat ini sangat merasa bersalah.
"Sabar Ri,bahkan hampir semuanya harus mengikuti langkah mediasi, semoga saja kedepannya Doni tidak bisa hadir, agar semuanya berjalan dengan lancar"sambung Bu ros menenangkan anaknya.
"Bukan Riri kecewa pada proses hakim Bu, tapi Riri hanya sakit hati pada sikap Mas Doni, entah apa yang sebenarnya Dia inginkan" jawab Riri.
"Sudahlah nak, mungkin ini memang takdir Kamu, seharusnya Kamu bisa bersyukur sebab Kamu sebentar lagi akan bisa lepas dari Doni dan keluarganya" ucap Pak Jamal menasihati Riri,sebab Dia pernah merasakan sakit hatinya ketika sang anak pernah berada di posisi Riri.
...........
Sedangkan di lain tempat saat ini Lastri sangat marah pada sikap Doni tersebut, Dia merasa Doni baru saja telah mempermalukan dirinya.
"Kamu ini apa-apaan sih Don, disini malah Kamu yang menolak gugatan cerai dari Riri, membuat makin lama proses sidangnya"ucap Lastri dengan sangat geram,sebab Dia masih seperti awal, Dia sangat ingin menjodohkan Doni dengan anak teman sosialitanya yang dirasa sepadan dengan Doni, dan tentunya bisa memberikan Lastri cuan yang banyak.
"Bu, Doni masih cinta sama Riri"jawab Doni dengan senduh sambil menatap Ibunya.
"Cinta-cinta apa Don, Kamu saja berhianat kok"cibir Mila.
"Mil sudahlah,Kamu jangan terlalu ikut campur dengan masalah Rumah tangga Doni, biarlah Dia sendiri yang menentukan jalan hidupnya" ucap Anton,sebab Dia paling benci saat melihat Mila selalu ikut serta merecoki rumah tangga Doni.
"Apaan sih Kamu ini Mas, biarlah, Doni sendiri juga adikku kok"
"Sudah, ngapain juga kalian malah ribut disini, Ibu sangat pusing lihat sikap Doni, kalian malah semakin bikin pusing bisanya, mending sekarang kita pulang" ucap Lastri sambil berlalu meninggalkan mereka bertiga menuju parkiran motor.
__ADS_1