
Tepat di malam tanggal 5 Juni, malam dimana beberapa jam lagi pergantian hari dan Aldiano Dhafin Pratama akan bertambah 1 tahun. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.51 kali ini Izyla sedang fokus mengerjakan tugas sekolah yang menumpuk begitu banyak. Memang bila bersekolah di tempat favorite, kalian akan merasakan 3 kali sibuknya dari sekolah biasa.
Disamping materi yang diajarkan begitu luas, angka-angka yang begitu merumitkan bahkan teori disana kadang tidak bisa dimengerti. Tujuan dari semua itu agar dapat menciptakan SDM yang unggul dari yang lain.
Terpampanglah satu buku rangkuman dan beberapa lembar kertas laporan tak lupa susu coklat hangat yang menemaninya sedari tadi tanpa ia sentuh dan sebuah lagu berupa video yang terus terputar di i-pad putih kecilnya.
Tengah fokus mengerjakan soal tiba-tiba sebuah ketukan menyadarkannya yang segeralah dibuka pintu kamar tersebut. Terpampanganlah seorang gadis seperantaranya tengah membawa 2 bungkus plastik besar entah apa isinya, yang jelas tanpa sekata pun ia menyelonong masuk kedalam kamar kecil dengan dominan putih dihiasi beberapa lampu dinding.
"Ada guting?" Tanya gadis itu kepada Izyla, Safira Citra Kirani.
"Nih, itu apaan sih?" Tanya Izyla sambil memberikan sebuah gunting berbentuk winnie the pooh. Kesukaannya.
"Lah, lo lupa ya? Atau karena pindah sekolah terus banyak pikiran sampai gak ada persiapan buat ngerayain ultanya si Dhafin. Abang lo Zyl," Jelas Safira panjang lebar.
"Oh iya." sambil menepuk jidat "lupa" cengirnya.
"Iiihhh, yaudah bantuin niup balonnya."
"Tapi tugas gue? Belum selesai." rengek Izyla
"Nanti suruh Dhafin ngerjain"
"Gitu? Ok deh."
Sekitar 45 menit mereka selesai dengan persiapan. Turun kebawah untuk menuju rumah Dhafin tak lupa tugas Izyla dibawanya. Dibukalah pintu itu dengan pelan menggunakan kunci cadangan yang dimiliki Izyla. Lampu yang sudah dimatikan mengagetkan mereka ketika bertabrakan dengan orang lain. Takut dikira ada pencuri dihidupkanlah lampu itu.
"Om, tante?"
"Bunda, ayah?"
"Izyla? Safira?"
Begitulah keterkejutan 2 sepasang suami istri yang tak lain orang tua Dhafin yang juga ingin memberi kejutan untuk anaknya. Merangkai sebuah kejutan, akhirnya 5 menit sebelum dini hari mereka masuk kedalam kamar yang begitu minimalis.
Merasa Dhafin sudah tertidur karena lampu yang sudah padam iapun menyalakan lilin diatas roti dan menuju ke tangga tempat tidurnya. Dengan pencahayaan yang begitu minim membuat Izyla hati-hati ketika menaiki tangga itu.
Tepat pukul 00.00 Safira, Izyla beserta orang tua Dhafin sudah heboh diatas kasur dengan lampu yang masih padam. Bersamaan itu tiba-tiba lampu menyala dan Dhafin sudah berada di sudut ruangan itu.
"Kalian ngapain? Gue kira ada maling," Gerutu Dhafin tidak tersentuh.
"Eh kok disitu sih?" Tanya Izyla terkejut dan bergegas menghampiri Dhafin. Karena sifat cerobohnya ketika menuruni tangga, Izyla tak sengaja kakinya tertekuk
BRUGH
Izyla jatuh dengan kue tar ulang tahun yang berada tepat diwajah Dhafin. Melihat Izyla yang menindihi Dhafin tidak membuat yang lain terkejut. Pasalnya sifat Izyla yang ceroboh sudah sering menjadi pertunjukan bagi mereka.
__ADS_1
"Seneng ya nona Izyla?" Tanya Dhafin mendengar kekehan Izyla.
"Sedikit." Mencoba berdiri dari sana dan mengambil tisu di atas meja.
"Selamat ulang tahun ya bang," Kata Izyla sambil membantu membersihkan krim yang ada di wajah Dhafin. Bukan Dhafil bila tidak jahil. Iapun mencolek Izyla dengan bekas krim yang berada diwajahnya.
Mencoba berlindung dibelakang Safira hingga sebuah ketukan menyadarkan mereka. Dia adalah orang tua Izyla yang juga datang di tempat.
***
"Aku juga pengen," Kata Izyla ketika Dhafin akan meniup lilin dari roti yang dibawa Liana-ibu Izyla. Tanpa mengatakan sesuatu Dhafin pergi ke kulkas dan mengambil sesuatu disana. Dinyalakanlah lilin di atas kue kecil itu dan memberikannya kepada Izyla.
"Cepet ditiup oi!" Gerutu Safira yang menunggu untuk memakan kue tar.
"Bentar lagi doa."
Acara potong kue selesai akhirnya pemberian kadopun dilaksanakan. Safira memberikan sebuah kumpulan buku kesukaan Dhafin yang berisi tentang ilmiah-ilmiah. Walaupun IPS Dhafin juga pintar dalam hal itu. Apalagi dia masuk kelas IPS hanya untuk menemani Izyla saja. Sedangkan Izyla? Dia memberi sebuah baju badut yang sama dengannya.
"Dicoba deh Fin, gue juga mau makai." Perintah Izyla yang langsung dilaksanakan Dhafin
Selesai berganti pakaian, tibalah Dhafin diruang keluarga. Melihat penampilan menggemaskan Dhafin segeralah dicubit pipi Dhafin oleh Izyla.
"Lo keren kalau gini Fin," Kata Safira sambil tertawa terbahak-bahak.
"Keren jidat lo."
"Iya, waktu kecil kalian juga kami pakaiin baju ginian," Lanjut Liana yang antusias.
"Ada fotonya gak tante?" tanya Safira penasaran. Diambillah sebuah album besar di salah satu laci disana. Terpampanglah foto hasil jepretan mereka berdua beberapa tahun lalu.
***
Keesokan harinya, Izyla dan Dhafin merayakan ulang tahun Dhafin. Ketika gadis itu ingin memakai pakaian seperti remaja lain pada umumnya Dhafin melarang dan hanya memperbolehkan seperti biasa waktu sekolah.
Mengeliling taman hiburan disebuah mall terbesar di Kota BRIZY membuat gadis itu kelelahan.
"Haus," Gumamnya yang dengan peka Dhafin menyuruh Izyla duduk di bangku yang disediakan disana. Sedangkan Dhafin, ia membeli sebuah minuman dilantai bawah.
Melihat-lihat sekitar sambil memakan permen kapasnya ia tertuju dengan sebuah toko boneka kesukaannya. Berjalanlah mendekat sebuah kaca besar transparan untuk melihat boneka winnie the pooh.
***
"Sayang aku ambil ini ya," Kata seorang gadis remaja yang begitu cantik dan sexy kepada Kenta.
"Iya ambil aja, nanti aku bayar," Balasnya yang masih fokus melihat seorang gadis diseberang kaca besar itu.
__ADS_1
Melangkah kebelakang sedikit demi sedikit membuat Izyla menabrak seorang tante-tante yang sedang membawa sebuah minuman coklat panas
"Awww panas!" Teriak tante-tante itu yang segera di tenangkan oleh pasangannya.
"Gilak! Kalau jalan liat-liat dong! Punya mata gak sih?" Dorong om-om yang merupakan pasangan itu.
"Maaf Bu, pak," Lirih Izyla yang mulai ketakutan
"Hah? Lo manggil gue ibu? Emang gue ibu lo? Masih muda juga."
"Maaf kak."
"Terserah apa kata lo. Yang jelas sekarang lo harus ganti rugi. Emmm sekitar 30 juta," Katanya setelah berpikir beberapa saat.
"Hah? Kok banyak?" Kejut gadis kecil itu.
"Kalau gitu lo harus berlutut dihadapan gue." Perintahnya "Cepet, gue sibuk."
Mendengar itu, Izyla tidak memiliki pilihan lain selain bertekuk lutut.
Dhafin, bantuin gue, jerit hati Izyla. Yang secara bersamaan segera ditahan oleh seorang pemuda yang sedari tadi menyaksikan kejadian diluar dari awal.
"Kak Kenta?"
"Oh lo pacarnya ya? Gaya lo keren juga," Kata tante-tante itu ketika melihat Kenta yang menahan Izyla untuk berlutut
"Baju yang menjijikkan kek gini sebanding dengan harga diri? Mahal banget," Kata kenta remeh sambil mengintimidasi dari bawah hingga ke atas.
Tak terima perkataan itu, seketika adu mulut dimulai. Sudah jelas siapa yang akan menang dari pergulatan itu. Tentu saja Kenta Brigit Govannon. Yang mengetahui segala merk ternama hingga membuat kalah telak bagi lawannya.
"Makasih kak," Kata Izyla sambil menjabat tangan Kenta. "Btw, udah berapa ya kakak bantuin aku? 2 atau 3 kali," Ucapnya sambil tersenyum. "Kalau gitu kakak mau jadi temanku?"
"Kita seumuran, jangan panggil kakak."
"Serius? Tapi kok kayak udah besar."
"Bukan besar, lonya aja yang kekecilan."
"Iya deh. So, mau ya kak." Sambil berekspresi mewek. Bersamaan itu tibalah seorang gadis yang sudah membawa beberapa tas belanja bergelantungan ditangan Kenta.
Izyla yang melihat pemandangan itu seketika merasa sungkan dan menjelaskan kejadian dari awal hingga akhir secara detail karena barharap gadis itu yang dikira pacar Kenta tidak merasa salah paham.
Gadis aneh, batin kenta.
"Pergi yuk sayang. Aku gak mau ada pelakor yang deket-deket kamu," Sindir gadis itu kepada Izyla.
__ADS_1
"Aku gak pelakor kok. Maaf kalau buat kakak salah paham." Sambil membungkukkan badan. Namun tak dihiraukan oleh mereka yang berjalan melewati Izyla.
"Oh iya," kata Kenta terhenti tanpa berbalik "jawaban soal pertanyaan tadi nyusul ya. Tunggu aja." Dan berlalu meninggalkan Izyla sendiri yang tengah menunggu Dhafin kembali