
Tentang saling menjaga yang membuat
“Ketakutan”
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Beberapa minggu lalu,
“PENGUMUMAN UNTUK NAMA YANG SAYA PANGGIL HARAP DATANG KE RUANG KEPALA SEKOLAH. IZYLA OCCIANO AZALEA DAN ALDIANO DHAFIN PRATAMA.”
Mendengar pengumuman itu seketika Dhafin yang berada dikantin kembali menuju kelas menjemput Izy. Sedangkan Izyla, dia tengah menunggu Dhafin datang dan pergi bersama-sama. Sesampai di ruang kepala sekolah mereka mendapat beasiswa pindah ke sekolah swasta milik golongan elit karena memenangkan lomba karya tulis ilmiah. Dengan fasilitas yang menjamin masa depan itu bagaikan mimpi di siang bolong yang menjadi kenyataan bagi Izyla dan Dhafin.
Hari terakhir di sekolah, merekapun berpamitan kepada teman serta guru-guru yang sudah mengajar dan menemaninya selama ini. Safira Citra Kirani sebagai teman sebangku dan sahabat Izyla apalagi rumah yang berjarak 5 menitan itu menangis ditinggal sendiri. Dia bagaikan ibu bagi Izyla yang selalu mengalah, dewasa akan sifat kekanak-kanakan, manjanya Izyla. Hampir seperti Dhafin yang berperan sebagai abangnya.
“Zyl, taruhan yuk.”
“Ogah! Dosa, kek judi.”
“Ih enggak pake uang, jadi gak judi,” Jelas Dhafin.
“Gitu? Yaudah. main apa?”
“Tebak-tebakan koin.”
“Ok. Taruhannya apa?” tanya Izyla penasaran.
“Pikir nanti aja, sekarang kita ke market itu dulu yuk sambil duduk,” Kata Dhafin mengarah ke mini market dekat perumahan mereka.
__ADS_1
“1,2,3.” hitung Dhafin.
“Angka!” jawab mereka serempak. Dan ketika dibuka benar semua.
“Angka.” tebak mereka lagi barengan dan kali ini yang muncul adalah gambar. Sekitar 3 menit jawaban mereka sama hingga kali ini jawaban mereka berbeda dan dapat disimpulkan Dhafilah yang menang.
“Ah curang,” Gerutu Izyla sambil mengerucutkan bibirnya yang kecil dan membuat pipi chuby miliknya tambah berisi.
“Ih gemez, jadi pengen cubit ginjalnya lho.” goda Dhafin. Seperti biasa, itu adalah kata-kata yang sering Dhafin gunakan ketika gemes dengan tingkah Izyla yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri.
“Gak denger, aku merem,” Balas Izyla sambil menutup matanya dengan kedua tangan. “Eh iya, apa taruhannya?” lanjut Izyla yang sadar dan membuka mata.
“Besok gue kasih tau.”
“Ah nunda mulu lo mah. Peraturan masih sama ya, gak boleh minta sesuatu yang mengeluarkan uang. Kecuali aku yang minta.” Cengir Izyla. Yang hanya dibalas anggukan oleh Dhafin, tanda mengerti.
***
Dini hari sekitar pukul 3, tiba-tiba ponsel Izyla berdering. Menandakan sebuah pesan masuk. Bersamaan selesainya ia melakukan shalat tahajud iapun memeriksa ponselnya.
Tanpa babibubebo Izyla mendatangi rumah Dhafin yang berada di depan rumahnya. Mereka sama-sama tinggal di sebuah perumahan Kota BRIZY.
Dibukalah pintu itu oleh seseorang yang sudah dianggap abangnya sendiri.
__ADS_1
“Kok gitu?” tanya Izyla dengan tiba-tiba.
“Apanya?” tanya Dhafin dengan bingung.
“Itu, taruhannya.”
“Ya biar, intinya itu. Kenapa? Mau tenar? Mau caper? Atau mau ngebantah abang? Atau jangan-jangan mau ninggalin terus cari yang lain? Selingkuh!” dengan nada sok serius yang dikala itu langsung mendapat jeweran Izyla.
“Ngaca dong.” Dan menarik Dhafin menuju kaca besar. “Gue mau cari yang setia, gak kek lo playboy,” Jelas Izyla dengan greget.
“Aku setia kok sama istri pertamakuhhh.” Goda Dhafin yang dimaksud adalah Izyla.
“Setia dari hongkong! Setia kok udah punya pacar.” sindirnya
“Setialah, buktinya gak ninggalin yang pertama. Ya gak neng?” Sambil mengerlingkan sebelah matanya. Yang langsung membuat Izyla pergi dari rumah itu.
“Habis ngomong sama siapa Fin?” tanya Rina-Ibu Dhafin.
“Leak Bali mah.”
“Besok ayah anter ke pskiater ya Fin. Pagi-pagi udah halu aja lo.” Canda Deon-Ayah Dhafin
***
*Demi lo dek, gue gak mau ada masalah di sekolah baru kita. Dengan tampilan sederhana tanpa menampakkan kecantikanmu ini adalah cara agar tidak terlalu banyak mengundang perhatian. Dan setidaknya tidak ada pembullyan akan masalah itu.
-Alasan taruhan*.
__ADS_1