
"Ini jasnya, tuan muda," Kata seorang pelayan memberikan hasil setrika tangannya. Tanpa sekatapun ia langsung mengenakan ditubuh altetis miliknya.
Mengambil sebuah kotak cincin yang berada dilaci meja kerja. Dan bersiap turun kebawah menuju papanya.
"Gimana sudah siap?" Tanya Leo
"Sudah pa," Jawab Anant mantap.
Permainan akan segera dimulai nona Izyla, batin Anant penuh kemenangan.
***
Di sisi lain di tempat gedung dimana acara pesta ulang tahun Izyla dan Dhafin dirayakan tengah sibuk menata gedung. Balon yang terpasang di sudut-sudut ruangan. Vas bunga besar yang berjejer disana. Dan kali ini di ruang make up Dhafin dan Izyla tengah berganti pakaian.
Dhafin yang hanya memakai kemeja motif garis-garis yang dimasukkan kedalam celana hitamnya. Ia memilih menunggu adiknya di sebuah sofa yang tersedia disana. Sekitar 30 menit akhrinya muncullah seorang gadis remaja yang begitu cantik sedang menggunakan dress selutut berwarna hitam yang tampak elegant dikenakannya.
Keluar dari ruang ganti ia menuju ke arah cermin besar. Merombak gaya rambutnya dengan mengepang 2 kanan kiri kemudian disatukan dan beberapa rambut ia gerai dibelakang. Dhafin yang sedari tadi mengamati adiknya pun mendekat.
"Cantik," Kata Dhafin dibelakang Izyla
"Makasih," Jawab Izyla malu-malu.
"Pedenya. Maksud gue jepitan rambut yang gue kasih." Yang dikala itu Dhafin memasangkan jepitan rambut di bagian tengah kepangan.
Kesal akan balasan Dhafin Izylapun memilih keluar dari ruang itu.
Disisi lain, sebuah mobil sport warna merah baru saja terparkir di belakang gedung dan seseorang turun dari sana. Dengan memakai setelan kemeja warna abu-abu ia melangkah dengan ciri khasnya, cool. Yang seketika dapat membuat para tamu undangan yang lain tertarik padanya. Ada yang bisik-bisik, malu-malu kucing dan ada juga yang berani menanyakan nomer telepon tapi hanya diacuhkan oleh pemuda itu.
Tengah fokus memakan coklat bersama para tamu. Perilaku bisik-bisik yang dilakukan banyak orang membuat Izyla penasaran. Iapun bertanya dan mendapat tunjukan kearah seorang pemuda yang tengah berjalan menuju meja hadiah. Dia meletakkan sebuah kotak kecil abu-abu disana.
"Kak Anant?" Gumam Izyla terkejut. Tanpa sadar iapun mencoba mendekati pemuda diseberang. Dengan memakai higheels membuat gadis itu kesusahan berjalan dan menyebabkan oleng. Syukurnya ia terjatuh dalam pelukan Dhafin. Bila tidak, ia akan merasa sangat malu.
__ADS_1
"Lepas! Pergi sono."
"Masih aja marah." Canda Dhafin sambil mencolek dagu Izyla.
"Gue mau sama kak Anant. Bye." Mengikuti arah kemana gadis itu pergi seketika ditariklah Izyla mendekat.
"Apaan sih Fin?!"
"Ikut gue!"
"Ogah!" Tanpa babibubebo, Dhafin pun menggendong Izyla layaknya tuan putri-bridal style-dan menurunkannya di depan 2 orang tua mereka.
"Ada apa nak?" tanya Liana.
"Bang Dhafin nakal ma. Sekarang dia jadi pemaksa. Egonya harus diturutin." cerocos Izyla
"Kamu kok gitu sih? Gak baik," Kata Rina mencoba menasihati putranya itu.
"Kayaknya aku tau kekhawatiran Dhafin. Coba katakan pada ayah," Kata Deon mengetahui sesuatu dibalik sifat anaknya.
"Sebelum itu, Ma, Bun tolong bawa Izyla pergi dulu." Mohon Dhafin.
Izyla pergi, Dhafin pun mulai mengajak kedua orang tuannya di tengah aula.
"Lihat dia yah, pa!" Menunjuk Anant.
"Astagfirullah, itu kan-" kejut Ryan dan berniat mendekati pemuda itu namun segera ditahan oleh Deon
"Iya pa, sepertinya lawan papa membawa pemuda itu kesini."
"Bukannya kalian satu sekolah? Terus sudah kenal dong?" Tanya Deon penasaran
"Tapi selama ini yang dia tahu nama Izyla adalah Diana. Masih aku rahasiakan yah."
"Bagus nak," Puji Deon sambil menepuk pundak anaknya
"Tapi Dhafin juga masih waspada kalau seumpama dibalik itu dia juga udah tahu identitas Izyla."
__ADS_1
"Sepertinya mereka akan memulainya. Kita harus buat rencana..."
***
Tepat 3 hari setelah pesta itu, Izyla selalu mengurung diri di kamar, menghindari Dhafin bahkan membaca pesannya saja tidak hingga mencapai 99+ pesan selama 3 hari ini.
"Nak, abangmu datang lho," Kata Liana dibalik pintu kamarnya
"Sedang tidur."
"Sayangnya gue udah masuk." Canda Dhafin yang membuat Izyla bersembunyi dibalik selimut bulunya. "Maafin abang dek. Katanya kalau 3 hari gak mau maafin nanti sama aja musyrik lho. Emang mau?" Tanya Dhafin duduk di lantai samping kasur Izyla.
"Ya enggak lah."
"Makannya maafin ya." Tak ada balasan dari dalam selimut Dhafin pun mengambil sebuah brosur diatas meja milik Izyla. "Sebagai gantinya gue bantu ini. Mau gak?" Penasaran Izylapun membuka selimutnya hingga tepat dibawah matanya. Seolah mengintip dari balik selimut.
"Beneran? Dah pokoknya gue anggap udah janji!" Kata Izyla antusias yang langsung mendapat anggukan dari Dhafin. "Kalau gitu gue ambilin cemilan dulu ya buat kita ngerjain ini. Disini dan sekarang!" Mencoba untuk turun kelantai bawah
"Siap bos," Teriak Dhafin
Melihat anak gadisnya turun, Ryan dan Liana pun mendekatinya. Mencoba menasihati Izyla untuk tidak menghindari Dhafin yang setiap hari berusaha meminta maaf.
"Udah baikan kok," Jelas Izyla sambil membuka kulkas.
"Lha terus ngapain ngehindar lagi?" Tanya Ryan.
"Siapa yang ngehindar?"
"Ini kamu turun dan pergi dari kamar?" Tanya Liana yang juga ikut bingung.
"Nih ambil cemilan ma, pa," jelas Izyla dan berniat untuk menuju kamarnya.
Liburan yang berlangsung 2 minggu mereka gunakan untuk membuat karya tulis ilmiah bertema matematika. Menggunakan metode studi pustaka dan lapangan membuat mereka menghabisakan harinya diluar rumah. Dan kali ini juga mereka jarang bertemu most wanted yang membuat Dhafin merasa aman.
"Terkirim!" Jerit Izyla ketika Dhafin menekan tombol enter untuk mengirim data karya tulis ilmiah melalui email. "Semoga menang ya Allah." Doa Izyla.
"Amin.." lanjut Dhafin.
__ADS_1
"Bisa menang kita berlibur ke Eropa bang sebagai hadiahnya yeeuyyy." khayal Izyla.