
Perasaan bisa saja tumbuh dengan berawal dari kata 'PENASARAN.'
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
"Hey jomblo!" teriak seorang pemuda di depan rumah yang sama persis dengannya. "Hey-" teriaknya lagi terpotong dengan sebuah roti coklat kesukaan Izyla yang masuk di mulut Dhafin.
"Jomblo, jomblo. Makanya restuin gue biar nyusul elo," Gerutu Izyla diboncengan sepeda Dhafin.
"Lo masih kecil, kekanak-kanakan, egois belum cocok buat pacaran."
"Yang egois tuh elo. Lo pacaran gue kagak boleh."
"Kan gue cowok jadi gak masalah. Mau lo dicap sebagai cewek yang gonta-ganti pasangan mulu?"
"Ih guenya setialah." Sambil mencubit perut Dhafin yang digunakan untuk pegangan.
"Awww... lha iya itu, yang gue takutin lonya setia, cowoknya enggak."
"Halah bilang aja lonya iri akan kebahagiaan gue."
"Gue tanya, menurut lo gue gimana?" tanya Dhafin yang mulai dengan nada serius tak lupa mengayuh sepedanya menuju SMA.
"Sudah jelas playboy kelas kakap yang sudah dikenal di sekolah lama, gonta-ganti cewek dan gue yang dilabrak dituduh penikung. Terus dengan mudah mengucap sayang, cinta walaupun tanpa adanya suatu perasaan. Terus apa ya? Intinya yang negative ada di elonya semua. Kecuali pelajaran," Jelas Izyla.
"Nah tuh tau."
"Hah?"
"Ya intinya semua cowok itu kek gitulah. Brengsek. Jadi gue kagak mau lo yang masih polos ngalamin kek gini. Gue gak rela liat lo sedih."
"Uchhhh tambah sayang deh." Peluk Izyla.
"Eh bentar, lo juga tuh tobat. Seumpama nih kalau jangan-jangan karma lo mainin hati cewek terus malah gue yang kena batunya dengan dapet cowok yang 11/12 kek lo gimana?"
"Ya nasib lo," Jawab Dhafin santai yang langsung mendapat pukulan keras oleh Izyla.
Santai dek, sebelum itu terjadi gue selidiki dulu. Mana yang baik buat lo mana yang enggak jadi lonya gak usah khawatir, batin Dhafin.
***
"Kent, lo mau kemana? Cari cewek ya? Ikut dong," Kata Rizwan mendekati Kenta.
"Gak jadi, mau balik kelas." Kenta yang tercydukspun membatalkan rencana awalnya.
"Emang mau kemana sih tuh bocah? Ini kan jalan ke gudang. Ih serem ih. Tungguin oi!" teriaknya.
Gue harus cari cara lain, batin Kenta
***
__ADS_1
"Ini tuan, data yang anda minta," Kata seorang bawahan dan undur diri dari ruangan.
"Gila! Cantik juga, lumayanlah!" gumamnya sambil tersenyum sinis. Terpampanglah beberapa potret gadis remaja yang tengah tersenyum memakai dress selutut berwarna hijau toska dengan make up tebal menyelimuti wajahnya
***
"Eh semut!" teriak kenta yang tak sengaja bertemu Anant yang akan menuju kelas.
"What?"
"Lo punya data semua siswa kan? Gue boleh pinjem?"
"For?"
"Ada seseorang yang harus gue selidiki. Cukup aneh dan ngebuat gue penasaran." Tanpa memberikan jawaban pria berhati dingin itupun pergi. Dan Kenta sudah terbiasa akan sifat sahabatnya itu.
Disisi lain, Izyla dan Dhafin baru selesai dari perpustakaan dan berniat untuk menuju kelas. Bersamaan itu, ketika ingin mendorong pintu, tiba-tiba pintu itu sudah tertarik dari arah seberang. Seketika membuat tubuh Izyla linglung dan untung langsung ditangkap oleh Anant.
"Makasih," Kata Izyla sambil tersenyum.
Senyumnya cantik, tapi bentar, kek familiar deh. Pikirnya.
"Ayo dek," Kata Dhafin menyadarkan Izyla.
"Ah iya bang."
Ditengah perjalanan, Izyla seketika berubah menjadi cerewet menceritakan tentang seorang pemuda yang baru ditemuinya. Ia terkagum akan ketampanan pemuda itu. Yang tentu jelas most wanted sekolah itu.
"Emang terkenal?" tanya Izyla dengan polos. "Eh mungkin aja terkenal ya, Tampan banget soalnya." pikirnya
"Gak terkenal kok. Gue juga gak tau dan gak mau tau," Kata Dhafin bohong yang sebenarnya beberapa hari di sekolah baru sudah mendengar banyak berita. Izyla yang terlalu kudet, tak peduli dengan sekitar mana tau kecuali dikabari Dhafin.
"Eh itu kembaran lo Fin," Kata Izyla ketika mendapati seorang pemuda dengan kelihatan punggungnya saja tengah merayu cewek cantik disudut ruangan.
"Kerenan guelah." Dan berlalu melewati mereka.
"Iyalah, kan abang gue. Kalau enggak keren gue juga kagak maulah." Canda Izyla sambil menjulurkan lidah di depan Dhafin.
Disisi lain, seorang pemuda yang dikira kembaran Dhafin pun berbalik mengikuti arah Izyla pergi. Tengah serius mengamati Izyla tanpa sadar cewek yang sedang bersama memegang pipinya.
"Kenta sayang, liat apa sih? Liat aku dong." Kata gadis itu sok manja dengan bergelantungan di lengan Kenta.
"Ah iya, sorry baby."
Waktu pulang tiba, Izyla pulang duluan karena dia tidak ingin menunggu Dhafin ekstra. Dikucir dua menyamping dengan rok pendek diatas lutut, seperti itulah seragamnya tak lupa earphone yang terpasang di telinganya.
Wherever you go, whatever you do
I will be right here waiting for you
__ADS_1
Whatever it takes or how my hert breaks
I will be right here waiting for you
-Right here waiting (Richard Mark)
Sebuah lagu kesukaan ibu Izyla. Tanpa sadar alunan melody itu membuat Izyla melantunkan di bibir kecilnya itu. Tinggal menyabrang dan belok kanan akan tiba di depan perumahan. Namun belum sempat ia menyabrang sebuah panggilan masuk diponselnya. Bersamaan itu ia ditarik oleh segerombolan orang menuju sebuah gang kecil dekat sana. Ponsel terjatuh dengan dia tanpa sengaja sudah menekan tombol hijau.
"Lo masih aja deket-deket sama Dhafin pacar gue ya? Hah? Dari dulu kan udah gue suruh pergi menjauh." Terdengar suara familiar dari seberang yang membuat Dhafin bergegas mencari Izyla.
"Aaaa... aku... anu. kak.l," jawab Izyla terbata-bata karena takut.
"Anu apa, hah?" sambil menjambak rambut Izyla. Dia adalah Siska kakak kelas serta pacar yang tidak ingin putus dari Dhafin di sekolah lamanya. Bisa dibilang sudah 1/2 tahun mereka putus tapi mungkin karena begitu terobsesi memiliki Dhafin jadilah begini.
"Kami cuman temenan sejak kecil doang kak. Gak lebih gak kurang," Jelas Izyla tak tertinggal air matanya terus mengalir ketakutan. Bukan pertama kalinya ia dilabrak seperti ini. Untungnya Dhafin tahu dan selalu membantunya.
"Menurutmu di dunia ini ada gituh temenan cowok cewek dan itu CUMAN temen?"
"Ada, buktinya kami kak. Dan juga bukannya kakak udah diputusin Dhafin ya?" tanya Izyla dengan lugunya.
"Eh kurang ajar lo." Dan bersiap-siap untuk menampar Izyla. Untungnya tepat waktu Dhafin mencegah itu terjadi dan segera mendekap Izyla yang ketakutan di gang kecil dengan penerangan yang begitu redup. Itulah phobianya, kegelapan dan sendiri.
"Eh lo lagi lo lagi," Kata Dhafin dengan nada capek menghadapi mantannya ini.
"Dhafin bisa aku jelasin kok."
"Gak perlu, apapun penjelasannya kita ini udah PUTUS! P-U-T-U-S! You know?"
"Tapi aku belum mau Fin, gue masih sayang ma lo."
"Terserah." Dan berusaha pergi dari sana.
"Awas aja lo Izyla." Geram Siska.
***
"Gue capek, takut dilabrak cewek lo," Gerutu Izyla.
"Kan ada gue."
"Ya untungnya sih tepat waktu. Tapi kan lo gak bakal ada terus buat gue."
"Ada terus kok santai aja."
"Yang lo urusin bukan gue doang. Lo juga masih punya Nia, pacar lo."
"Udah putus."
"What?" sambil ternga-nga. "Ah lo mah mutusin pas lagi sayang-sayange."
__ADS_1
"Seru kok." mendengar jawaban itu seketika Izyla memukuli Dhafin.