Diantara Bintang

Diantara Bintang
Bab 19 : Liburan


__ADS_3

Masih tersisa 4 hari lagi Izyla dan Dhafin berlibur di Eropa. Menikmati indahnya sunset dan sunrise di balkon hotel yang berada dipinggir laut membuat rasa damai menyelimuti mereka.


Hari ini, mereka memilih menikmati hari di dalam kamar. Izyla yang tidur di ranjang dan Dhafin yang tidur di sofa tidak memberatkan bagi mereka.


Izyla yang merasa bosan, mengambil beberapa camilan di dalam kulkas untuk di makan diluar. Semilir angin yang terasa begitu dingin menyeruak masuk ke dalam pori-pori kulit Dhafin. Ia yang tengah mengetik sesuatu mengencangkan jaket kulit yang sedang ia pakai.


"Sibuk amat dari tadi," sindir Izyla.


"Namanya juga punya pacar, sibuklah. Gak kek lo," ejek Dhafin tanpa melihat Izyla yang tengah memutar bola matanya. Sebuah pesan masuk di ponsel Izyla. Sesegera ia bergegas kembali masuk ke dalam kamar. Memilih pakaian terbaik dan berdandan natural karena masih takut dengan orang yang meneror waktu lalu. Memakai atasan putih berlengan panjang bersamaan rok pendek motif kotak-kotak tak lupa beberapa rambut yang ia kepang. Ciri khasnya.



Tanpa sepengetahuan Dhafin kini ia memakai lift menuju lantai 1 untuk bertemu seseorang. Sebuah mobil sport warna merah sudah menjemput Izyla di depan hotel segeralah ia masuk ke dalam. Mengetik sesuatu di ponsel dan dikirimlah ke seseorang seberang.



"Lagi apa?" Tanya seorang disebelah Izyla. Anant.


"Ngabarin Dhafin kak. Oh iya, btw kakak ngapain disini?"


"Kangen kamu. Makanya nyamperin." Goda Anant.


"Serius kak."


"Tadi pagi Kenta nyuruh kami ber 3 nyusul dia kesini. Yaudah tanpa mengulur waktu kita kesini deh."


"Lha terus kenapa kakak ngajak aku pergi?"

__ADS_1


"Aku yang pertama mendarat. Jadi masih banyak waktu buat ngumpul nanti malam," Jedanya. "Kalaupun telat alasan aja pesawatnya lagi macet. Beres kan." Canda Anant yang langsung mendapat pukulan di lengannya.


"Jatuh dong" Yang seketika itu mereka berdua tertawa bersama.


Berkeliling bersama serasa kencan pertama bagi Izyla. Namun segera ia usir pemikiran seperti itu dalam otaknya. Karena jelas, sebelum dia pergi ke Eropa Anant hanya berniat menganggapnya sebatas adik tidak lebih dan tidak kurang.


"Ngalamun aja." Cubit Anant di kedua pipi Izyla. "Nanti mau ikut gak?"


"Kemana?" Sambil memakan es krim coklat berukuran jumbo yang baru saja dibelikan Anant.


"Kumpul bareng most wanted. Siapa tahu ada yang cocok sama kamu," Tawar Anant.


Malah dicariin jodoh, gue kan sukanya sama lo kak, jerit hati kecil Izyla.


"Enggak kak, udah ada acara nonton film sama Dhafin." Tolak Izyla


"Gitu? Yaudah."


"Lah, baru 1 jam kita pergi lho."


"Perutku sakit kak, kek nya mau pms." Bohong Izyla.


"Yaudah deh, ayo kakak anterin."


***


"Gimana kencannya?" Tanya Dhafin ketika melihat adiknya baru saja membuka pintu.

__ADS_1


"Kencan dari hongkong," gerut Izyla sambil membuat tas selempang diatas kasur.


"Udah sampai hongkong? Wah gue iri." Sambil memberikan sebuah tepuk tangan yang langsung mendapat lemparan bantal oleh Izyla. "Udah gue bilangin jangan baper! Jangan nganggep dia cowok! Udah anggep aja kalau gak ada gue, dia yang jadi abang lo. Pengganti gue." yang hanya dibalas anggukan pasrah oleh Izyla.


***


"Wah paling awal lo Nan. Bantuin gue nyiapin alat-alat," kata Kenta ketika melihat Anant yang baru saja membuka pintu kamarnya.


"Bentar, gue ke toilet dulu."


Sekitar 5 menit Anant selesai dengan urusannya. Berniat menuju pintu untuk keluar, tiba-tiba ia urungkan di depan sebuah cermin besar.



Disisi lain, Kastela dan Rizwan sudah tiba disana. Mereka membantu Kenta untuk menyiapkan pesta kecil-kecilan nanti malam. Tengah bercanda gurau di halaman sekitar kamar, sebuah teriakan mengejutkan mereka.


Dicarilah sumber suara itu berasal, hingga mereka menemukan Anant di dalam kamar mandi yang sedang duduk di sudut ruangan sambil menutup telinga dan berteriak gak jelas. Dengan sigap mereka mendekati Anant. Kenta menutup mata Anant sedangkan yang lain ada yang pergi mengambil obat penenang.


"Tenang Anant, semua baik-baik aja. Tutup mata lo, jernihkan pikiran," jelas Kenta dengan hati-hati.


"Gue gak bisa liat wajah gue!!!" Teriak Anant yang kali ini depresinya kambuh.


"Minum Nan," kata Kastela sambil memberikan obat penenang yang segera di ambil kasar oleh Anant


"Bantuin bawa Anant ke kasur gue," kata Kenta berusaha memapah Anant ke ranjang besar miliknya.


"Lo tenangin dulu aja. Biar kita-kita yang beres-beres."

__ADS_1


Masih depresi dengan kondisinya, ia merogoh sebuah ponsel disakunya. Ditekanlah tombol kamera miliknya. Terkejut tidak mengenali wajahnya seketika dilemparlah ponsel itu dengan asal. Duduk di tepi kasur dengan menekuk lutut tak lupa menutup mata dan telinga. Kini ia tengah menangis dalam diam. Berusaha mengingat memori beberapa tahun lalu yang menimpa dirinya hingga mengakibatkan dia seperti ini sekarang.


Gue bakalan bales semuanya, karena kalian yang buat gue seperti ini keluarga Ryan. Tunggu aja, geram Anant sambil menyeringai penuh kebencian yang tertampak di balik dekapan itu.


__ADS_2