
Hidup itu sekali, nikmati aja!
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hari libur tiba, seperti biasa Izyla dan Dhafin janjian bertemu di café tengah kota yang menjual kopi dan minuman coklat. Café itu memiliki dua lantai dengan bangunan unik yang membuatnya terkesan keren.
Dengan memakai kaos hitam ditutupi jaket hitam tak lupa earphone yang ia kenakan tengah sibuk menulis sesuatu disana. Dia adalah Dhafin, seorang pemuda yang datang terlebih dahulu sebelum Izyla.
[Bukan pemeren, cuman gayanya kek gitulah]
Beberapa menit kemudian seorang gadis remaja tiba disana. Yang tak lain adalah Izyla Occiano Azalea. Dengan rambut Panjang kepang warna coklat belakang bukan menjadikan Izyla culun, melainkan terkesan sederhana, natural tapi dapat menarik perhatian bagi orang-orang yang melewati untuk melihat aura terpancarnya. Mengamati sekeliling hingga mendapati Dhafin yang tengah sibuk dengan kegiatannya. Segeralah dia menempatkan diri disana.
“Lama,” Gerutu Dhafin tanpa melihat Izyla karena terlalu fokus dengan apa yang ia tulis.
“Biasalah. Cewek.” cengirnya
Trililinggg
Sebuah gantungan pintu berbunyi menandakan ada seseorang yang datang. Karena penasaran Izyla melihat pintu itu.
“Safira,” teriak Izyla heboh seperti biasa.
“Izyla.” Tak berbeda, Safirapun mendekat.
“Sama siapa?” tanya Izyla basa-basi.
“Rino.”
“Jezz… ganti lagi,” Gumam Dhafin sambil tersenyum sinis tanpa melihat para gadis itu.
“Gak kek lo aja bro.” sambil mencubit pinggang Dhafin.
“Huahhahah… sorry-sorry.” Kata Dhafin menahan sakit.
__ADS_1
“Masih mendingan guelah. Gak playboy kek lo.”
“Lha terus apa?”
“Setidaknya mutusin dulu sebelum jadian ma orang lain. Kalau elo kan ditembak semua dalam waktu yang sama udah gitu status lo masih pacar orang lagi,” Sindir Safira kepada Dhafin.
Mendengar dua temannya berdebat tentang pengalaman hidup yang belum pernah ia alami, akhirnya ia putuskan untuk memesan sebuah coklat di kasir. Dhafin dan Safira itu bagaikan playboy dan playgirl. Walaupun sifat mereka seperti itu, mereka tetap setia kawan dan lebih mementingkan Izyla. Selalu ada untuk Izyla dan melarang Izyla berpacaran atau merasakan pahitnya cinta.
Melihat mereka burdua yang berjarak beberapa meter membuat senyum Izyla terukir. Senang aja melihat sahabat cewek dan cowoknya bermain bersama. Yang kadang-kadang sering dimarahi Dhafin karena dekat dengan seorang playgirl yang takutnya Izyla akan terpengaruh dan ikut-ikutan. Tapi ternyata pemikiran itu salah dan Safira selalu menjaga Izyla.
“Kak… kak,” Panggil seorang kasir kepada Izyla yang tengah fokus melihat sahabatnya itu.
“Eh iya mas?” tanya Izyla linglung.
“Tambah apalagi kak?”
“Udah mas. Berapa?” sambil mencoba merogoh tas untuk mengambil dompetnya, namun nihil disana.
“38 ribu rupiah kak.” Sambil memberikan struk harga.
“Aduh lupa gak bawa dompet,” Gumam Izyla pelan sambil menepuk jidatnya.
“Udah ini mas, sekalian kopi saya ya,” Kata seorang pemuda dibelakang Izyla yang juga ikut mengantri.
“Eh gak usah. Ada temenku kok,” kata Izyla tidak enak kepada pemuda itu yang berniat membayari coklatnya.
“Santai aja.” Dan berlalu pergi.
Menerima coklat dari kasir dengan gratis membuatnya merasa hari ini adalah hari yang beruntung. Disisi lain, di tempat pemuda yang baru saja membayari Izyla tengah berhenti sejenak dalam perjalanannya menuju mobil.
“Kayak pernah liat senyum itu. Kapan ya?” gumamnya memikirkan sesuatu.
***
Sekitar 30 menit sejak kepergian Safira dan pacarnya, akhirnya Dhafin dan Izyla pun pergi dari café itu. Berniat pergi jalan-jalan ke taman dengan menaiki bus berdua yang kala itu sedang sepi jadi mereka bisa duduk bersama.
Disisi lain, di dalam rumah Anant Askara Herlando yang begitu mewah dari teman-teman yang lain. Bahkan kamar tidurnya saja bisa untuk melihat laut yang begitu indah.
Bila tidak begitu kaya tidak bakal bisa seperti itu. Dengan hamparan rumput yang segar dan ditengah-tengah halaman ada sebuah kolam renang yang cukup besar. Dan beberapa sofa untuk duduk santai disana.
__ADS_1
Kenta, Kastela dan Rizwan tiba disana dengan mobil 2 Sport handalannya. Mobil itu milik Kenta berwarna biru yang sangat keren bahkan setiap gadis-gadis ingin menaikinnya. Tapi dilarang Kenta karena baginya hanya orang-orang tertentu saja. Dan itu adalah 3 sahabat Kenta.
Dititipkannya kunci mobil kepada penjaga rumah Anant untuk diparkirkan, merekapun masuk sambil bercanda ria. Menuju ruang paling ujung dari rumah itu yang berisi alat band untuk latihan mereka. Dan tentu saja kedap suara agar tidak mengganggu yang lain.
Mereka sudah bermain disana dengan begitu mahir. Kastela sebagai drummer, Kenta sebagai gitaris yang memakai gitar bass, Rizwan menjadi penyanyi yang kadang dengan cara inilah dia merayu para gadis-gadis di café ketika mereka bermain disana. Tak lupa, Anant juga ikut sebagai gitaris tetapi dia lebih suka memakai gitar listrik yang suaranya begitu melengking.
“Tuan muda, tuan Kenta dan yang lain sudah tiba,” Kata kepala pelayan rumah itu. Mendengar informasi itu, seketika Anant berdiri dan berniat untuk keluar dari tempat kerjanya.
“Oh iya.” jalannyapun terhenti ketika akan memberi sebuah tugas. “Tolong cari barang yang biasanya disukai para gadis remaja.” Lanjutnya dan pergi meninggalkan kepala pelayan itu.
Tunggu aja nona Izyla Occiano Azalea, lo akan bertekuk lutut dihadapan gue sambil mengemis-emis, batin Anant di tengah perjalanannya.
Pintu ruangan band terbuka, menampakkan Anant yang tengah berdiri dengan memakai celana panjang abu-abu dan kemeja hitam yang dimasukkan di celananya. Begitu rapi tak lupa sebuah dasi yang begelantungan di lehernya dan sepatu yang serasi dengan dasinya. Berwarna dongker. Mendekati gitar kesayangannya sambil menekuk lengan menjadi seperempat bersiap-siap untuk memetik. Tiba-tiba Kenta malah memberhentikan mainan ini.
“Capek, jalan-jalan diluar yuk.” Usul Kenta kepada teman-temannya.
“Ngikut deh,” Kata Kastela seperti biasa. Sedangkan Anant tengah sibuk memetik senar gitarnya.
“Gak mau ah, lagi panas. Nanti kalau kulit gue item gimana? Mau tanggung jawab lo?” kata Rizwan dengan nada jijiknya.
“Kita ke taman, rindang, sejuk dan yang jelas banyak cewek-cewek disana. Sekalian cari target,” Jelas Kenta.
“Kalau gitu gasss deh,” Balas Rizwan dengan penuh semangat.
“Ayo bro ikut,” Ajak Kenta sambil bergelantungan di leher Anant. Yang dikala itu Kastela dan Rizwan sudah bersiap-siap mengambil mobil. Mensetujui ajakan Kenta Anantpun bangkit. Berniat membuka pintu ia tertahan oleh Kenta.
“Itu, lo kan punya data siswa SMA kan, gue boleh pinjem gak?” tanya Kenta setelah melihat ekspresi Anant yang begitu bertanya-tanya.
“Cari aja di lantai dua, gue gak bisa bantu siapa yang lo targetin soalnya udah 1 bulan gue belum meriksa karena ada urusan lainnya.”
“Gak masalah. Thanks ya. Tambah sayang kan gue sama lo.” Dan berlari meninggalkan Anant disana sendiri untuk menuju lantai dua dimana ruangan itu berisi data-data siswa SMA BRIZY dari tahun awal sampai sekarang.
Sekitar 15 menit Rizwan, Kastela dan Anant menunggu Kenta selesai dalam urusannya. 3 menit setelah itu datanglah ketua geng itu dengan senyum-senyum gak jelas.
“Udah dapet target cewek yang mau lo mainin?” tanya Anant dengan sedikit bercanda.
“Udah dong. Datanya udah gue foto nih," Jelas Kenta sambil memperlihatkan ponsel iphone berwarna hitam keputih-putihan.
“Yaudah naik woi!” perintah Rizwan yang sudah stand by memegangi stang bunder milik Kenta disana.
__ADS_1