Diantara Bintang

Diantara Bintang
Bab 20 : Hari Terakhir


__ADS_3

"Ngalamun aja lo, mikirin apa sih?" Tanya dhafin ketika mereka sedang menikmati indahnya kota dimalam hari.



"Gak tau nih. Dada gue sesek aja gitu," jawab Izyla sambil memegang dadanya. "Gue kepikiran kak Anant," gumam Izyla pelan.


"Udah lupain aja. Tiap hari dia mulu yang lo pikirin. Gue disini, disamping lo. Pikirin juga kek," protes Dhafin.


"Bawel. Yaudah besok jalan-jalan kemana gitu yuk Fin."


"Agenda kan."


***


Sibuk berdandan tiba-tiba sebuah panggilan masuk di ponsel Izyla. Terpampanglah nama Anant disana dan segeralah ia angkat.


"Maaf kak gak bisa, soalnya mau pergi sama Dhafin. Maaf kak." Tolak halus Izyla.


"Why?" Tanya Dhafin ketika melihat wajah memelas Izyla.


"Kak Anant, ngajak ketemuan. Terus gue tolak." Yang hanya dibalas 'O' ria oleh Dhafin.


Sesampai di cafe, mereka memesan minuman dan beberapa kue coklat. Dhafin kopi dan Izyla cukup milkshake coklat.


Bersamaan itu seorang pemuda juga masuk di dalam cafe itu. Sepertinya sedari tadi ia mengikuti Dhafin dan Izyla.


Tengah memakan kue kesukaannya tiba-tiba ia melihat sebuah gitar di sudut ruangan. Diambillah gitar itu, duduk di pojok ruangan sambil menyanyikan sebuah lagu. Seketika dapat menyihir pengunjung cafe yang ada disana.



Wise men say


Only fools rush in


But I can't help falling in love with you

__ADS_1


Shall I stay?


Would it be a sin


If I can't help falling in love with you?


Begitu menikmati alunan yang diciptakan Izyla, seorang pemuda yang dari jauh melihat pun ikut terpesona olehnya.


Like a river flows


Surely to the sea


Darling, so it goes


Some things are meant to be


Take my hand,


Take my whole life, too


For I can't help falling in love with you


For I can't help falling in love with you


Dirasa selesai, seketika cafe itu penuh dengan suara tepuk tangan yang diberikan untuk Izyla. Izyla yang sedari tadi terlalu menghayati bahkan terkejut ketika dia dikerumuni banyak orang. Disamping alunan gitar yang indah, suaranya juga merdu untuk didengar.


"Keren lo," puji Dhafin.


"Dengan senang hati menerima pujiannya tuan," balas Izyla sambil membungkuk dengan anggun layaknya tuan putri. "Minuman gue mana?" Tanya Izyla.


"Gue habisin." Cengir Dhafin tanpa bersalah. "Pesen aja lagi. Nih." Sambil memberikan uang kepada Izyla.


Tengah mengantri pesanan yang cukup panjang tiba-tiba ia ditarik oleh sebuah tangan besar untuk keluar dari cafe.


"Lo lagi, buka gak?!" Pekik Izyla sambil berusaha melepas topeng yang menutupi wajah orang itu. Yang tak lain adalah Kenta sendiri.

__ADS_1


"Diem kalau gak mau gue...-"


"Apa?" Saut Izyla.


"Diem dulu, gue juga lagi mikir," balasnya.


Lengah dengan kondisi, dimanfaatkan oleh Izyla untuk mengirim lokasi terkini kepada Dhafin dan Anant.


Karena jarak hotel Anant dengan cafe itu tidaklah jauh. Dengan hitungan beberapa menit ia sudah menemukan keberadaan gadis kecil yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu. Layaknya Dhafin yang juga sudah menemuka Izyla berada. Sayang seribu sayang, kali ini Anant mendahului Dhafin yang mematung disana.


Mengetahui Izyla akan aman bersama Anant, ia pun memutuskan untuk pulang dan mengetik sebuah pesan.


"Ana," teriak Anant yang dapat mengejutkan Izyla dan Kenta disana. "Lo siapa?" Tanya Anant sambil merembut genggaman Kenta untuk melindungi Izyla di depan.


"Ana? Namanya Ana? Bukan Iz-" tanya Kenta terpotong


"Iya, nama gue Ana. Why? Pergi yuk kak."


***


Di dalam sebuah kamar berdominan hitam. Kini seseorang tengah berpikir keras.


Ana? Kembarannya Izyla? Bisa jadi sih, soalnya yang satu culun yang satu cantik. Tapi caranya Dhafin ngelindungi, dia bicara hampir sama. Terus Anant kenapa bisa kenal?, sebuah pemikiran yang terus menghantui Kenta tanpa henti.


Disisi lain, seseorang tengah membukakan pintu mobil untuk Izyla. Malam sudah datang, ia pun berpamitan dan langsung menuju kamar hotelnya.


"Dari mana aja lo?" Tanya Dhafin.


"Dinner. Lo sih, gue tadi ngirim pesan malah dibales udah pulang duluan," gerutu Izyla.


"Lha lo nya sih, ngapain main petak umpet segalak? Keluar dari cafelah, kan gue capek," balas Dhafin tak mau kalah.


"Petak umpet jidat lo. Gue tuh diculik," jelas Izyla.


"Culik lo? Gak bakal ada yang mau."

__ADS_1


"Serius Fin, masih inget orang yang bertopeng itu?" Tanyanya dengan nada serius. "Dia muncul lagi. Waktu lo tanya kenapa gue disemak-semak di taman BRIZY dulu, gue juga ketangkep ma tuh orang. Apa mungkin pembunuh berantai ya? Nyiksa gue dulu gitu?Psycho? Sampai ngikutin ke sini."


Yang penting lo udah aman, itu yang terbaik, batin Dhafin namun juga berniat untuk mengungkap siapa pria bertopeng itu.


__ADS_2