
" memang kamu punya uang untuk biaya rumah sakit" tanya bapakku entah kapan doa berada diruangan ini,sampai saat dia masuk pun aku tidak menyadarinya.
Sedangkan Mas Doni terlihat raut wajahnya menjadi mengkerut karena sebenarnya aku tau dia sendiri tidak punya tabungan, karena gaji dia yang pas-pasan.
"Bapak menghina Doni, apa bapak pikir Doni gak mampu buat biayain tagihan rumah sakit" ucap suamiku dengan diiringi dengan senyuman sinis dan mengejek.
"Bapak gak menghina kamu Doni, lagian kamu kenapa mala ngungkit soal tagihan rumah sakit, memang seharusnya sudah menjadi kewajibanmu sebagai seorang suami" ucap bapak mertuaku kepada Mas Doni.
"Iya pak, Doni mau membayar biaya melahirkan Riri asal melahirkan wajar seperti perempuan lainnya, mau berjuang melahirkan normal,bukan mala milih enaknya saja dan ini mala milih ruangan kelas satu"
"Apa kamu pikir Riri juga mau melahirkan seperti ini" ucap ibuku dengan sangat lantang tidak peduli jika saat ini mereka berada dirumah sakit.
"Ingat Doni, apa kamu lupa penyebab Riri ini karena keluargamu, dia sampai kehabisan ketuban, dan harus operasi secar demi menyelamatkan nyawa istri dan anakmu mala kamu seolah menyalahkan riri penyebab dari semuanya, dasar suami gak punya otak kamu"sambung ibuku karena ibu sangat tidak terimah sebab sedari tadi ibu mendengar percakapan antara aku dan suamiku yang terus saja memojokkanku.
" sudahlah Doni jika kamu memang gak mau membayar biaya Riri melahirkan biarkan saja bapak yang akan membayar, walaupun itu tanggung jawabmu tapi kalau kamu gak ikhlas mending gak usah dibayar, bapak tidak mau mala nanti menjadi beban untukmu"ucap bapakku karena dari dulu bapak paling benci dengan yang namanya pertengkaran.
__ADS_1
"Memangnya bapak punya uang untuk membayar tagihan rumah sakit, penghasilan bapak saja mengandalkan ladang yang gak seberapa besarnya mala sok-sokan mau bayarin biaya rumah sakit" ejek suamiku terhadap kedua orang tuaku, karena memang mas doni taunya kedua orang tuaku hanya seorang petani miskin bahkan ibuku jarang sekali memakai perhiasan, berbeda dengan ibu mertuaku yanh setiap hari selalu memakai banyak perhiasan dibadannya sehingga mereka menganggap bahwa keluargaku orang kekurangan.
"Itu perkara gampang bagi bapak Don, apasih yang gak untuk anak bapak, biarlah bapak menjual ladang bapak untuk biaya rumah sakit Riri" ucap bapakku yang masih saja menutupi, karena dihati bapak juga masih ingin tau seberapa besar dari sombongnya suamiku.
"Apa bapak yakin ingin menjual ladang bapak, terus nanti otomatis Riri gak dapat warisan dari bapak kalau sudah dijual."
"Biarlah mas,harta bisa kita cari lagi biarlah semua menjadi urusan bapak dan ibuku" ucapku karena aku yang saat itu terlalu bucin pada mas doni, aku tidak ingin perdebatan antara suami dan orang tuaku terus berlanjut, karena mereka sama-sama orang yanv aku sayangi.
"Iya sudah kalau itu mau bapak dan ibu, Doni nurut saja, sekarang Doni mau pamit kekantin untuk membeli kopi" pamit suamiku kepada kedua orang tuaku lalu dia langsung pergi meninggalkan ruanganku tanpa terlebih dahulu mendengar jawaban dari kedua orang tuaku.
Sepeninggal Mas Doni suasana didalam ruangan menjadi hening karena kamis semua sibuk dengan pemikiran kita masing-masing, aku merutupi sikap suamiku, apa mungkin aku saat ini sudah dalam keadaan meninggal dunia jika tidak segera mengabari ibuku, andai saat itu Mas Doni mampu mengerti akan keadaan istrinya, pasti aku tidak akan melahirkan secar dan pasti anakku sekarang keadaannya baik-baik saja.
Sedangkan ibuku terlihat dia sangat bete dan dari tadi wajahnya ditekuk mungkin karena dia yang paling merasa sakit melihat anaknya diperlakukan seperti itu, bisa-bisanya keluarga suamiku menganggap nyawa adalah harga yang murah sehingga mereka menyepelekan.
.............
__ADS_1
sedangkan diluar ruanganku ada mbak mila dan ibu mertua yang celingukan berada diluar ruangan karena dia merasa heran sebab aku dirawat diruangan kelas satu.
"Apa mungkin bu, Riri berada diruangan ini, kok mila gak percaya ya bu, apa mungkin perawat tadi salah ngecek mungkin bu" ucap mbak mila kepada ibu mertuaku karena dia merasa mustahil jika aku dirawat diruangan ini.
"Memang kamu tadi tanya apa sama perawatnya "tanya ibu mertuaku pada mbak mila sebab tadi saat mbak mila kebagian administrasi dia tidak ikut karena kecapean dari habis naik motor, mangkanya ibu mertua lebih memili untuk duduk di tempat tunggu.
" ya tanya ibu atas nama Riri Fitriani pasien melahirkan" jawab mbak mila.
"Eh mila kamu itu goblok kok dipelihara sih, tanya itu yang jelas,bilang pasien atas nama Riri Fitriani pasien melahirkan secar dirawat diruang berapa, gitu dong, kamu mala cuma nanya pasien yang melahirkan saja, siapa tau disini yang namanya Riri Fitriani gak cuma satu, bisa saja itu Riri yang lainnya, lagian ibu gak percaya jika dia dirawat diruang kelas satu seperti ini,mau bayar pake apa dia, kerja juga gak, ngandelin orang tua juga gak mungkin karena miskin,kalau memang benar Riri berada diruang ini, ibu tidak segan untuk membuangnya enak saja, pasti dia akan menyuruh Doni adikmu untuk membayar semua biaya rumah sakit"
" lagian sih ibu ini juga salah ibu, kenapa harus nyuruh mila sendirian yang tanya, kenapa juga ibu gak ikut saja sekalian ,tau gini mila gak mau tanya tadi, terus saja disalahkan, "
"Ya memang kamu goblok mil"
"Sudahlah bu,malu diliat yang lain, apa ibu lupa kalau disini rumah sakit"
__ADS_1
"Ya gak lah, malah ibu sadar betul kalau sekarang kita berada dirumah sakit, ini semua karena kamu mil, tanya saja gak becus, coba kita kembali lagi ketempat bagian administrasi" ajak ibuku untuk pergi dari depan ruanganku untuk tanya lagi kebagian administrasi.
" gak bu gak, mila gak mau, mila capek habis bonceng ibu perjalanan jauh dan sekarang dirumah sakit juga jalan kakinya lumayan jauh, ibu mala mau ngajak mila untuk kembali lagi kedepan, mending ibu saja yang kesana, mila tunggu sini, mila mau duduk capek" ucap mbak mila karena memang perjalanan dari rumah kerumah sakit memakan hampir empat puluh lima menit ,mangkanya tidak heran jika mbak mila mengeluh kecapean, apalagi ditambah cuaca diluar yang panasnya sangat terik sekali, sungguh keterlaluan mereka aku dibawah kerumah sakit malam hari mereka mala menyusulku saat siang hari,bahkan Mas doni suamiku juga baru pagi hari sampai dirunah sakit.