
" gak bu gak, mila gak mau, mila capek habis bonceng ibu perjalanan jauh dan sekarang dirumah sakit juga jalan kakinya lumayan jauh, ibu mala mau ngajak mila untuk kembali lagi kedepan, mending ibu saja yang kesana, mila tunggu sini, mila mau duduk capek" ucap mbak mila karena memang perjalanan dari rumah kerumah sakit memakan hampir empat puluh lima menit ,mangkanya tidak heran jika mbak mila mengeluh kecapean, apalagi ditambah cuaca diluar yang panasnya sangat terik sekali, sungguh keterlaluan mereka aku dibawah kerumah sakit malam hari mereka mala menyusulku saat siang hari,bahkan Mas doni suamiku juga baru pagi hari sampai dirunah sakit.
"Terus mau kamu berada disini terus sampai nanti malam,kalau gitu sekarang coba kamu telvon Doni adikmu" jawab ibu mertuaku.
"Masalahnya Mila gak bawah hp bu, mending ibu sendiri saja yang telvon Doni"
"Dasar bocah gemblung,sudah tau keadaan seperti ini juga masih bisanya kamu gak kepikiran bawah hp, kalau dirumah saja gak akan berhenti kamu mainin hp" gerutu ibu mertuaku karena dia kesal dengan perilaku anak perempuannya.
"Yasudah ibu saja yang telvon dari tadi ngomel mulu"
"Ibu juga gak bawah hp Mila,kalau ibu bawah hp gak mungkin ibu nyuruh kamu, ahhh dasar kamu gak berguna, ayo sekarang kamu ikut ibu lagi ketempat administrasi" ucap ibu mertuaku sambil menarik tangan mbak mila dengan sangat kesar dan cepat sehingga mau tidak mau Mbak Mila harus mengikuti langkah dari ibu mertua.
Baru saja mereka berdua melangkahkan kakinya, terlihat Doni sedang berjalan menuju kearah ruangan tempat dimana tadi Mila dan Fatma berada disana, mereka segera melangkahkan kakinya dengan lebih cepat lagi ingin segera menghampiri Doni.
"Eh Doni dimana ruangan Riri dirawat." Tanya fatma ketika mereka sudah bertemu dengan Doni.
"Eh Ibu kok bisa berada disini, Riri berada diruangan anggrek nomer dua"
"Ruangan yang kelas satu itu Don" tanya Mbak Mila dengan mulut sedikit menganga tak percaya.
"Iya mbak,ruangan yang kelas satu itu" fatma yang merasa kebakaran jenggot sebab Riri dirawat diruang kelas satu apalagi mereka sangat beranggapan jika otomatis Doni yang akan membayar semua tagihan rumah sakit, tanpa basa basi Fatma langsung menarik tangan Doni untuk diajak ketempat yang agak sepi untuk membicarakan sesuatu.
__ADS_1
"Enak saja jadi Riri, sudah gak menghasilkan uang sekarang lahiran pun milih enaknya tanpa mau berjuang, " umpat fatma didalam hati karena dia tidak ridho dunia akhirat jika anaknya disuruh membayar tagihan rumah sakit padahal sudah seharusnya menjadi tanggung jawab anaknya.
"Ibu, mau kemana Kita, pelan-pelan dong Bu, malu diliatin sama yang lainnya, gak enak Bu" ucap Doni sambil berusaha melepaskan cengkraman sang ibu ditangannya.
"Sudah ikut saja, ada yang mau ibu bicarakan" sedangkan Mila membuntuti langkah mereka karena dia sendiri juga tidak mau ditinggal sendirian dirumah sakit.
Saat dirasa sudah berada ditempat agak sepi,Fatma segera menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk memastikan jika saat ini tempat dimana mereka berada sepi tidak banyak orang yang berlalu lalang, Fatma segera melepas cengkeraman tangannya dan menatap Doni dengan tatapan yang teramat tajam membuat Doni bingung dengan kelakuan ibunya.
Entah apa yang berada dipikiran Fatma, padahal dia adalah seorang ibu juga, bisa-bisanya dia saat menantunya melahirkan bukannya ikut turut serta senang karena memiliki cucu eh mala dia pikir bahwa ini adalah musibah bagi dirinya.
"Bu, Ibu mau bicara apa sih, kok kayaknya serius banget"
"Gak hanya serius Don, ini malah lebih dari serius, kamu gak salah kalau Riri beneran dirawat ditempat kelas satu" ucap fatma sambil menatap Doni sangat tajam seolah ingin segera menerkam Doni.
"Kamu sudah gila Don,terus siapa yang bayar, apa kamu pikir biaya operasi itu murah apa ditambah lagi ruang rawat Riri yang kelas satu dan Riri gak punya jaminan kesehatan, terus gimana sekarang kondiri anakmu" ucap fatma dengan menggebu diiringi dengan pertanyaan yang beruntun membuat Doni mala menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebab dia bingung harus menjawab pertanyaan ibunya dari mana.
Sebenarnya Doni malu dan gengsi, mau ditaruh dimana muka Doni jika harus bilang kalau orang tua Riri yang menanggung biaya rumah sakit dengan cara jual ladang mereka, sedangkan kalau dia harus bilang kalau dia sendiri yang menanggung pasti ibunya sangat tidak terima.
"Kondisi anak Doni sekarang sedang dirawat bu, karena anak Doni keracunan air ketuban"
"Dasar ya Don istri kamu itu gak bisa diandalkan jadi seorang ibu ceroboh, kalau gini siapa juga yang akan bayar semua biaya rumah sakit belum juga biaya anaknya biaya ibunya sok-sokan pake kelas satu lagi"
__ADS_1
"Doni bu yang akan bayar semuanya, memang ini semua sudah menjadi kewajiban Doni, jadi Doni mohon ibu jangan protes"jawab Doni sengaja berbohong karena dia tidak mau dicap sebagai suami yang gak bertanggung jawab.
"Terus kamu dapat uang dari mana Don, atau jangan-jangan selama ini gajimu banyak dan kamu hanya kasih ibu sedikit" ucap fatma menebak-nebak.
"Iya kamu ini Don enak banget jadi istrimu, sudah gak bisa menghasilkan uang,mala pas lahiran dengan enaknya milih jalan instan pake kelas satu, mbak kamu saja dulu pas lahiran menahan sakitnya hampir tiga hari" ucap mbak mila karena dia iri melihat Riri bagaikan seorang ratu.
"Sudahlah mbak ibu, biarkan saja nanti Doni pinjam pada perusahaan,nanti juga saat Riri sudah pemulihan dia pasti kerja lagi dan pasti hutangnya pasti cepat terlunasi" ucap Doni meyakinkan ibu dan kakaknya seolah dia saat ini adalah pahlawan bagi Riri.
"Tapi Don, ibu gak,,,," belum selesai fatma berbicara namun Doni sudah mencegah untuk melanjutkan bicaranya.
"Sudahlah bu, Ibu jangan khawatir ,cukup doakan saja agar Riri dan anakku segera pulang kerumah"
"Yasudah tersera kamu, sekarang antar ibu ke ruang Riri berada"
"Sekarang ikutilah langkah kaki doni" ucap doni sambil terus berjalan melangkahkan kakinya kearah ruangan Riri, lorong demi lorong rumah sakit mereka lalui akhirnya sampai juga didepan ruangan rawat Riri .
"Ceklekk" Doni langsung membuka gagang pintu dan diedarkan matanya keseluruh ruangan,tidak terlihat kedua orang tua Riri pasti mereka sedang keluar entah kemana perginya dan terlihat Riri sedang tidur.
"Kemana perginya kedua tua bangka tersebut, anaknya sendiri kok ditinggal sendirian" ucap Doni dalam hati.
Doni langsung melangkahkan kakinya kearah brankar dan diikuti oleh kakak dan ibunya sedangkan Riri yang merasa jika ada orang masuk kedalam ruangannya dia segera membuka matanya untuk melihat siapa yang datang.
__ADS_1
"Mas Doni" ucap Riri dengan pelan saat suaminya datang apalagi melihat kedatangan ibu dan kakak iparnya yang membuat riri terkejut,belum sempat juga Riri bertanya namun Doni segera membisikkan sesuatu ketelinga Riri.
"Jika kamu ditanya sama ibu dan mbak mila bilang saja kalau aku yang membayar semua biaya rumah sakit ,begitu juga dengan kedua orang tuamu, kalau sampai bocor maka kamu yang akan aku cerai"bisikan doni mengandung ancaman bagi Riri.