
"Dhaf, gue tadi nemu pengumuman kalau ada lomba OSN. Gue harap gue kepilih di bidang matematika kek dulu," Gumam Izyla sambil memakan bekalnya di dalam kelas.
"Amin.."
"Kalau lo pengennya apa?"
"Bebaslah. Toh nanti juga dipilih sama sekolah."
"Yeee, lo mah pinter dalam segala hal. Astronomi aja."
"Menarik tuh."
Bersamaan itu, seorang yang tengah berlari dari koridor ke koridor lain untuk menuju kelas XI IPS 1 tiba-tiba membuka pintu kelas. Terkejut akan kehebohan itu, dengan nafas tersenggal-senggal ia mendekati Dhafin.
"Kenapa lo?" Tanya Dhafin kepada ketua kelasnya.
"Guys, akhirnya setelah lamanya kelas kita ada yang kepilih ikut OSN," Teriaknya dengan heboh.
"Siapa? Bidang apa?" Tanya Izyla berharap dia terpilih.
"Dhafin, bidangnya matematika." Mendengar jawaban itu seketika membuat Dhafin mendongak melihat Izyla yang sudah merunduk. Iri, sedih suatu perasaan yang tercampur menjadi satu. Tak kuat akhirnya ia pergi dari sana.
Dhafin yang melihat perilaku seperti itu hanya membiarkan Izyla pergi karena ia juga tidak bisa melakukan apapun untuk adiknya.
"Izyla kenapa?"
"Gak lo kejar? Kalau enggak gue yang ngejar lho." Canda teman sekelasnya.
"Gak, biarin dia sendiri dulu. Biar bisa dewasa. Toh itu keputusan sekolah gak bakal bisa gue bantah."
Sampai di ruang perpustakaan yang begitu ramai. Ia menuju di sudut ruangan yang begitu sepi. Menangis disana dalam diam dan mencoba tegar akan keirian yang sedang ia rasa.
Seseorang yang tengah tertidur dibawah meja depan Izyla terbangun ketika mendengar isakan tangis seseorang.
DUGH
Ketika kepala dan meja bertemu membuatnya merintih kesakitan. Sadar akan itu Izyla pun mengecek dibawah mejanya. Disana ada dua pasang mata bertemu cukup lama. Mencoba mengamati dengan intens tetapi masih saja belum tahu. Iapun berniat untuk pergi dari sana.
"Kak," panggil Izyla "kakak punya brosur lomba gitu gak? Tentang matematika gitu." Sadar itu Ana iapun berbalik dan mendekati gadis itu.
"Kamu kenapa nangis?" Tanya Anant sambil mengusap bekas air mata Izyla.
"Enggak pa pa kok kak." Memberi jarak dan mengusap kasar air matanya sendiri.
"Punya gak kak?"
"Eh ada, karya ilmiah tema matematika dan harus berbahasa inggris."
"What? ****** deh"
"Why?"
"Gak bisa bahasa inggris."
__ADS_1
"Udah SMA kok gak bisa. Yaudah nanti aku bantuin."
"Eh gak usah kak, nanti aku minta bantuan sama Dhafin aja. Makasih ya kak." Dan berlalu pergi.
***
Masih ada keganjalan dalam diri Izyla ketika bersama Dhafin. Waktu pulang sekolah ia memilih untuk jalan kaki. Dhafin yang sedang mengambil sepeda tidak menemukan Izyla di gerbang utama. Dicarilah gadis itu sampai ketemu.
"Abang posessif lo mana?" Tanya Kenta yang sudah berada di samping gadis itu menggunakan motor kawasaki ninja H2R warna hitam.
"Udah pulang paling."
"Yaudah ikut gue aja. Gue anterin pulang," Tawar Kenta kepada Izyla.
"Gak ah, nanti malah diculik," Balas Izyla dengan pemikiran was-was
"Gue gak nyulik kok."
"Ya kali aja bukan kamu, tapi temanmu. Kamu ngumpanin gitu," Jelas Izyla sedari berjalan menuju rumahnya.
"Gaklah. Buat apa nyulik lo? Nambah beban makan aja."
"Iya juga sih," Kata Izyla terhenti yang membuat pemuda itu juga ikut berhenti. "Tapi kan bisa aja disuruh ngamen gitu?" Katanya lagi yang membuat Kenta menepuk jidat halusnya.
"Mana ada? Yang ada tuh jual ginjal, mata, kulit, dan semuanya. Kaya seketika." Canda Kenta yang seketika membuat gadis itu berjalan mundur. "Penculik ini akan menangkapmu," Kata Kenta mencoba mendekati gadis itu.
"Dek," Teriak Dhafin sambil mendekat. "Ternyata disini. Ayo pulang." Tarik Dhafin.
"Gak mau, masih baper gak diajak." Memalingkan wajahnya dari Dhafin.
"Lo gak usah ikut-ikutan!" Ancam Dhafin, yang seketika membuat Kenta tertantang.
"Ayo, nanti gue ajak ke tempat kesukaanmu." Rayu Kenta sambil tersenyum sinis kepada Dhafin.
"Dengan satu syarat."
"Apa?" tanya Kenta.
"Bukan kamu kok. Dhafin yang aku maksud," Jelas Izyla
"Apa dek?"
"Bantuin ini." Sambil memberikan brosur lomba Karya Tulis Ilmiah.
"Ok."
"Lha aku?" Tanya Kenta memelas.
"Salah sendiri gak nerima pertemananku."
***
Ulang tahun Izyla tinggal 2 hari lagi, secara besar-besaran akan dirayakan. Dengan mengundang rekan bisnis Ryan dan Deon.
__ADS_1
"Jadi ini buat ngerayain ulang tahun kalian berdua," Jelas Liana.
"Makanya pestanya diadain tanggal 25. H+1 ultanya Zyla," Jelas Rina yang mendapat anggukan sepasang kakak beradik itu ketika sedang mengadakan rapat kecil-kecilan antara 2 keluarga di sebuah restoran.
***
Liburan sekolah telah tiba, kali ini tepat tanggal 24 Juni Dhafin menemani Izyla kemanapun sehari full setelah perayaan kecil-kecilan dini hari yang berlangsung selama 3 jam.
Dengan memakai pakaian hasil negosiasi dengan Dhafin beberapa jam yang lalu. Akhirnya Izyla tampil dengan memakai kemeja putih yang dimasukan ke dalam rok jeansnya tak lupa sepatu putih yang serasi dengan kemeja.
Kali ini gadis itu sedang menikmati udara di jembatan gantung bersama Dhafin yang hanya memakai kaos oblong warna putih sambil memakai topi hitam yang terpasang di kepalanya. Perfect untuk mereka berdua.
Disela perjalanan mereka, Dhafin menemukan seorang gadis yang menarik. Terget selanjutnya. Izyla yang paham akan hal itu segera menahan Dhafin.
"Ini ulta gue, ngapain mau ngerayu cewek? Mau selingkuh?" Cerocos Izyla dengan jengkel.
"Bentar lah dek, cuman minta nomernya doang kok."
"Kalau gitu, gue kesana." Ancam Izyla sambil menunjuk 4 most wanted yang baru keluar dari mobil sport biru milik Kenta.
"Kok bisa disini sih?" Gerutu Dhafin.
"Tadi Kenta DM tanya gue lagi dimana gitu."
"Ngapain dijawab?" Tanya Dhafin frustasi sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Gue kira kalau ngasih tau disini gak bakal datang."
"Yaudah pergi yuk." tarik Dhafin.
"Bentar,"
"Apa lagi?"
"Sebenarnya lo ngapain sih Fin? Kok kalau ketemu mereka bawaanya gue disuruh ngejauh mulu."
"Soalnya mereka itu gak baik buat lo."
"Gak baik kenapa?"
"Playboy," jawab Dhafin asal walaupun juga salah satu faktanya.
"Lah, lo kan juga playboy," Sindir Izyla.
"Terserah deh. Intinya mereka pemilik SMA BRIZY yang harus di hindari."
"Lo tau mereka pemiliknya?"
"Iyalah, tapi yang paling berkuasa ayahnya si Anant," Jelas Dhafin sambil menarik kembali gadis itu.
__ADS_1
***
"Dibawa kabur lagi," Gumam pemuda itu ketika melihat Izyla ditarik Dhafin menuju pintu keluar. "Gue rasa ada sesuatu yang disembunyiin Dhafin," Katanya lagi dan berniat untuk berencana mengusik gadis itu.