Diantara Bintang

Diantara Bintang
Bab 15 : Sakit (1)


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Izyla menghindari Anant yang selalu berusaha menyempatkan diri untuk datang kesekolah untuk menemuinya. Yang kadang karena itu membuat papanya marah karena terlambat datang ke kantor. Usaha dilakukan, amukan papanya tak dihiraukan olehnya. Bahkan sesekali Leo memukul wajah putranya itu hanya karena untuk menemui seorang gadis.


"Beri aku waktu buat ngomong sama kamu Ana." Tahan Anant tak kuat mendapat perilaku itu dari Izyla.


"Tapi waktu gadis ini itu, buat gue," Kata Dhafin sambil menarik Izyla pergi dari sana.


"Besok bolos aja."


"Kenapa?" Tanya Izyla kebingungan.


"Paling tuh orang dateng lagi."


Dan benar, ketika Dhafin menjelaskan alasan membolosnya Izyla kepada orang tuanya, mereka mengerti dan diijinkanlah membolos 1 hari. Dhafin yang bersekolah dihari itu mendapati Anant yang tengah menunggu adiknya di depan gerbang.


"Kamu kakaknya Ana kan? Bisa tolong temuin kami gak?"


"Kagak bisa!!!" Sambil menepis tangan Anant yang memegangnya.


Ke esokan harinya, Anant tiba disana. Ia masih berusaha untuk mendapat alasan kenapa Izyla berperilaku seperti itu kepadanya.


"Itu salah kakak!" teriaknya frustasi.


"Salahku?"


"Iya salah kakak, dulu itu tepat dihari pertama kakak datang ke sekolah setelah hari kelulusan kita berpapasan. Bukannya nyapa atau senyum kakak cuman lewat doang tanpa melirikku sama sekali. Padahal jelas kita bersebelahan waktu itu. Maka dari itu aku pikir kakak udah gak nganggep aku lagi, makanya aku ngejauh dari kakak," jelas Izyla yang akhirnya semua unek-unek dalam hatinya ia ungkapkan.


"Benarkah? Maafkan aku Ana." Sambil bertekuk lutut di depan Izyla dengan disaksikan Dhafin.


"Jangan gitu ih kak. Berdiri," Kata Izyla tak tega sambil mengulurkan tangan kepada Anant.

__ADS_1


"Itu salah paham." Lirih Anant dengan pelan.


"Tunggu," kata Dhafin menarik adiknya ke belakang. "Apa maksud lo salah paham?" Tanya Dhafin mengintrogasi.


"Anu... itu... e," kata Anant menggantung mencari sebuah alasan yang tepat namun bersamaan itu ponselnya berdering sebuah pesan dari papanya masuk. "Gue gak bisa jelasin. Gue duluan ya." pamit Anant.


"Tuh liat! Jangan pernah temui dia lagi,"


Lebih tepatnya jangan memiliki rasa dengannya dek, batin Dhafin sambil menuntun jalan.


***


Beberapa hari berlalu dan Anant sudah tidak datang lagi ke sekolah. Sejak hari itu, palau melanda Izyla. Dengan langkah lemas menaiki tangga membuat dia hilang keseimbangan.


"Kalau jalan liat-liat dong," Gerutu seorang pemuda yang sedang ditindihi Izyla.


"Turunin aku kent," Kata Izyla sambil memberontak.


"Diem ih. Lo tuh berat."


"Tau berat ngapain digendong."


"Yaudah ngesot sana," kata Kenta sambil menghentikan langkahnya. "Nah diem gini, nurut kan tambah sayang." Goda Kenta yang seketika mendapat cubitan Izyla.


Sesampai di UKS dibaringkanlah gadis itu dengan hati-hati. Memberikan obat luka disekitar lutut dan mencoba-coba memijit kaki yang terkilir.


"Diem dulu, nanti sakitnya akan hilang." Bersamaan itu segera dipluntir pergelangan kaki Izyla dan tanpa permisi dijambaklah rambut Kenta yang duduk dibawah ranjang. Suara teriakan mengisi ruangan itu yang dihasilkan oleh Kenta dan Izyla. Hingga membuat dokter yang sedang berada di apotek ruang sebelah terganggu.


"Selesai. Sembuh kan? Coba jalan!" Perintah Kenta.

__ADS_1


"Iya kent, makasih ya," Kata Izyla sambil mendekat. "Misi." Lanjutnya ketika mencoba merapikan rambut Kenta hasil dari jambakannya tadi. Mendapat perilaku seperti itu sudah biasa bagi playboy sekaligus most wanted. Tapi entah kenapa rasanya ketika di sentuh gadis itu berbeda dengan yang lain. Seperti ada sengatan listrik yang menjalar ditubuhnya. Sadar akan sesuatu dia berusaha untuk keluar UKS.


"Tunggu Kent, mau gak lo temenan ma gue?"


"Gak."


"Kenapa?"


"Gak suka aja. Udah culun, gak menarik, kerjaannya nyusahin mulu. Paling ketemu pas lagi kesusahan doang."


***


"Gue balik dulu ya." Pamit Kastela dan Anant kepada Rizwan yang masih menyandang status anak SMA.


Disisi lain Izyla yang sedang berjalan pincang menahan perihnya luka yang berada di lutut. Dengan peka Anant yang sudah mengamati sedari tadi menyadari gadis itu dan mendekat.


"Aku sayang kamu," Kata Anant ketika Izyla memberontak. Mendengar perkataan itu membuat Izyla terdiam. Diajaklah ke tempat biasa mereka bertemu. Perpustakaan. "Aku sayang kamu Ana." Lirih Anant kembali kepada Izyla. "Aku sayang kamu." Ulang Anant tak kuat dan memeluk gadis itu.


"Kakak? Kakak menangis? Udah aku maafin kok." Hibur Izyla merasa tak enak hati kepada Anant.


"Benarkah? Makasih. Maaf ya waktu dulu."


"Sebagai gantinya aku minta penjelasan kakak. Kenapa kakak lakuin itu? Aku harap kakak ngasih alasanya yang logis."


"Sebenarnya...


Aku...


Sakit..."

__ADS_1


__ADS_2