Diantara Bintang

Diantara Bintang
Bab 28 : Rumah Sakit


__ADS_3

Sudah 3 hari Kenta tak sadarkan diri dan Izyla selalu menjaganya setiap saat. Menanti pemuda itu terbangun untuk mengucapkan terima kasih dan minta maaf namun belum juga pemuda itu terbangun. Kastela dan Rizwan yang juga selalu menjenguk sahabatnya itu kecuali Anant yang pergi keluar negeri karena urusan bisnis yang tidak bisa ia tunda lagi.


"Jangan nangis terus," kata Kastela sambil memberikan kotak tisu kepada Izyla.


"Kak maafin aku, karena aku, sahabat kakak jadi sakit,"


"Bukan salah lo kok, dianya aja yang udah memilih jalan seperti ini. Apalagi lo cinta pertamanya, pasti bakal dia lakuin," hibur Rizwan.


"Apa kak?" Tanya Izyla ketika mendengar sebuah informasi yang aneh.


"Enggak kok," kata Kastela sambil menutup mulut Rizwan yang begitu blak-blakan. "Yaudah kami pamit dulu ya, titip Kenta." Dan berlalu pergi.


"Nih, makan dulu," kata Dhafin yang baru datang bersamaan perginya Kastela dan Rizwan.


"Gak Fin, gak mood." Bersamaan itu pintu terbuka menampakkan Wina dan Siska yang datang di ruangan itu.


"Ngapain lagi?" Tanya Dhafin mendekati Izyla seolah melindungi adiknya dari 2 mantannya itu.


"Kak Dhafin, aku minta maaf. Kak Siska yang nyuruh aku buat nyelakai kak Izyla," kata Wina


"Enak aja malah ngumpanin gue. Gak Fin itu boong," kata Siska sambil berlutut di depan Dhafin.

__ADS_1


"Terserah kalian mau bilang apa yang jelas sekarang pergi atau gue suruh satpam buat ngusir kalian?"


"Tapi kak, aku gak mau putus. Aku tulus mencintaimu kak," kata Wina


"Cinta? Tulus? Ketika lo berniat mau nyelakai adik gue? Jangan bercanda!"


"Aku cemburu kak. Kak Izyla selalu diprioritaskan terus."


"Ya jelaslah, dia kan adik gue yang selamanya akan bersama gue. Sedangkan lo? Jodoh enggak ngapain gue mrioritaskan yang belum pasti. Sekarang kalian keluar!!" Usir Dhafin sambil mengarahkan ke pintu.


***


Malam tiba dan kali ini Izyla tengah tertidur di samping Kenta dengan duduk dibangku tak lupa tangan yang terus memegangi tangan Kenta tanpa berniat ia lepas.


Entah dorongan dari mana Kenta mensejajarkan bantalnya di depan wajah gadis itu. Melihat dengan jelas gadis kecil yang tertidur dengan begitu polos membuatnya ingin membelai rambut yang menutupi pipi chubbynya.


"Sepertinya apa yang dikata Rizwan benar, gue buka berniat untuk mempermainkan tapi ini sebuah rasa. Perasaan yang belum kuketahui maknanya," gumam Kenta sambil memegang tangan gadis itu.


Suara batuk terdengar membuat gadis yang semula terlelap dari tidur terbangun karena merasa terganggu. Membuka mata perlahan memperlihatkan seorang pemuda yang tengah menatap dirinya.


"Ini mimpi?" Lirih gadis itu sambil mengangkat tangannya untuk menyentuk pemuda itu. Sadar akan hal itu membuat Kenta yang semula berdiam menjadi malu karena tercyduks mengamati gadis itu dalam tidurnya. Tanpa berpikir panjang ia berniat turun dari ranjang dan berlari keluar. Belum sempat itu dilakukan selimut yang masih melekay ditubuhnya terjepit oleh bagian ranjang hingga mengakibatkan ia terjatuh di arah seberang.

__ADS_1


"Kenta," pekik Izyla ketika melihat Kenta tersungkur dilantai.


"Dhaf,-" kata Izyla terpotong oleh bengkaman tangan Kenta yang menutupi mulutnya.


"Mau jalan-jalan?" Tanya Kenta sambil mengulurkan tangannya kepada Izyla yang langsung ditangkap oleh gadis itu.


Menyelusuri lorong ke lorong sambil berpegangan tangan membuat mereka serasa hilang beban. Hingga mereka sampai di taman rumah sakit. Udara dingin yang menyeruak masuk ke dalam pori-pori membuat mereka merasa kedinginan namun ditahan karena ingin jalan-jalan kesana.


"Kenta," pekik Izyla ketika Kenta tumbang dipelukannya.


"Izyla... i love.... you," lirih Kenta yang sayangnya tak dapat didengar jelas oleh garis itu karena begitu panik.


Ke esokan harinya, Izyla tengah menyuapi bubur untuk Kenta. Selama dirumah sakit ia selalu dijaga oleh Izyla dan Dhafin dan kadang-kadang orang tua kakak beradik itu juga ada disana. Sedangkan orang tua Kenta, mereka sedang keluar negeri dan sudah 1 tahun sejak kepergian mereka. Bisa dibilang Kenta hidup sendiri di sebuah apartemen.


"Besok kamu udah boleh pulang," kata dokter.


"Makasih dok," kata Liana sambil membereskan peralatan Kenta untuk dibawa pulang.


"Maaf ngerepotin tante."


"Enggak nak, malahan tante kehutangan budi sama kamu. Tante makasih banget kamu nyelamatin anak kesayangan tante ini," ucapnya sambil mendekati Kenta.

__ADS_1


"Tante, boleh minta peluk?" Tanya Kenta dengan ragu. Sebenarnya dia begitu merindukan sosok seorang ibu dalam hidupnya. Karena jelas, setelah kedua orang tuanya bercerai Kenta ikut dengan ayahnya.


"Tentu sayang."


__ADS_2