Diantara Bintang

Diantara Bintang
Bab 17 : Menang (1)


__ADS_3

"Izyla?" Dan mendekat.


"Dani?" Kejutnya tak menyangka. "Ngapain disini?" Tanya Izyla basa basi.


"Gak tau juga kenapa bisa disini. Mungkin udah takdirnya kita berjodoh jadi ya ketemu." Goda Dani.


"Berjodoh dalam ngimpi lo, tuh baru bener." Saut Dhafin yang sudah ada disana.


"Eh lo Fin, masih aja lo gak ngerestuin gue." Cengir Dani. "Btw, kenapa style rambut lo jadi begini? Di sekolah baru apa ngadain MOS buat murid pindahan?" Heran Dani ketika melihat Izyla dengan penampilan tak biasanya di sekolah barunya itu.


"Gue yang nyuruh! Kenapa? Biar gak nemu cowok kek lo," Sindir Dhafin dan menarik pergi Izyla.


"Astagfirullah, gue kan cuman tanya baik-baik. Ngegas amat!" Teriak Dani


"Ini udah ngerem!" Teriak Dhafin balik


***


"Gimana? Udah takluk sama lo belum?" Tanya seorang gadis di dalam ruangan yang begitu remang pencahayaannya.


"Sepertinya kak," balasnya dengan nada ketakutan.


"Sepertinya? Lo harus buat dia 100% takluk sama lo. Gue harap si Izyla merasa terbuang oleh Dhafin." Menyeringai dengan penuh kebencian.


***


"DIBERITAHUKAN KEPADA IZYLA OCCIANO AZALEA KELAS XII IPS 1 ADA KIRIMAN PAKET. BISA DI AMBIL DI RUANG TU." Sebuah pengumuman terdengar diseluruh penjuru kelas. Merasa penasaran seseorang yang terpanggil itu bergegas menuju ruang TU.


"Apa nih?" Rebut Dhafin ketika Izyla mulai memasuki ruang kelas.


"Itu punya gue, mana ih?!!"


"Terus?" Sambil mencoba membuka amplop besar itu


"Gue yang buka Dhafinnnnn!!!!!" Teriak Izyla.


"Diem!" Sambil menutup mulut Izyla  "Ini keknya kita menang." Lanjutnya.


"Apanya?" Dan merebut selembar kertas dari tangan Dhafin. "Omg, demi apapun kita menang Fin," Kata Izyla tak percaya.


"Iyalah kan gue yang ngerjain." Angkuh Dhafin.


"Gue juga kalik," kata Izyla tak mau kalah.


***


Malam hari tiba sebuah pesan masuk di layar ponsel Izyla. Tengah fokus melihat film bersama Dhafin tak sadar ponselnya tengah bergetar. Hingga 5 pesan masuk ia dengan malas mengambil ponselnya yang sedang ia charger. Belum sempat menggerutu sebuah rasa tak percaya muncul dalam dirinya.

__ADS_1



"Siapa?" Tanya Dhafin ketika mendapati Izyla tengah senyam senyum sendiri.


"Kepo." Sambil menjulurkan lidah.


"Yaudah, ini lihat! Lo tadi yang suruh minta nemenin nonton film juga," gerutu Dhafin.


"Iye-iye. Ini juga lihat." Bersamaan itu ponselnya begetar lagi yang kali ini langsung di vidcall Anant.


"Fin gue balik pulang dulu deh. Mau prepare buat besok." Bohong Izyla meninggalkan ruang keluarga milik Dhafin.


Sesampainya dikamar, Izyla langsung mengangkat vidcall nya Anant.


"Aku denger kamu menang lomba yang aku kasih dulu?" Tanya seorang pemuda dari seberang.


"Iya kak, makasih lho infonya. Ini aku juga lagi prepare buat besok." Mengambil sebuah koper kecil di sudut ruangan.


"Wah, aku ganggu dong."


"Enggak kok. Malahan enak gini, ada yang nemenin." Cengir Izyla. Bersamaan itu dengan mereka yang sedang asik vidcall lan seseorang dari balik pintu tiba.


"Nih charger lo ketinggalan." Dan hendak pergi dari sana tapi ia berhenti sejenak. "Pantes ninggalin film vampire, ternyata vampire satunya lagi nelpon," sindir Dhafin.


"Apa sih? Dah sana pergi. Gue mau beres-beres." Usir Izyla yang terdengar kekehan diseberang sana.


"Aku iri sama Dhafin," kata Anant dengan nada serius.


"Iri aja gitu. Bisa tiap hari sama kamu, bermain, bercanda melakukan hal bersama," jelas Anant


"Kalau kakak mau, kakak juga bisa kok." Dengan nada malu-malu.


"Ana mau gak jadi adik perempuanku? Rasanya pengen banget ngelindungi kamu gitu." Mendengar pertanyaan itu entah kenapa hati Izyla sakit. Seketika ia memberhentikan aktifivitasnya. Berpikir sejenak.


"Tentu kak, kenapa tidak? Kan selama ini kakak juga udah aku anggap sebagai kakakku sendiri," jawab Izyla dengan sebuah senyum paksaan.


"Benarkah? Makasih ya."


***


Keesokan harinya Izyla dan Dhafin memilih ijin sekolah karena sore nanti mereka akan berangkat ke benua Eropa. Berdua untuk mengambil hadiah disana.



Dengan memilih memakai baju couple mereka berjalan-jalan disekitar kota BRIZY untuk mengisi waktu luang hingga sore hari. Izyla yang diperbolehkan dandan oleh Dhafin tak ia sia-siakan kesempatan ini.


***

__ADS_1


"Topeng itu buat apa woi?" tanya Rizwan kepada Kenta ketika mencoba sebuah topeng yang berada digudang sekolah.


"Buat kabur." Seketika itupun Kenta melompati jendela gudang sekolah.


***


"Lo kenapa sih? Dari tadi cemberut mulu? Gue kan udah ngijinin lo dandan," Tanya Dhafin bingung melihat perilaku adiknya itu.


"Gue rasa, gue ditolak Fin," gumam Izyla sambil menuju sebuah kursi panjang yang disediakan disana.


"Ditolak siapa?"


"Kak Anant. Kemarin malem dia tanya gue mau gak jadi adiknya bukan ceweknya."


"Berarti bener yang dikata dulu," gumam Dhafin dengan pelan.


"Apa?" Tanya Izyla ketika mendengar Dhafin berbicara dengan tidak jelas.


"Enggak kok, yaudah anggep aja sebagai abang lo sendiri."


"Ngomong aja mah gampang. Guenya kan udah suka dari awal. Disamping itu abang gue kan elo. Kagak mau nambah lagi." Sambil mengerucutkan bibir.


"Tapi suka lo itu bukan sebagai cowok. Suka lo itu karena dia dewasa, perhatian kek gue, abang lo." Sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Au ah pusing gue. Beliin minum sana Fin! Capek," perintah Izyla yang langsung dituruti Dhafin.


***


Disisi lain, Kenta yang baru saja keluar dari sekolah dengan masih memakai topeng tengah melewati sebuah jalan dengan penuh keramaian. Hingga tanpa sadar anak kecil yang melihat Kenta menjadi takut dan menangis ditempat. Kenta yang bimbang mendekati anak itu, anehnya tangisan itu malah menjadi kencang.


Semua mata memandangi Kenta dan anak kecil itu. Hingga sebuah pukulan dari belakang membuat geram Kenta.


"Pergi lo dari sini! Mau nyulik ya? Dengan cara nakut-nakutin gitu?" Tanya seorang gadis sambil berlari menuju anak kecil itu. "Kamu gak papa sayang?" Tanyanya sambil berjongkok mensejajarkan tingginya.


Terkejut dengan siapa yang baru memukulnya ia hanya berdiam diri disana. Hingga gadis itu berniat mendekati Kenta kembali namun langsung ditariklah gadis itu kedalam semak-semak disamping jalan.


"Diam!" Perintah Kenta dengan cara menindihi gadis itu.


"Apa-apaan kau ini? Lepas! Tolonggggg!!!" Teriak gadis itu sekencang-kencangnya ketika pergelangan tangannya ditahan kuat oleh Kenta di samping kepalanya.


Diamati setiap inci gadis itu. Merasa begitu familiar, tapi dia sendiri belum dapat menemukan jawaban untuk dirinya sendiri.


"Lo cantik?" Tanya Kenta tanpa sadar.


"Gue emang cantik dari lahir. Pergi sono!"


Sekitar 5 menit dengan posisi yang masih sama hingga seseorang memanggili nama gadis itu.

__ADS_1


"DHAFINNNN TOLONGIN GUEEE!!!"  Teriak gadis itu yang langsung dilepas oleh Kenta.


"Mau kemana lo?" Tanya Izyla sambil menahan jaket Kenta.


__ADS_2