
Sebuah perasaan, yang tak ku ketahui dari mana asalnya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Pelajaran olahraga tiba, sepeti biasa dengan diikat dua menyamping ciri khas Izyla membuat kesan imut bagi para penglihat. Sedang terlalu fokus mendrible bola basket dengan satu tangan tanpa melihat sekitar. Tiba-tiba terambillah bola itu oleh Dhafin hingga dapat memasukan bola itu ke dalam ring.
"Ah lo mah gangguin mulu. Pergi sono, sono, sono." Menghalangi Dhafin yang berusaha mengambil bola basketnya lagi
"Ih gemez jadi pengen cubit udelnya."
"Cubit aja kalo bisa." Yang seketika digendonglah gadis pendek itu di depan dengan tangan yang melingkar tepat di perut Izyla dan aksi jail lainnya dengan menggelitiki perut gadis itu.
"Udah ah, geli taukk," Teriak Izyla
Disisi lain, Anant yang tengah berjalan melewati lapangan basket tak lupa headset yang selalu terpasang ditelinga memperlihatkan kesan cool baginya.
"Dhafin udah ih. bang Dhafinnnn!!!" Jerit Izyla melengking yang segera dilepaslah headset itu oleh Anant. Mencari sumber suara berasal hingga mendapati seorang gadis yang sedang duduk meneguk air sambil meneriaki nama Dhafin yang sedang beradu basket dengan teman yang lain.
"Ana." Lirih Anant yang dapat di dengar Izyla.
"Kak Anant. Ada apa kak?"
Gue kenapa ya tap liat nih cewek bawaannya pengen deket mulu, batin Anant.
"Boleh ikut aku sebentar?"
"Kemana kak?"
"Udah ikut dulu aja." Tarik Anant pergi keluar lapangan basket.
Melihat pemandangan langka yang berupa Anant menarik lembut seorang gadis yang merupakan adik kelasnya. Yang tak lain adalah Izyla. Baik teman sekelas Izyla ditempat, Dhafin yang sedang beradu bahkan guru pengajar yang melihatnya terheran-heran. Ada yang berpikiran bahwa Anant itu gay karena tidak pernah menampakkan ketertarikan kepada seorang cewek. Tapi, detik ini. Anggapan itupun terpatahkan. Beberapa orang disana menjerit histeris, pingsan, menatap sinis dan masih banyak lagi.
Sampailah di sebuah perpustakaan yang masih sunyi tak berpenghuni karena masih dalam jam pelajaran. Mengambil beberapa buku di sebuah rak dan menempakkan diri di bangku bundar yang berada di tengah ruangan. Terdiri dari 3 lantai dengan dipenuhi segala jenis buku baik fiksi hingga ilmiah.
"Temenin aku ya?" Kata Anant yang berada di depan Izyla.
__ADS_1
"Tapi kak, aku masih pelajaran," Balas Izyla takut bila ia akan dihukum karena membolos.
"Tenang aja, selama ada aku, kamu gak bakal di hukum," Jelasnya, memanfaatkan kekuasaan.
"Emang sekolah ini punya kakek kakak sampai bisa seenak jidat ngomong gituan," Kata Izyla meremehkan.
"Emang bukan punya kakekku."
"Tuh kan ngaku."
"Tapi ini punya papaku."
"Heleh gak percaya, sekalian aja diaku punya kakak sendiri." Canda Izyla sampai mengeluarkan air mata karena dia kira pangeran es ini tidak bisa bercanda tapi ternyata dia bisa dan sok mengaku-ngaku lagi.
Beberapa menit kemudian keheningan menyelimuti perpustakaan ini hingga Izyla tak tahan lagi dengan pikiran yang menghantuinya.
"Btw, kakak disini ngapain?"
"Dihukum."
"Why?"
"Tadi sok jagoan bilang gak bakal ada yang ngehukum aku. Tapi kakak sendiri aja malah lagi kena hukuman."
"Ya kan yang ngehukum papaku. Kalau soal guru gak bakal ada yang berani."
"Iya deh." Kata Izyla untuk mempercepat. "Tapi kakak dihukum karena apa kok diperpustakaan? Pasti nilainya turun ya terus disuruh belajar." Tebak Izyla.
"Bukan, ini karena kemarin aku bolos jam terakhir." Tanpa Anant sadari dia selalu membalas setiap pertanyaan yang diajukan oleh Izyla.
"Ketahuan bolos? Kok bisa sih? Apa mungkin pihak sekolah mengabari papa kakak ya?"
"Capek aku jelasinnya," Kata Anant frustasi sambil mencubit kedua pipi Izyla yang begitu chubby.
"Sakit kak." Sadar akan perubahan sikap pada dirinya seketika Anant berdiri dari sofa itu.
__ADS_1
Bel berbunyi menandakan pergantian jam pelajaran dimulai. Masih setia Izyla menunggu Anant belajar di perpustakaan. Dengan fasilitas komputer yang berada disana ia gunakan untuk mengetik suatu laporan.
"Itu pelajaran apa sih?" tanya Izyla yang sudah berada dibelakang Anant yang tengah mengetik sesuatu.
"Ini bukan pelajaran, ini laporan data SMA BRIZY."
"Sekolah ini dong."
"One hundred for you."
"Tapi buat apa? Kenapa kakak yang buat?"
"Astagfirullah Anaaaa, harus berapa kali lagi aku jelasin kalau aku ini anak dari pemilik sekolah ini. Dan sudah menjadi kewajibanku membantu tugas papaku," Jelasnya lagi.
"Jadi kakak orang kaya banget dong?" tanya Izyla sambil berjalan kebelakang.
"Kamu ngapain? Duduk sini!"
"Kakak gak malu apa?"
"Malu kenapa?"
"Aku dari keluarga yang ekonominya jauh dari kakak. Nanti kalau image kakak jatuh gimana?" tanya Izyla dengan polosnya karena ia begitu tahu diri akan keberadaan keluarganya.
"Kamu mikir apa sih? Aku gak terlalu mikirin kek gituan."
"Makasih," Lirih Izyla. "Oh iya, main game yuk kak. Dijamin kakak belum pernah memainkan ini." Lanjutnya.
Game yang dimaksud Izyla adalah batu, kertas, gunting. Dan bagi yang kalah akan mendapat jitakan dari sang pemenang. Sudah 5 kali Anant mendapat jitakan hingga mengakibatkan kulit putihnya yang berada di dahi berubah menjadi merah bata. Hingga kali ini, Anant menjadi pemenang. Sudah menutup mata begitu rapat untuk menahan rasa sakit, akhirnya Izyla membukanya setelah sekian lama menunggu jitakan Anant.
"Awwww." Jerit Izyla ketika mendapat cubitan di kedua pipi chubbynya. Sebenarnya tidak sakit sama sekali hanya saja ia refleks ketika pipinya disentuh Anant.
"Apa-apaan ih kak Anant mah." Sambil mengerucutkan bibirnya.
"Bibirnya gak usah dimanyun-manyunin. Kakak tau kok kalau kamu imut," Puji Anant yang seketika membuat Izyla merona. Tak berlangsung lama ronaan itu tergambar sebuah tepisan tangan untuk menjauh dari pipi Izyla dilakukan oleh Dhafin yang membolos pelajaran untuk mencari adiknya itu.
__ADS_1
"Ikut gue." Tarik Dhafin keluar perpustakaan.