
"Hey Kent," sapa seorang gadis yang bisa dibilang blasteran.
"Hey Vin," balas Kenta
"Gue gak disapa?" Tanya Rizwan sambil berekspresi mewek.
"Hehehe, hey Rizwan, Kastela dan Anant. Btw bisa ngobrol sebentar Kent?"
"Tentu."
***
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 17.15 dan lampu-lampu hias sudah dinyalakan disana. Membuat indah bagi para pengunjung yang melihatnya.
"Fin gue haus, gue cari minum dulu ya," kata Izyla berniat meninggalkan mereka berdua karena ingin menyendiri dan menenangkan pikirannya. Jelas, dia baru pertama kali dicium oleh seorang laki-laki yang selalu membuat jantungnya berdebar. Dan perempuan mana yang tidak akan memikirkan masalah seperti ini.
"Aku juga haus, ikut kak," kata Wina.
"Yaudah cari bareng aja," kata Dhafin yang langsung ditahan Wina agar mereka yang membeli dan Dhafin hanya boleh duduk di bangku yang ada disana dan menunggu mereka kembali.
Kesempatan tak disiakan oleh Wina, kini ia menuntun Izyla disebuah tempat yang berada diujung. Awalnya Izyla juga ragu karena kedai-kedai mulai sedikit namun ia terlalu memikirkan apa yang ada diotaknya jadi dia hanya mengiyakan.
"Kakak tunggu disini dulu," kata Wina
Disisi lain, Kenta dan gadis yang bernana Vina tadi menuju tempat paling ujung di festival itu. Berbicara berdua dengan Vina yang mendahului. Ditembaklah Kenta oleh Vina. Seperti biasa Kenta akan menolak permintaan menjalin hubungan pacaran dan lebih memilih teman tapi mesra karena baginya itu tidak mengikat hak-hak spesial dan bila ia merasa bosan dengan mudah ia bisa meninggalkan kapan dan dimanapun.
__ADS_1
Mendengar suara yang begitu familiar Izyla mendekati sumber suara itu berasal. Dilihatlah Kenta yang sedang bersama seorang gadis blasteran yang cukup minim pakaiannya.
Melihat pemandangan itu entah kenapa membuat dada Izyla seketika sakit. Hingga tanpa sadar air matanya mengalir keluar. Pertama kalinya ia merasa seperti ini, sesak dan serasa kekurangan oksigen.
Tidak ingin berlama-lama merasa hal seperti itu ia perlahan berjalan kebelakang. Belum sempat berbalik ia dibekap oleh seorang kelompok dengan memakai pakaian serba hitam.
"Aaaaaaa," teriak gadis itu yang dapat ditangkap penginderaan milik Kenta.
"Izyla," gumam Kenta yang langsung berdiri.
"Kent, please terima gue ya? Kalau gak beri alasan yang dapat gue terima," Kata Vina sambil menggenggam tangan Kenta dan ikut berdiri.
"Gue udah punya pacar." Sambil melepas genggaman Vina dan berlari menyusul jejak Izyla.
"Emmmmm." Izyla mulai memberontak dengan mulut yang masih ditali.
"Diam gadis cantik," kata seorang penculik sambil menali kaki Izyla. "Lo," katanya kepada salah satu anggota yang baru saja masuk kedalam ruangan itu. "Jagain gadis ini sampai si bos tiba." Yang hanya dibalas angguka oleh anggota itu. Lampu dimatikan dan Izyla ditinggal bersama 1 anggota penculik itu. Sedangkan yang lain, mereka memanggil bos yang dimaksud itu.
Menangis dalam diam dilakukan oleh Izyla yang begitu ketakutan. Dia yang begitu phobia kegelapan memilih untuk menutup rapat-rapat matanya. Sakit sesak yang baru ia rasa tadi, dan ketakutan yang sedang ia jalani membuat gadis itu merasakan sakit dua kali lipat dalam waktu yang sama.
Clek
Suara lampu di hidupkan terdengar ditelinga gadis itu. Dirasa lampu bersinar Izylapun membuka mata yang seketika membuat ia terkejut karena tepat didepannya seorang dengan pakaian srrba hitam sudah ada didepannya. Ia mencoba memberontak menghindari orang itu. Anehnya pemuda itu malah melepas ikatan tangan, kaki dan mulut Izyla.
__ADS_1
Mendapat perlakuan seperti ini membuat Izyla kebingungan hingga orang yang menurutnya salah satu anggota penculik itu membuka penutup kepalanya.
"Kenta," kata Izyla tak percaya sambil memeluk Kenta tanpa sadar karena terlalu takut dengan apa yang ia alami. Menangis dalam pelukan Kenta membuat gadis itu merasa lebih tenang. Namun ketenangan mereka tidak begitu lama ketika mendengar suara salah satu anggota kelompok itu sadar dari pingsan sesaat yang dibuat Kenta.
Dengan sigap Kentapun menali kembali mulut Izyla tak lupa tangan gadis itu ditiang dan kakinya. Namun itu hanya sebatas tali satu kali yang dengan mudah dapat dilepas.
Suara pintu terbuka kembali dan Kenta sudah bersembunyi di sebuah tumpukan kerdus yang berada disana. Memainkan ponsel Izyla yang ia ambil tadi dan mengirim lokasi mereka sekarang kepada Dhafin.
"Akhirnya nona Izyla Occiano Azalea tertangkap," kata seorang gadis dengan penuh kegembiraan.
"Lo," kata Izyla menggantung ketika melihat siapa yang berusaha menculiknya selama ini.
"Iya, gue kenapa?" Sambil menjambak rambut Izyla yang anehnya membuat Kenta yang bersembunyi merasa emosi.
"Pak penculik, tolong bunuh gadis ini." Jedanya "Sebelum itu, gue mau ngenalin seseorang dulu. Masuk!" Perintahnya.
"Pergi Win, jangan deket-deket gadis itu. Dia mantanya Dhafin yang paling bahaya," teriak Izyla berusaha menyelamatkan Wina.
"Biasa aja tuh," kata Wina sambil mendekati wajah Izyla. "Lo tau? Awalnya gue gak suka Dhafin jadi gue ngebiarin lo sama Dhafin, hingga rasa muncul dan gue jadi benci lo yang selalu diprioritaskan Dhafin. Dan gue ingin ngebalas semua itu dengan ini." Sambil mengeluarkan sebuah pisau didalam jaketnya.
Srekkk
Sebuah tebasan terdengar hingga mengeluarkan darah segar.
"Serang dia!!!" Perintah Siska kepada penculik itu untuk menyerang Kenta yang mencoba menyelamatkan Izyla.
__ADS_1
Bersamaan itu Dhafin pun tiba di tempat. Wina dan Siska yang masih berada disana tercengang melihat Dhafin yang ada disana. Membantu Kenta berkelahi dengan penculik itu hingga tanpa sadar rasa sakit yang ia rasa membuat Kenta oleng. Izyla yang awalnya berada ditempat segera berlari mendekati Kenta dan menangkap pemuda itu hingga Kenta jatuh tepat dipelukannya