
"Izylaaaa," teriak Dhafin sambil membuka sebuah pintu rumah berwarna coklat.
"Apa?" Tanya Izyla dambil membawa beberapa cemilan untuk dibawa di ruang keluarga.
"Eh Dhafin, sini gabung," kata Liana yang juga ada disana.
Cepet juga si posessif tiba, batin Kenta yang sudah berada disana.
"Kok bisa?.."
"Tadi adek dibantu kenalan ini pas ada yang mau nyulik," jelas Liana. "Terus dianter sampai pulang." Lanjut Liana.
"Lo dari mana aja? Biasanya bareng," sindir Kenta serasa tak berdosa karena dialah yang membuat ulang bermain di ruang siaran.
"Tadi Dhafin dipanggil kepala sekolah kok," jelas Izyla.
***
"Maaf tuan, tadi tiba-tiba ada seorang cowok yang bantu cewek itu," jelas pemimpin penculik itu.
"Kalian benar-benar gak becus. Gue bayar tinggi tapi nyulik cewek kecil aja gak bisa. Apa gunanya badan besar kalian, hah?" Bentak Anant disebuah ruangan redup. "Gue gak mau tau, dalam 1 minggu kalian harus bawa tuh cewek kehadapan gue." Lanjutnya dan berlalu pergi.
***
"Kent, mau gak lo jadi temen gue?"
"Lo-gue? Bukan aku-kamu?" Tanya Kenta bingung.
"Kan udah akrab, jadi gak usah formal banget." Cengir Izyla.
"Tapi gue suka aku-kamu tuh." Goda Kenta yang langsung ditinggal Izyla.
Aneh bener tuh cewek, batin Kenta.
"Habis dari mana?" Tanya Dhafin ketika berpapasan dengan Izyla.
"Ambil buku," yang tiba-tiba disampingnya udah ada Kenta.
__ADS_1
"Si possesif sibuk ternyata," sindir Kenta ketika melihat Dhafin tengah bermesra-mesra dengan seorang gadis-Wina.
"Bagus Zyl." Sambil mengelus kepala Izyla yang membuat gadis itu kebingungan. "Udah punya babu buat mbantuin lo. Babu, tolong anter semua buku ini ke ruang IPS 1 ya," sindir balik Dhafin yang segera ditambahlah beberapa tumpukan di tangan Izyla ke tangan Kenta.
"Buset dah lo ngatain gue babu?" Tanya Kenta berniat akan menghajar Dhafin yang segera direlai Izyla.
"Makasih ya Kent, mau temenan?" Tanya Izyla ketika Kenta akan kembali ke kelasnya.
"Ogah! Nyusahin mulu," balasnya dan pergi meninggalkan Izyla sendiri di sana.
"Omg, Izyla!!!" Teriak Naina
"What?"
"Tadi lo sama Kenta? Kok bisa?"
"Ya bisalah,"
"Ceritain dari awal kalian bertemu. Please," kata salah satu beberapa gerombolan para gadis yang sudah mengerubungi Izyla. Tanpa ditambahi atau dikurangi Izyla menceritakan semuanya kepada teman-temannya.
"Jadi Kenta masih nolak lo jadi temennya? Tapi kok mau disuruh bawain buku lo?" Pikir Naina dengan serius. "Apa jangan-jangan maunya tuh lebih dari temen?" Lanjutnya.
***
"Ini minumnya sayang," kata Dhafin sambil membawa 2 minuman dingin.
"Ini siapa?" Tanya Wina ketika memergoki beberapa foto cewek yang ada diponsel Dhafin.
******, itu target gue udah tercyduks aja, gerutu Dhafin dalam hati.
"Anu sayang... itu,-"
"Itu siapa?" Saut Wina.
"Mantan, iya mantan. Itu foto mantanku pas aku gak sekolah disini," jelas Dhafin penuh kebohongan. "Jadi gini, aku ceritain ya.. dulu itu aku gak sekolah disini. 1 tahun kemudian karena menang lomba karya tulis aku dan Izyla dapet beasiswa sekolah disini. Dan itu ternyata mempertemukan aku dengan bidadari cantik kek kamu." Goda Dhafin sambil mencolek dagu Wina yang seketika membuat pipi Wina memerah.
"Iya kak, aku percaya." Sambil tersenyum malu-malu
__ADS_1
"Gitu dong, kan cakep."
***
"Dhafinnnnnnn!!!!" Teriak Izyla sambil memasuki sebuah kamar minimalis
Beberapa waktu kemudian muncullah seorang pemuda yang baru saja menyelesaikan mandi. Dia tengah mengeringkan rambut dengan menggesek-gesekkan handuk dirambutnya.
"Tadi ada telpon, berisik gue angkat," kata Izyla sambil memberikan sebuah ponsel kepada Dhafin.
"Siapa? Gak tau, lo namai 'berhasil' kalo gak salah," jelasnya.
"Oh wina," gumam Dhafin.
"Itu tuh maksudnya udah berhasil dapetin si Wina. Target masuk dalam perangkap," jelas Safira yang tiba-tiba ada disana membuat sepasang kakak beradik itu kebingungan. "Tadi gue kerumah lo kata tante lo kesini yaudah gue nyusul," jelas Safira tanpa mereka bertanya. "Btw, nelpon ngapain tuh bocil?"
"Kepo," balas Dhafin.
"Yeee, gue mah tanya Izyla. Bukan lo." Sambil melempar tas selempangnya mengenai kepala Dhafin.
"Gak tau, tadi langsung ditutup. Anehnya malah tanya aku," jelas Izyla kebingungan.
"Tanya gimana?"
"Tanya kalau aku lagi dimana gitu, yaudah aku jawab lagi dikamarnya Dhafin. Ehhh langsung dimatiin sepihak," gerutu Izyla yang langsung mendapat tawaan Safira dan kepanikan Dhafin untuk menghubungi Wina kembali.
"****** gue, si Wina kagak mau ngangkat," gerutu Dhafin.
"Emang kenapa Fin? Kalian marahan?"
"Tadi, sempet. Tapi gara-gara lo kayaknya akan ada badai lagi." Sambil mondar-mandir gak jelas untuk mendapat jawaban Wina.
"Jangan gitu Fin, adik gue kan masih polos. Dulu yang suruh ngelarang gue ajarin sesuatu siapa? Lo sendiri kan? Yaudah, kena batunya," kata Safira sambil mengelus-elus kepala Izyla yang bagaikan adik kecil.
"Emang gue salah ya bilang gitu? Kan gue jujur kalau lagi di kamar Dhafin," tanya Izyla khawatir.
"Enggak sayang, malahan itu baik. Kan udah jujur."
__ADS_1
Yang segera itu ditinggallah Izyla dan Safira diruangan minimalis itu. Sedangkan Dhafin, ia pergi mengendarai motor menuju rumah Wina sendirian