Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
Kedatangan Doni


__ADS_3

Aku terkaget saat mendapatkan surat dari Pengadilan Agama.


Selama Riri pergi meninggalkankanKu, tidak pernah Aku memikirkan jika Riri akan bertindak sejauh ini, Aku hanya berfikir pasti Dia hanya marah untuk sesaat, namun Aku salah, ternyata Riri malah menggugat cerai pernikahan Kita, entah apa sebenarnya yang ada di pikirannya saat ini, apa Dia tidak kasihan melihat nantiny Salman tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ayah disisinya.


Aku langsung pergi ke arah Kamar Riri dan memeriksa semua barangnya menggeleda lemari dan laci, dan alangkah terkejutnya diriKu ternyata Riri membawa semua berkas penting yang ada di laci termasuk Buku Nikah.


Dengan amarah yang sangat memuncak sebab Aku tidak terimah bisa-bisanya seorang Doni Prastio, digugat cerai sang istri, hanya karena masalah sepeleh, apa salahnya Aku menuntut dirinya untuk selalu memasak enak setiap harinya, lagian ujung-ujungnya pasti Dia juga yang menikmati, eh mala Riri pergi meninggalkan suami, dasar Istri Durhaka.


Segala macam umpatan lolor juga dari mulut ini untuk mengatai Riri.


Aku langsung mengambil jaket yang tergantung di  belakang pintu dan segera menyambar helm yang berada di atas lemari, dengan  amarah yang naik sampai ubun-ubun segera Ku lajukan kendaraan motor ke Rumah mertuaku, dengan kecepatan yang sangat tinggi, bahkan bisa dibilang hampir ugal-ugalan saat berada di jalan raya.


Perjalanan yang harusnya memakan waktu empat puluh limah menit kini hanya memakan waktu dua puluh menit.


Dan alangkaj terkejutnya saat berada di depan Rumah mertuaKu, Aku harus di hadapkan dengan banyaknya orang yang membuat nyaliku seketika menciut, dan ingin rasanya putar balik saat itu juga namun gengsi ini terlalu tinggi, padahal aku hanya ingin menemui Riri dan berbicara empat mata dengannya.


..................


Sedangkan di lain tempat saat ini keluarga Riri sedang berkumpul di teras Rumahnya untuk sekedar ngeteh di sore hari bersama Salman cucu  kesayangan mereka.


Pak Anto  dan Bu Ros sangat menyayangi cucunya,bahkan saat ini Salman lebih sering bermain dengan kakek dan neneknya dari apda bersama ibunya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan job make up Kamu saat ini Ri, apa semuanya lancar" tanya Pak Anto kebetulan saat ini bisa santai bersama, sebab satu bulan belakangan ini Riri disibukkan dengan banyaknya Job make up sehingga membuat Pak Anto tidak bisa sering bertatap muka dengan anaknya.


"Alhamdulillah Pak, semuanya lancar, Riri seneng deh Pak karena Riri ada kesibukan lagi dan menghasilakan uang lagi seperti dulu" jawab Riri dengan senyum sumringah.


Sedangkan Pak Anto menatap anaknya dengan pandangan yang sulit diartikan sebab di sisi lain Dia tidak tega melihat nasib anaknya yang gagal dalam berumah tangga.


"Alhamdulillah nak, Ibu ikut senang mendengarnya" ucap Bu Ros menimpali percakapan antara suami dan anaknya.


"Terus rencana Kamu kedepannya bagaimana nak" 


"Aku ingin galeri lama ini di renov Pak, jadi jika ada orang yang mau make up bisa langsung memilih baju, serta Riri akan update semua baju pengantin dan aksesoris , serta kalau Bapak ngizinan Riri ingin memperluas galerinya untuk dijadikan studio foto, sebab jika ada galeri memudahkan Riri untuk ajang promosi seperti dulu" ucap Riri dengan antusias menatap Bapaknya agar diizinkan.


Sebab sebelumnya memang Riri mempunya galeri di samping Rumahnya untuk menyimpan peralatan make up serta pernak-pernik wedding lainnya, namun karena telah lama ditinggalkan oleh Riri jadinya tidak terurus.


"Makasih Bapak" jawab Riri dengan sumringah sambil memeluk Bapaknya, dan tak lupa Riri juga memeluk Ibunya.


Saat sesi saling peluk telah usai akhirnya Bu Ros dan Pak Anto mulai berbicara serius, sebab sebagai orang tua Mereka juga takut jika nantinya mental anaknya tidak kuat saat menghadapi perceraian dan nantinya akan berakibat pada kejadian yanv tidak diinginkan.


"Nak apa Kamu bahagia dengan hidupmu saat ini" tanya Bu Ros sambil memandang lekat wajah anaknya,sedangkan Riri yang ditanya mala menjadi salting, bohong jika Dia berkata bahagia dengan keadaan hidupnya saat ini, namun jika Dia berkata sedih Dia takut kedua orang tuanya menjadi kepikiran akan keadaanya.


Padahal setiap malam Dia selalu menangisi nasibnya yang gagal dengan pernikahan.

__ADS_1


"Sudahlah Pak, jangan terlalu di pikirkan, Riri baik-baik saja, dan Riri janji pasti akan baik-baik saja sampai kedepannya"


"Terus kapan kata Pak Jamal  jadwal sidang  pertama Kamu" tanya Bu Ros.


"Ini tadi baru saja mendapat surat panggilan dan tertulis minggu depan sidang pertama" 


"Ibu ikut ya Ri saat sidang pertama, Ibu sudah gak sabar untuk bertemu dengan Doni, greget Ibu lihatnya, bisa-bisanya Dia gak ada niatan buat jenguk anaknya sama sekali" ujar Bu Ros dengan menggebu, walaupun selama ini anaknya jarang membahas perihal menantunya namun Dia sebagai Ibu sangat greget melihat sikap memantunya.


"Oh iya Ibu lupa, Diakan sekarang sudah punya gundik, dan satu lagi untuk Kamu ini, saat nanti jika berhadapan dengan Doni dan keluarganya Kamu harus bersikap tegas jangan lemah, " sambung Bu Ros dengan menggebu sedangkan Pak Anto tidak bisa di pungkiri walaupun sebenarnya Dia juga sangat sakit hati namun sebagai lelaki Dia tidak bisa bersikap sebar-bar macam istrinya.


"Sudahlah Bu, jangan terlalu menekan anakmu" ucap Pak Anto.


"Ehh asal Bapak tau ya, Ibu ini gak menekan Riri, Ibu hanya ingin bersikao tegas tidak lembek, orang macam Bu Lastri dan Doni itu harus diimbangi bukan mala Kita yang harus terus-terusan mengalah,kurang sabar apa coba Ibu saat Riri sedang melahirkan, kalau pun Ibu gak ingat kalau saat iti di Rumah Sakit pasti sudah habis itu Doni" jawab Bu Ros dengan menggebu.


Namun saat perdebatan sedang panas-panasnya datanglah seorang Tamu yang tidak diundang, walaupun kedatangannya telah lama di nantikan di keluarga ini, namun saat ini mala menjadi keadaan semakin memanas.


"Ngapain juga itu Si Bulus baru menampakkan batang hidungnya, kemana saja coba Dia selama ini, setelah dalat surat sidang baru itu ketar-ketir" ucap Bu Ros saat melihat Doni memarkirkan motornya di halaman Rumahnya.


"Ehhh Ibu, hussshhh ngomongnya itu di jaga, nanti kalau sampao Doni dengar bagaimana Bu" bisik Pak Anto sebab Dia tidak ingin memancing keributan dan ingin mendengar penjelasan dari Doni langsung.


"Biarin, kalau Dia dengar ya Alhamdulillah, biar Dia sadar, laki-laki kok gak ada tanggung jawabnya" jawab Bu Ros masih dengan kekuah tak mau kalah.

__ADS_1


"Bu, sudahlah, kita dengarkan dulu apa yang akan Dia jelaskan" 


"Lama banget Dia parkir itu motor, kalau takut ya jangan berulah" Bu Roa terus saja ngedumel bahkan setiap gerak gerik Doni tak luput dari pandangannya.


__ADS_2