Diantara Bintang

Diantara Bintang
Bab 1 : Awal dari sebuah kisah.


__ADS_3

***Dan awal dari sebuah kisah adalah “Ketertarikan”


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡***


Kamis pagi tepat pukul 07.12 seorang gadis berambut panjang dengan diikat dua disamping tak lupa menyisakan beberapa rambut untuk digerai tengah bolak-balik mencari jalan masuk ke kelas melalui belakang sekolah.



[Bukan pemeran, cuman


model rambutnya kek gitulah]


Mendapat kelas yang dicari iapun berusaha berjinjit untuk menggapai jendela. Nasib orang pendek yang hanya memiliki tinggi 153 cm iapun mencari sesuatu untuk menjadi panjatan.


Berkeliling sekitar 5 menit tidak membuahkan apapun, malahan ia bertemu dengan seorang tak dikenal dengan memakai kemeja putih yang ditutupi oleh jaket jeans warna abu-abu sambil merokok bebas disana. Sebuah ide minta bantuan muncul, iapun mendekati pemuda tak dikenal itu.


“Dilan,” Teriak gadis itu sok kenal sambil menepuk pundak pemuda itu yang langsung mengintimidasinya. Sebuah senyum meremehan merekah dari bibirnya.


Tidak menarik, batin pemuda itu dan berpaling menyesap putung rokok itu kembali.


“Hey Dilan ikut gue.” Tarik gadis itu.


“Dilan, Dilan, nama gue bukan Dilan. Sok tau lo. Pergi sana.” Dan menepis tangan gadis itu.


“Bagi gue lo Dilan soalnya pake jaket jeans abu-abu,” Jelas gadis itu polos


“Kalau gue pake peci sama sarungan gue jadi apa?”


“Ustad paling,” Jawabnya setelah berpikir beberapa menit. “Dah ah ikut gue.” Kata gadis itu menarik pemuda itu di tempat belakang sekolah.

__ADS_1


“Lo ngajak kesini ngapain? Oh gue paham. Lo mancing gue ya? Jangan salahin gue lho ya kalau gak bisa nahan.” Sambil mendekati gadis itu perlahan-lahan.


“Apaan ih. Jongkok!” perintahnya


“Hah? Udah gak usah malu.” Dengan senyum berbahanya.


“Gue suruh jongkok ya jongkok.” Paksa gadis itu dengan sedikit tenaga hingga membuat pemuda itu bertekuk lutut. Berada dibelakang pemuda itu tak disia-siakan oleh gadis itu untuk memanjat.


“Hey guys,” Sapa gadis itu kepada teman sekelasnya dengan tiba-tiba muncul di atas jendela yang cukup tinggi. Melihat penampakan itu seketika membuat kelas teriak-teriak heboh. Hingga tepat dikala itu seorang guru masuk dan memergoki gadis itu telat masuk sekolah dan mencoba masuk lewat belakang sekolah.


“IZYLA OCCIANO AZALEAAAAA!!!” teriak Bu Shita dengan menggelegar membuat seisi kelas menutup telinga tak terkecuali gadis yang dipanggil Izyla juga. Bersamaan itu, pemuda yang menjadi tumpuan Izyla pun ikut terkejut dan melompat secara reflek yang membuat Izyla terdorong jatuh ke dalam kelas dengan tersungkur dilantai.


“Lo gak papa?” Tanya seorang teman sekelas Izyla, yang tak lain tak bukan adalah Aldiano Dhafin Pratama yang merupakan sahabat kecil Izyla. Mereka berteman bisa dibilang sejak lahir. Karena keluarga Dhafin ataupun Izyla sudah saling mengenal bahkan sebelum mereka lahir. Jadi sudah dianggap seperti saudara sendiri. Dan jelas, Dhafin sebagai abangnya walaupun hanya berselisih 18 hari.


“Papalah. Sakit tau,” Jelas Izyla dengan manja sambil memegang lengannya. Sadar akan sesuatu iapun memanjat meja dekat jendela.


“CILUKBAAA,” Teriak pemuda yang dipanggil Dilan dengan tiba-tiba muncul dari bawah ke atas. Secara refleks Izyla mendorong pemuda itu karena terkejut.


“Sakit oi.”


“Maaf bang. Oh iya, btw makasih ya. Namaku Izyla Occiano Azalea, kalau ada bantuan kasih tau aja. Aku masih utang budi,” Teriaknya yang mendapat lambaian tangan dan meninggalkan tempat itu.


***


Dengan melompat pagar depan sekolah ia melepas jaket yang tadi ia kenakan. Untungnya dikala itu tidak ada penjagaan jadi dengan bebas dia bisa masuk menuju kantin. 7 menit sebelum bel istirahat berbunyi, sekumpulan 3 orang most wanted memasuki kantin.


“Udah makan aja lo ndro,” Kata Kastela Putra Ardiano sambil memukul punggung pemuda yang tengah makan mie goreng dipojok ruangan. Dia adalah laki-laki teramah dari keempat temannya.


“Kastil duduk!” perintah Anant Askara Herlando  tak lupa headset yang selalu terpasang di kedua telinganya. Pangeran Es, begitulah ia dikenal karena saking dinginnya. Bahkan tiada satupun orang pernah melihat dia tersenyum atau bahkan tertawa. Kecuali gengnya.

__ADS_1


“Eh neng Ela, disuruh duduk sama bang semut nurut dong.” Ela yang dimaksud adalah Kastela dan semut yang dimaksud adalah Anant. Dia adalah seorang playboy, dan seluruh sekolah tahu akan fakta itu. Anehnya masih aja banyak yang suka dan rela dijadikan mainananya. Rizwan Haidar Bagaskara.


“Diem ah lo pada. Gue lagi konsen makan.” Kali ini adalah ketua geng yang baru masuk sekolah pukul 09.52 dengan cara melompati pagar depan. Dan itu juga bukan menjadi rahasia umum lagi bagi SMA BRIZY. Sebuah sekolah elit yang hanya orang golongan atas dan murid berprestasilah yang dapat masuk disana. Sekitar 10 lebih gedung yang dibangun dan beberapa lapangan basket, voli, tenis, lari dan sepak bola. Tentu dari semua itu memakan banyak tanah. 



Masih makan dengan lahap hingga tanpa menyisakan sepersenpun ia mengembalikan piring ke tempat cucian. Dengan tangan dimasukan kedalam saku, rambut sedikit berantakan karena habis lari dan lengan yang ditekuk seperempat menampakkan kesan perfect tersendiri bagi para fans-fansnya yang sudah ada di depan pintu kantin. Mereka berteriak-teriak histeris seperti melihat bias yang sedang berjalan menuju bangku 3 temannya itu. Dia adalah Kenta Brigit Govannon, dengan senyum buayanya ia menyambut gadis-gadis cantik disana. Bisa dibilang 99,99999% penghuni sekolah itu adalah gadis-gadis cantik. Sekolah swasta milik keluarga Anant ini tidak hanya untuk SMA saja melainkan dari TK-Kuliah.


***


Disisi lain, Izyla dan Dhafin membuka bekal rumahnya untuk dimakan bersama di dalam kelas. Sudah 4 hari sejak mereka pindah karena prestasinya. Dan selama 4 hari itu mereka belum pernah pergi ke kantin. Mereka lebih suka membawa bekal makanan sendiri dan memakannya dikelas berdua.


“Izy, ikut jajan yuk?” Tawar Niana.


“Enggak, ini aku udah bawa bekal kok. Kapan-kapan aja ya,” Tolak halus Izyla dengan tersenyum.


“Pergi aja gak papa Azaleakkkk,” Canda Dhafin disela makan mereka.


“Gak. Gue nemeni lo lumpur Dhafindoooo.”


“Ah bisa aja lo neng.” sambil mencolek dagu Izyla.


***


“Tolong cari data tentang Izyla Occiano Azalea.”


“Baik tuan muda.”


“Sepertinya ini akan menarik,” Gumam seorang pemuda dibalik sebuah kursi tinggi yang biasanya dipakai seorang direktur perusahaan tak lupa senyum sinis yang menghiasi wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2